
"Apa gadis itu sudah ada perubahan?" tanya seorang pria, pada salah seorang dokter yang dia tugaskan untuk merawat kedua pasien spesial nya itu.
"Gadis itu bahkan tidak merespon obat yang ku berikan. Seperti nya, trauma itu terbawa hingga ke alam bawah sadar nya. Ibunya sudah mulai membaik, ayah gadis itu terlihat begitu rapuh, namun juga begitu tegar di saat bersamaan." Dokter Ben menatap ke arah Jeff yang terlihat begitu datar. Matanya masih menatap nanar, pada gadis tak berdaya di balik kaca besar didepan nya.
"Kau ingin aku melepaskan nya?" pertanyaan Ben sontak membuat Jeff berbalik dengan cepat. Ben terkekeh, kalimat pancingan nya ternyata ampuh menarik perhatian Jeff.
"Kau sudah bosan hidup atau bagaimana?" Jeff begitu kesal dengan kalimat nyeleneh sahabat nya itu.
Ben tergelak mendengar ucapan sahabat nya, kini dia mengerti, kenapa Jeff begitu kekeh menyelamatkan gadis itu. Bahkan harapan hidup nya yang hanya 0 koma sekian persen.
"Kau menyukainya, dude?" Jeff menatap tak suka mendengar pertanyaan konyol Ben. Meski tak konyol-konyol amat. Nyatanya, hatinya terpanah oleh pesona gadis 16 tahun tersebut.
Sayangnya, dia terlalu lemah dan tak punya keberanian dan kendali apapun. Kini dia sungguh menyesali nya, dan berniat untuk memperbaiki kesalahannya. Dengan cara merawat Kalila hingga pulih kembali, tak peduli jika harus menukar nya dengan nyawanya sendiri.
"Konyol!" ketus Jeff mengelak. Namun semakin membuat Ben lebih gencar menggoda nya.
"Kupikir kau menyukai nya, dude. Kau memberikan perawatan maksimal kelas VVIP dan menjaganya seperti berlian." Ben menghela nafas panjang, kemudian beralih menatap Kalila dengan pikiran yang rumit.
"Gadis itu sangat cantik, terlepas dari apa yang menimpanya. Tidak ada satu pun cela padanya" tukas Ben berkomentar, ekor matanya melirik sahabat nya.
Rahang Jeff mengeras, mendengar pujian Ben pada Kalila.
"Kau benar-benar cari mati rupanya" Jeff meninju lengan Ben dengan sepenuh hati, pria itu meringis menahan ngilu di lengannya.
__ADS_1
"Kau ini, niat sekali menyakiti ku. Kalau tanganku kenapa-kenapa bagaimana? siapa yang akan merawat kekasih mu itu?" Omel Ben kesal, tangan kirinya terus mengusap lengan kanannya.
"jadilah pria sejati" cetus Jeff mencibir.
"Hei, perhatikan ucapan mu!" seru Ben tak terima. "Aku hanya gagal menikah bukan berarti kelakianku bermasalah" Bantah Ben menatap sebal pada sahabat tak berakhlak nya.
Jeff mencebik mendengar pembelaan Ben. "Itu artinya ada yang salah dengan mu, makanya kau di tinggal kabur oleh kekasih j*a*langmu itu." Ujar Jeff tak mau kalah.
Ben terdiam, bukan karena tersinggung oleh ucapan lugas sahabat nya. Namun mengingat perbuatan mantan kekasih nya, yang rupanya hanya memanfaatkan dirinya saja. Setelah mengeruk uang nya hingga jutaan dollar, Sonia kabur bersama pria lain yang di sinyalir adalah kekasih gelapnya. Atau mungkin saja mereka sudah berhubungan, sebelum Sonia menjalin hubungan dengan nya.
Menyadari sahabat nya terdiam akibat ucapan, Jeff merasa sedikit tidak enak. Bukan nya bermaksud menyiram luka lama sahabatnya, tapi dirinya masih menyimpan dendam pada wanita itu.
Setelah terdiam beberapa waktu, Jeff akhirnya angkat bicara. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud......" kalimat penyesalan Jeff terpotong oleh intrupsi Ben.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Maaf, bukan maksud ku seperti itu. Aku hanya ingin menyampaikan pendapat ku saja. Maaf, jika itu membuat mu tidak nyaman."
Aslan menatap datar pada wanita yang sudah beberapa bulan ini, menjadi rekan kerja nya dalam satu shift yang sama.
"Istri ku manja atau tidak itu bukan urusan mu, Beth. Aku suka sikap dan sifatnya, apapun itu, jadi berhentilah mencoba menarik perhatian ku dengan menjelekkan istriku." Elisabeth terlihat gemetar, selama menjadi partner kerja Aslan, ini pertama kalinya pria itu berkata kasar dengan nada yang tidak enak di dengar.
"Seperti nya kita sudah tidak cocok berada di shift yang sama. Aku tidak suka bekerja dengan orang yang selalu mencari keburukan orang lain, sebagai bahan tertawaan dan leluncon untuk merendahkan nya." Aslan melanjutkan langkahnya meninggal Elisabeth yang masih mematung ditempatnya.
__ADS_1
Aslan tau, jika Beth menyukai nya dari sejak pertama dirinya bekerja di pabrik tersebut. Namun Aslan tidak pernah menggubris segala macam bentuk perhatian gadis itu. Namun rupanya Elisabeth tidak menyerah, bahkan saat tau jika dirinya telah menikah. Beth selalu mencari celah untuk memojokkan istri nya.
Setiap mereka istrahat makan siang, Beth selalu mengomentari isi kotak bekal Aslan. Yang di nilai nya tidak bergizi dan tidak kreatif. Meskipun menggunakan kata-kata yang sehalus mungkin, tetap saja Aslan peka. Kemana arah pembicaraan itu berakhir, jika dia meladeni nya.
Seperti hari ini, Beth terang-terangan merendahkan istri nya. Dengan mengatakan jika Ashley, hanya bisa menghabiskan jerih payah suaminya tanpa memikirkan kebutuhan Aslan. Aslan di bekali dengan makanan tidak layak makan, untuk orang yang butuh energi yang cukup, sebagai seorang buruh.
Meski di ucapkan dengan nada penuh candaan, tetap saja Aslan kesal. Apa-apaan, istri nya di jadikan bahan leluncon, tentu saja dia tidak terima.
Beth menghentakkan kakinya kesal, menatap punggung lebar Aslan hingga menghilang dari pandangan nya.
"Awas saja! akan ku buat kau bertekuk lutut padaku, hanya buruh rendahan saja, sombong. Jika kau tau aku adalah anak pemilik pabrik ini, aku yakin kau akan meninggalkan istri gendut mu itu demi diriku." Oceh Beth penuh percaya diri. Seringai licik terbit di bibir berbisanya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Sky membaca beberapa artikel tentang asal usul keluarga nya, Sky begitu penasaran. Bagaimana bisa putri nya juga sang adik, bisa memiliki keunikan tersendiri. Dan itu sungguh membuat nya resah.
"Dad?" suara serak Cloey dari arah tempat tidur, membuat perhatian Sky teralihkan. Segera pria itu menutup laptopnya dan beranjak menghampiri sang istri.
"Kenapa kau bangun, hmmm? ingin sesuatu?"" tanya Sky lembut.
"Tidak, aku ingin tidur dalam pelukanmu. Apa kau masih sibuk, dad?" Mata Cloey yang setengah terpejam, membuat Sky terkekeh pelan.
"Baiklah, my queen. As you wish, honey." Sky membaringkan tubuhnya di sisi sang istri dan menarik pelan tubuh montok Cloey ke dalam dekapan nya. "Tidur lah, sweet heart, aku akan menemanimu hingga kau tertidur." Sky mencium pucuk kepala istri nya sayang. Di tatapnya jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Lalu tatapan nya beralih pada laptop yang tertutup rapat. Matanya pun sudah mulai di jemput oleh rasa kantuk, beberapa kali menguap, akhirnya pertahanan Sky runtuh juga.
__ADS_1
Sky tertidur tanpa sempat menyelesaikan pencarian nya. Seperti nya, rasa penasaran nya kalah telak oleh rasa ngantuk yang luar biasa.