
"Apa kau yakin dengan keputusan mu? bukan kah ini akan mengorbankan seluruh hidup mu..meskipun kau sedikit tidak berguna, namun sangat di sayangkan saja. Jika salah satu keturunan bibi Ashley menjadi seorang perjaka hingga tua." Morgan mengelus dadanya dengan gaya dramatis. Kalimat sang kakak sepupu serasa mencekik leher nya.
"Berhenti lah mengatai adik mu, Lee." Tegur Cloey yang sedari tadi hanya menyimak apa saja obrolan kedua nya.
"Aku hanya mengatakan fakta, bukan kah lebih baik dari pada aku berbohong. Nyata nya anak mommy yang satu ini sedikit berbeda, seharusnya kita sudah memeriksa nya sejak dulu. Hormon apa yang kurang di dalam tubuh nya, sehingga membuat jiwa kelakian nya tidak menonjol sama sekali." Bela Leah tak mau kalah. Ashley menatap jengah keponakan nya. Meski pikiran nya pun sama.
Mata nya menyoroti sang anak dari atas hingga berhenti tepat di tengah. Morgan yang menyadari tatapan tak biasa sang ibu segera mengambil bantal sofa, kemudian menutupi aset terlarang nya.
"Jangan menatap ku begitu mom! aku masih normal!" protes Morgan tak suka dengan tatapan penuh makna sang ibu.
"Cih! siapa yang akan tertarik bercinta dengan mu jika kau masih menggunakan ****** ***** kaum hawa itu. Evaaa!" Seru Ashley dengan suara nyaring, membuat seorang wanita muda berjalan tergesa-gesa menuju ruang tengah.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya..?" ucap nya menunduk hormat.
"Lekas singkirkan pakaian dalam putra ku, semua nya! Ingat! semua! berarti tanpa tersisa satu pun!" Morgan terbelalak mendengar kalimat perintah sang ibu.
"Jika kau berani menyentuh barang pribadi ku, maka kau akan ku gagahi hingga tak bernyawa!" ancam Morgan melotot tajam,membuat Eva sang pelayan bergidik ketakutan. Mata nya menatap Ashley memohon pertolongan, namun wanita itu acuh tak peduli.
"Nyonya...?" lirih nya meminta belas kasihan. Meski diri nya menyukai tuan muda tersebut, namun jika sampai di gagahi hinga tewas. Lalu untuk apa itu cinta, lebih baik diri nya menjadi perawan tua saja.
"Pergilah melanjutkan pekerjaan mu sana!" Usir Morgan menatap tajam pada sang pelayan. Dengan gerakan ragu-ragu Eva melirik sang nyonya yang sama sekali bergeming tak bersuara. Akhirnya Eva memilih untuk bergegas ke belakang demi menyelamatkan nyawa nya.
"Astaga! keluarga ini benar-benar mengerikan. Bisa-bisa aku di pulang kan di dalam peti jenazah jika terus begini." Mina sang kepala pelayan, menatap heran pada pelayan baru tersebut.
"Kenapa kau menggerutu tak jelas, Eva. Apa tuan kuda menjahili mu lagi?" tanya Mina penuh selidik. Meski pun sudah tidak segesit dulu, Mina masih selalu mengikuti keluarga itu bagai bayangan. Pengabdian nya benar-benar hingga akhir.
"Tidak Mina, hanya saja..." sejenak Eva menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara nya. "Nyonya Ashley meminta ku membuang pakaian dalam tuan muda Morgan. Namun tuan muda mengancam akan memperkosa ku hingga tak bernyawa. Bukan kah itu keterlaluan..." Adu nya dengan wajah mengerucut kesal. Eva pelayan paling muda di sana, usianya baru 18 tahun.
Mina tertawa renyah ketimbang memperlihatkan sisi empati nya.
__ADS_1
"Tuan muda hanya menggoda mu, Eva. Tuan muda itu orang yang baik, hati nya lembut seperti kapas. Kau baru mengenal nya, nanti saat sudah lama. Kau akan sulit memalingkan pandangan mu dari nya." Kini giliran Mina yang menggoda gadis muda itu.
Eva mencebik mendengar kalimat omong kosong tersebut.
"Mana mungkin aku akan menyukai nya, bicara nya saja suka seenaknya seperti itu. Apa jadi nya jika aku benar-benar melakukan perintah nyonya, bisa-bisa besok keluarga ku akan sibuk meratapi kematian ku yang tragis." Ucap gadis itu dengan wajah menyedihkan. Mina tertawa semakin keras hingga suara deheman membuat kedua nya serentak menoleh.
"Seperti nya membicarakan ku adalah topik yang sangat menarik, benar begitu Mina ?" Mina tersenyum simpul, mulut nya mengatup menahan tawa agar tak kembali meledak.
"Tidak begitu tuan muda, kami hanya membahas soal film saja. Benar kan Mina?" tatapan penuh permohonan tersebut membuat Mina mengangguk saja. Meski dia tau Morgan mendengar semua yang gadis itu ucap kan dari awal.
"Cih! kau kira aku tidak mendengar mu, sejak tadi aku di sini." Decih Morgan kesal lalu meninggalkan dapur dengan kedongkolan di hati nya. Apa dia terlihat sekejam itu, padahal tampang nya yang masih terlihat seperti balita. Mustahil tidak membuat gadis itu menyukai nya.
π·π·π·π·π·π·π·
Suasana sore hari di rumah pantai Berea sedikit berbeda. Jika biasa nya hanya gadis itu saja yang menghuni rumah santai tersebut. Kali ini bersama ketiga teman nya.
"Be.." sapaan hangat Helen membuyar lamunan Berea yang sudah hampir sampai di ujung samudera. Berea menoleh lalu tersenyum hangat.
"Apa yang sedang kau pikirkan? apa sulit untuk membagi nya dengan ku?" seloroh Helen tertawa kecil.
"Hanya memikirkan masa depan yang tak akan pernah menjadi milik ku sepenuhnya. Kau tau, saat mengetahui takdir mu sudah jelas di depan mata. Akan sangat sulit untuk menghindari nya. Jika jalan lain pun sama terjal nya." Helen diam menyimak, tak menyela sedikit pun.
Dia tau Berea tengah memikirkan beban pikiran yang tidak kecil. Untuk itu dia ingin berguna sebagai seorang teman.
"Aku akan meninggalkan kota tercinta kita ini. Untuk waktu yang aku sendiri tidak ketahui. Kau dan Grend punya masa depan yang cerah setelah kalian menikah. Aku harap kalian selalu berbahagia, di karuniai banyak anak yang hebat dan membanggakan kelak." Doa Berea tulus. Air mata Helen menetes tanpa permisi, kata-kata Berea sangat menyentuh dasar hati nya.
"Terimakasih Be, meski pun aku tak tau, batu kerikil mana yang akan menjadi sandungan ku dan Grend nanti. Namun aku percaya pada kuasa Takdir. Aku harap kau pun begitu. Kadang memaaf kan itu sulit di lakukan, namun setelah memaafkan. Hati kita akan jauh lebih tenang. Itulah yang aku lakukan pada pria itu.. beberapa bulan yang lalu, kami hanya nya orang asing meski saling mengenal. Tapi kini, lihat lah...pria itu sudah seperti bayangan ku. Kadang aku sedikit bosan, melihat nya berada di sekeliling ku seperti melihat diri ku sendiri sepanjang waktu." Tawa kecil menular pada gadis datar itu. Kedua nya bercerita banyak hal. Meski masing-masing di antara mereka tau, mungkin saja itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.
π·π·π·π·π·π·π·
__ADS_1
Bern berdiri di depan pintu kamar putri nya dengan perasaan tak menentu. Hati nya sulit untuk di ajak berkompromi, namun takdir sang anak tidak dapat dia kendalikan dengan kekuasaan nya.
Tok tok tok
Ketukan ketiga, akhirnya pintu kamar keramat itu terbuka. Senyum khas Berea membuat hati Bern semakin kacau.
"Boleh daddy masuk?" Berea hanya mengangguk lemah, lalu mempersilahkan sang ayah untuk masuk.
"Kau berkemas?" kalimat Bern terasa berat, lagi-lagi Berea hanya mengangguk.
"Secepat itu? kau bahkan baru lulus dua hari yang lalu..apa kau tak ingin menghabis kan waktu mu untuk menemani pria tua ini memancing atau berkuda? daddy rasa itu akan menjadi quality time antara ayah dan anak gadis nya." Suara bern tercekat di tenggorokan nya. Ada rasa sesak yang berusaha dia tahan.
Berea menatap manik bening sang ayah yang sudah mulai memerah. Hati nya sakit! pria itu lah yang menjadi cinta pertama nya, pria yang mengajari nya banyak hal tanpa memandang nya benih siapa.
Senyum manis nya mencoba melunak kan situasi mellow tersebut.
"Aku baru akan pergi lusa, kita masih punya waktu seharian besok untuk berkencan dad." Seloroh Berea tertawa kecil, Bern mengangguk-angguk kan kepalanya mengerti.
"Baik lah, malam ini tidur lah lebih awal. Besok biar kan mom yang menyiapkan bekal berkencan kita hingga sore hari." Pria itu mencium kening sang anak sambil menahan genangan air mata yang siap jatuh kapan saja.
"Tidur lah, besok biar mom yang mengemas apa saja yang harus kau bawa." Nasihat Bern meski hati nya tak rela.
"Baik dad, jangan menggoda mom malam ini. Aku butuh daddy dengan tenaga yang ekstra besok." Canda Berea menggoda sang ayah. Bern tersenyum penuh arti kemudian mengedipkan mata nya. Setelah sang ayah keluar. Berea menjatuhkan tubuhnya kelantai, gadis itu bersandar di daun pintu dengan tubuh berguncang.
Tangis yang sejak tadi dia tahan kini sudah tak terbendung lagi. Rasa sayang nya pada sang ayah, melebihi rasa sayang nya pada sang ibu. Jika di tanya mengapa, jawaban nya sederhana. Awal kelahiran Berea, Lizzie masih berada dalam trauma. Melihat Berea saja, wanita itu tak sudi. Hingga saat berusia 5 tahun, Berea mendapatkan semua keajaiban nya. Dia tau kenapa sang ibu sulit untuk menyayangi nya, bersikap lembut pada nya.
Wajah nya begitu menduplikasi wajah sang ayah kandung, dan Lizzie sangat membenci kenyataan itu. Dengan cepat Lizzie mengatur kehamilan kedua nya. Agar dia punya alasan untuk mengalihkan semua perhatian nya pada anaknya yang lebih kecil. Meski awal nya Bern sangat menentang keputusan tersebut. Dia ingin Berea merasakan semua kasih sayang mereka dengan utuh.
Namun Lizzie menutup telinga nya acuh. Bern lah yang berperan sebagai ayah sekaligus ibu bagi Berea kecil nya. Cinta dan perhatian nya melebihi rasa sayang nya pada kedua anak kandung nya sendiri. Seiring bertumbuh nya usia, Berea mulai menyadari jika sang ibu sengaja menjaga jarak dengan nya. Bern selalu menegaskan, dirinya adalah ayah kandung Berea. Terlepas dari benih siapa pun putri nya, itu tidak berarti apa-apa. Berea tetap lah kesayangan nya... sampai kapan pun.
__ADS_1