Darkest Dream

Darkest Dream
Kembali dari kematian untuk keduakalinya


__ADS_3

"Emi..." lirih Ramos hampir tak terdengar, bibir nya bergetar saat menyebut nama sang adik yang sangat dia rindukan itu.


"Pasti kan serum itu kalian kembang kan lagi dengan baik, aku tidak ingin kehilangan nya. Atau kita bisa bertukar, kau kehilangan adik mu. Dengan begitu kita seri..." Brian melangkah keluar tanpa peduli pada Ramos yang terjatuh berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat.


Sebelum keluar, Brian berbalik lalu menatap kedua belas orang lainnya. "Itu juga berlaku untuk kalian semua. Ah ya... putri kecil mu sangat cantik dan menggemaskan. Aku berencana untuk mengadopsi nya jika kedua orang tuanya sudah ku kirim ke akhirat. Dan kau Sergan, putra mu baru saja memenangkan olimpiade sains. Dia pasti sangat berguna untuk ku kelak." Tubuh Eun dan Sergan lemas seketika, saat mendengar rencana-rencana sadis sang tuan namun tak bisa berbuat apa-apa.


Brakk


Suara dentuman pintu tertutup tidak membuat mereka lega, ada 6 orang tengah berjaga dengan setia terus menodongkan senjata ke arah mereka.


Ramos bangkit di sisa keputusan asa an nya, lalu menghampiri brankar Lizzie. Entah apa yang dia pikir kan, namun otak cerdas nya mulai berpikir alternatif lain.


Dengan sisa dua ampul serum, Ramos memasuk ke dalam spuit hingga melewati batas yang seharusnya. Eun melotot melihat kenekatan Ramos, berusaha mencegah nya.


"Apa kau gila, nona muda secara medis bahkan awam. Sudah resmi di nyatakan meninggal dunia. Jangan membuat mu mati sia-sia dengan melakukan kekonyolan ini, aku tidak masalah jika aku mati. Sungguh..." mohon Eun mengiba.


"Eun benar, Rams. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, mati di bunuh atau di lempar keluar dari benteng ini. Artinya sama-sama menjemput kematian, aku sudah terlalu tua untuk memeras otak rapuh ku." Ujar Sergan pasrah. Dia harap putranya segera sadar keadaan dan pergi menjauh dari kota.


"Tidak! aku tidak ingin adik ku berakhir sama dengan ku! aku harus melakukan sesuatu, menyingkir lah jika kalian tidak bisa memberi ku solusi." Teriak Ramos mulai menggila. Siapa yang tidak gila, Emily adalah keluarga nya satu-satunya. Mereka yatim piatu sejak sang adik berusia 8 tahun. Dia lah yang menjadi ibu, ayah sekaligus kakak laki-laki bagi Emi adik nya. Dia tidak rela.


Dengan hentakan kuat, ramos menyingkir kan kedua rekan nya hingga tersungkur. Kekuatan orang yang sedang di landa kemarahan memang berbeda.


Sekali ayunan, ujung jarum sudah menancap sempurna di dada Lizzie. Tepat nya di jantung nya, lalu di susul oleh defribrillator dengan volt maksimal. Ramos layaknya orang kesetanan, keringat dingin mengucur deras di kening nya.


"Kembali lah nona! kehidupan keluarga kami ada di detak jantung mu.. Aku mohon.. kasihanilah kami.." ucap Ramos terdengar begitu lirih dan putus asa, permohonan nya bukan hanya akan menyelamatkan sang adik, namun juga seluruh keluarga kedua belas rekan senasib nya.

__ADS_1


Melihat bagaimana Ramos mulai menggila, pria itu terus menempel kejut jantung tanpa henti. "Cukup Rams, tubuh nya bisa mengalami kerusakan jika kau terus melakukan nya." Cegah Daniel memeluk paksa rekan nya yang mulai terlihat tak waras. Dibantu oleh yang lain, akhirnya pertahanan Ramos kalah. Pria itu menangis tergugu di lantai tanpa peduli pada harga diri nya sebagai seorang pria.


Rekan yang lain hanya bisa tertunduk dalam diam dan tangis yang sama, memikirkan sanak keluarga yang sebentar lagi akan mendapatkan dampak dari kegagalan mereka.


Suasana ruangan tersebut tiba-tiba berubah menjadi hening, mencekam dan terasa begitu dingin. Hingga sebuah suara yang membuat mereka semua hampir terkena serangan jantung karena terlalu syok.


"Kau terlalu lemah, Ramos. Tidak ku sangka Casanova seperti mu, ternyata bermental waria." Semua tertegun, suara yang sangat asing di telinga membuat bulu kuduk mereka mendadak berdiri.


Nona muda mereka jadi hantu kah? suasana mendadak mencekam, sampai seorang pengawal berteriak histeris penuh rasa syukur lalu di susul oleh rekan-rekan nya. Mereka berlutut di lantai seolah sedang menyembah seorang raja.


"Ya Tuhan... terimakasih.. selamat datang kembali nona, kami senang nona berhasil menemukan jalan pulang." Ucap seorang pria bertubuh tinggi besar sambil terus berlutut dan menunduk hormat.


"Bisa bantu aku, dan kalian. Berhenti lah melakukan itu, aku bukan Tuhan jadi tidak sepatutnya di perlakukan seperti itu." Titah Lizzie tak terbantah. Dengan sigap keenam orang tersebut bangun dan mulai menghampiri Lizzie.


"Maaf jika saya lancang nona, mari saya bantu.." Sementara Ramos dan para rekan nya melongo melihat pemandangan penuh keajaiban yang sedang terjadi di hadapan mereka. Bagaimana tidak, dua kali gadis itu kehilangan detak jantung nya untuk waktu yang tidak sebentar. Dua kali juga, Tuhan membawa gadis itu dari kematian nya.


Ramos mendekati ranjang Lizzie dengan sedikit ketakutan menjalar dalam benak nya. "Kau harus melihat kaca setelah ini, Ramos. Penampilan mu ini bisa membuat pamor Playboy mu meredup sempurna." Hampir saja Ramos menelan stetoskop yang akan dia tempel kan di telinga nya.


"Candaan anda terdengar sangat lucu nona muda, aku sampai hampir saja tersedak stetoskop ku ini." Kekeh Ramos melirik liar kesekitar nya. Tatapan membunuh para wanita mulai mengarah pada nya. Selesai sudah nasib junior nya kalau begini.


"Apa yang anda rasakan nona?" tanya Sergan menyela situasi tak kondusif tersebut.


"Aku baik Sergan, senang bisa di tangani oleh dokter senior dengan banyak prestasi kerja seperti mu." Puji Lizzie tulus, meski wajah nya tetap terlihat datar. Sergan tersenyum menanggapi pujian Lizzie, dia tidak ingin salah ucap. Melihat bagaimana malaikat maut saja tunduk pada gadis itu, dia mulia berpikir rasional sekarang. Masalah jangan di cari, tidak di cari saja. Kini nasib nya setiap hari selalu di todong senjata.


"Panggilkan Brian kemari, Ted." Ted mengangguk kemudian keluar tanpa di perintah dua kali. Kaki tangan Brian tersebut sangat lah setia. "Dan bisa kah kalian semua keluar dari ruangan ini, udaranya sedikit sesak. Biarkan mereka melakukan tugas tanpa merasa tertekan dengan keberadaan kalian." Tegas Lizzie menatap para penjaga.

__ADS_1


"Tapi nona...'


"Apa aku terdengar seperti sedang mengajakmu berdiskusi, Rex?" pria yang di panggil Rex tersebut terdiam tak lagi berani menjawab.


"Baiklah nona, kami akan berjaga di luar." Mereka keluar walau sedikit keberatan, namun melawan kehendak sang nona muda. Tentu tak bisa.


"Berapa dosis serum yang kau berikan untuk membawa ku dari kematian, Ramos?" susah payah Ramos menelan ludah nya yang terasa kaku di tenggorokan.


"Satu spuit penuh..." jawab Ramos dengan kikuk.


"Seharusnya kau melakukan itu sejak aku baru tiba. Kau membuang banyak waktumu..." balas Lizzie ambigu. Ramos tercenung menatap Lizzie intens kemudian menatap Sergan meminta penjelasan.


"Jadi sekarang apa yang anda rasakan nona?" ulang Sergan. Dia tau kemana arah perkataan sang nona muda, sayang sekali otak cerdas Ramos yang sudah di penuhi lendir surgawi, mulai meredup.


"Aku baik, apa ada pria lain yang membawaku kemari selain Brian!" Sergan mengangguk pelan.


"Baiklah, bisa lepas kan benda sialan ini dari tangan ku.." tunjuk Lizzie pada abocath infusnya yang baru saja di pasang beberapa menit lalu.


"Anda yakin? ini hanya untuk memberikan nutrisi bukan obat lain atau semacamnya." Jelas Sergan terlihat ragu.


"Apa maksudmu aku kekurangan gizi?" skak! Sergan terjebak oleh ucapan nya sendiri. Pria tua itu terlihat salah tingkah karena terus di tatap tak berkedip oleh Lizzie.


"Tidak nona. Anda terlihat sangat baik terlepas dari apa yang terlihat. Anda sangat sehat." Tegas Sergan. Yang di maksud Sergan adalah sisa luka lebam yang masih terlihat di wajah Lizzie.


"Bagus. Artinya aku tidak perlu menambah luka lain di tubuh ku, bukan?" Ramos segera bertindak, dengan cekatan pria itu melepaskan jarum infus dari tangan Lizzie. Dia tak ingin menambah daftar masalah baru hanya karena tidak menuruti kehendak sang nona muda.

__ADS_1


"Terimakasih Ramos. Tidak heran kau sangat di Kagumi oleh para wanita di basecamp ini. Ketangkasan mu pasti tidak di ragu kan lagi, benar bukan..?" ucap Lizzie tersenyum miring. Ramos terlihat melengos ke sembarang arah. Terpojok oleh situasi ternyata sama menakutkan seperti di todong senjata api.


Klek


__ADS_2