
"Dorr..! Mati kau!" seru seorang pria menepuk pundak seorang gadis yang tengah melamun di depan loker nya.
Delikan tajam mata nya membuat sang pria cengengesan ngeri.
"Tatapan mu selalu saja membuat orang langsung terserang asma.." oceh nya kesal.
"Seharus nya aku yang memperlihat kan wajah kesal. Kenapa jadi kau yang terlihat lebih galak dari ku!" dengusan Zion kembali terdengar, pria itu tak pernah menang jika beradu argumen dengan sahabat nya itu. Apa lagi adu otot, jelas diri nya kalah jauh. Remahan seperti nya tidak akan mampu meski hanya membuat sang sahabat memar barang sesenti pun.
"Berhenti lah bersikap galak, kau akan kesulitan mendapat kan kekasih nanti." Nasihat Zion sok bijaksana.
"Aku tidak butuh kekasih. Bukan kah kau sudah memenuhi kebutuhan ku, baik sebagai sahabat, tameng dan kekasih palsu. Kau segala nya Zion, sayang." Rea tersenyum devil menatap sahabat nya tersebut. Zion mencibir mendengar kalimat menyebalkan dari mulut Rea, sahabat nya.
"Kau tidak bisa terus-terusan memanfaat kan sahabat tampan mu ini selama nya. Coba lah berkencan, sebelum semua orang berpikir jika kau benar-benar kekasih ku. Kau akan membuat nilai jual ku menurun." Keluh Zion seraya menyarankan sebuah nasihat.
"Bukan kah kau selalu suka jika menjadi kekasih pura-pura ku? ku lihat binar dollar menyala di kedua bola mata mu yang sangat mata duitan ini." Ungkap Rea menunjuk ke arah mata Zion dengan dua jari nya sekaligus. Zion tersenyum kikuk, siapa yang tidak suka uang. Begitu lah pikir nya. Rea membayar nya mahal untuk menjadi kekasih pura-pura nya, jika akan menghadiri berbagai pesta. Siapa yang bisa menolak pundi-pundi tersebut, hanya orang gila saja yang tidak butuh uang.
"Aku hanya tidak suka membazirkan rejeki, kau tau aku ini sahabat yang baik. Memanfaatkan apa yang bisa di manfaatkan selagi bisa." Setelah mengatakan kalimat tak tau malu nya, Zion tergelak lalu merangkul bahu Rea yang memasang wajah tak bersahabat pada nya.
"Ck! bisa kah kau tidak selalu sejujur ini? kau terlihat seperti pemuda dari kalangan menengah ke bawah jika terus memoroti ku. Aku ini wanita, apa kau tidak malu..!" desis Rea menatap jengah pada sahabat nya itu.
Zion hanya tersenyum bodoh, memperlihatkan wajah nya yang semakin menyebalkan di mata Rea.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Seorang wanita tengah merangkai bunga di dalam sebuah pot guci, di atas meja bundar depan tangga menuju lantai dua rumah nya.
Tak lama kemudian lengan kokoh merangkul nya dari belakang dengan begitu posesif.
"Dad? bisa kah jangan menggangguku dulu..bunga ku akan layu jika tidak segera ku susun rapi di dalam pot ini." Ucap sang istri memperingatkan.
Sang suami berdecak sebal sambil memandang pot beserta bunga mawar yang sudah menyita perhatian istrinya. Dasar bunga menyebalkan batin nya mengumpat kesal.
"Aku tau kau mengumpati bunga kesukaan ku, dad." Tegur sang istri datar.
"Bern, hentikan melakukan itu. Atau duri mawar ini akan menancap sempurna pada junior mu." Ucapan penuh peringatan tak berperikemanusiaan itu membuat dengusan Bern semakin keras.
"Kau kejam, honey." Bern kembali merajuk. "Malam ini aku ada kencan, jadi jangan merindukan ku. Oke?" Bern kembali mengingat kan akan jadwal kencan rutin nya dengan sang putri.
"Ah ya, aku hampir saja lupa. Apa putri mu yang menyebalkan itu sudah menyiap kan gaun untuk kencan kalian nanti malam?" tanya Lizzie memastikan. Dia hampir saja lupa jika ini sudah minggu kedua dalam bulan itu. Artinya itu adalah jadwal kencan sang suami dan putri sulung nya.
"Hei, honey! perhatikan ucapan mu.." tegur Bern dengan nada tak suka. Berea adalah putri kesayangan sekaligus kebanggaan nya. Tidak ada yang boleh mengatai gadis kesayangan nya itu, bahkan walau itu adalah ibu nya sendiri.
Lizzie berdecak mendengar nada protes dari suami nya.
__ADS_1
"Kalian akan berkencan di mana kali ini?" ujar Lizzie mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Kami akan jalan-jalan ke mall, menonton film Disney lalu setelah itu makan." Jelas Bern nampak begitu bersemangat, "mungkin akan berbelanja sedikit kebutuhan putri kecil ku." Lanjut Bern dengan wajah berbinar.
"Aku sudah terlalu tua untuk di sebuah gadis kecil, dad." Suara protes dari arah pintu depan membuat sepasang suami istri itu terkejut, kemudian menoleh.
"Kau sudah pulang?" tanya Lizzie dengan tatapan menyelidik. Bern segera pasang badan.
"Kau lupa honey ? kami akan berkencan, putri besar ku ini butuh waktu 2-3 jam untuk berdandan. Jadi hari ini tidak masalah, lagi pula ini baru masuk tahun ajaran baru. Biar kan putri ku menikmati masa remaja nya tanpa perasaan tertekan." Bela Bern seperti biasa nya.
Lizzie memejamkan kedua matanya sejenak, menarik nafas dalam-dalam hingga rongga dada nya terisi penuh. Hembusan nafas panjang, menandakan diri nya tidak bisa bersepakat dengan pembelaan sang suami. Bern segera menyelamatkan kedua nya, karena Bern tidak bisa memilih siapa yang harus dia bela.
"Sweetie, beristirahat lah di kamar mu. Miska akan membantu mu bersiap nanti." Titah Bern berusaha menyelamatkan situasi agar tetap kondusif.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Berea menaiki tangga menuju kamar nya di lantai atas. Dia pulang bukan tanpa alasan, tadi dirinya baru saja beradu otot dengan murid kelas tetangga. Adu ketangkasan itu terjadi akibat Berea tak suka di perintah, arti nya gadis seperti Berea sangat tidak suka di tindas atau melihat penindasan terjadi di hadapan nya.
flashback
Suara tawa di ujung lorong sekolah menguar hingga ke pendengaran Berea. Diri nya baru saja keluar dari toilet untuk mencuci wajah. Jika di tanya kenapa mencuci wajah di jam pelajaran sedang berlangsung, jawaban nya sederhana. Berea sering merasa ngantuk saat mengikuti jam pelajaran, di tambah guru mata pelajaran yang menerangkan materi layak nya orang yang tengah mendongeng.
"Berikan tugas mu sekarang, kalau tidak... kau bisa melakukan nya lagi, kali ini pasti akan terasa lebih nikmat. Aku sudah menampung cairan berharga ku selama satu minggu penuh." gelak tawa kembali menggelar, Berea memilih berdiam di ujung belokan lorong. Gadis itu memasang tampang datar, tatapan menohok tepat ke arah seorang gadis yang kini tengah menjadi bahan perundungan. Dua diantaranya adalah gadis yang sangat dia kenal karena berasal dari kelas yang sama dengan nya. Tiga orang lagi berasal dari kelas sebelah kelas nya. Tiga pria badung yang cukup terkenal di sekolah nya, dengan kadar ketampanan dan kekayaan yang mampu menghipnotis para betina di sekolah elit tersebut.
__ADS_1