
Alex terus menatap ranjang kakak nya, entah kenapa, mata nya sulit sekali di ajak berkompromi. Perasaan gelisah terus mengusik hati dan pikiran nya.
Lizzie tidak lah tidur, dia tau Alex sedang menatap ke arah nya sekarang. Akan sulit bagi nya untuk keluar jika adik nya itu masih terbangun.
Lenguhan Morgan membuat Alex menoleh, adik nya benar-benar seperti bayi. Cara tidur nya pun cukup menggelitik jiwa, bagaimana tidak, Morgan tidur dengan satu jempol di dalam mulut nya.
"Aku harap ada wanita bodoh yang mau dengan mu. Pasti akan sulit mempunyai pasangan seperti mu, tapi aku yakin kau akan menemukan belahan jiwa yang cocok untuk melengkapi kekurangan mu ini." Gumam Alex berbicara pada adik nya yang tertidur lelap, Lizzie berusaha keras agar tidak ikut tertawa ngakak.
"Aishh kenapa sulit sekali untuk sekedar memejamkan mata." Keluh Alex bangkit dari ranjang nya lalu membuka pintu perlahan, dia ingin ke dapur saja, mungkin segelas coklat panas bisa menenangkan hati nya. Dia jadi teringat dengan Nayana, gadis yang sudah mencuri perhatian nya selama satu minggu ini.
"Pasti dia sudah tidur sekarang, gadis itu semakin menggemaskan untuk di lihat. Apa aku menculik nya saja ya" ucap nya pada diri sendiri "aihhh otak ku seperti nya sudah terkontaminasi oleh kelakuan laknat Morgan. Bisa-bisa nya aku memikirkan wanita saat aku sedang dalam misi penting. Coklat panas seperti nya memang cocok untuk menetralkan radikal bebas dalam otak ku ini." Lanjut nya menepuk pelan pucuk kepala nya sendiri.
Nayana adalah pelayan yang bekerja di markas Jeff, gadis yatim piatu itu di tolong oleh Jeff saat akan di jual oleh paman nya. Dan berakhirlah Nayana bekerja di sana, walau Jeff sudah menawarkan pekerjaan di kota yang lebih baik.. Namun Nayana masih takut jika tanpa sengaja bertemu dengan keluarga mendiang ibu nya, maka nasib nya akan berakhir di tempat hiburan.
Alex menuangkan air panas ke dalam gelas yang berisi bubuk coklat, karena sibuk melamun tidak jelas. Alex tidak menyadari jika gelas nya sudah penuh. Pekikan Alex berhasil membangun Nayana yang kamar nya memang berada dekat dengan dapur. Gadis itu mengerjab beberapa kali untuk menetralkan pandangan nya. Suara rintihan seseorang dari arah dapur membuat nya waspada, di raih nya pistol di bawah bantal lalu menyelip kan nya di balik punggung.
Dengan pelan Nayana melangkah keluar kamar nya menuju dapur, terlihat punggung seorang pria tengah menunduk di wastafel.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini malam-malam begini?" ucap Nayana mengarah kan pistol ke punggung Alex. Alex terkesiap saat merasa kan ujung pistol Nayana mencium punggung lebar nya. Dia tidak tau jika gadis yang terlihat culun itu bisa bermain dengan benda tersebut.
"Nayana, itu kau? ini aku, Alex. Tangan ku terkena air panas, maaf jika suara ku membuat mu terbangun." Nayana tak kalah terkejutnya, punya nyawa berapa dia, sampai berani menodong kan senjata nya pada tuan muda nya. Dengan tangan gemetar, Nayana menurunkan pistol nya lalu kembali menyimpan nya di balik punggung nya.
"Ma maaf, tuan muda. Saya pikir anda adalah orang lain yang masuk kemari. Sekali lagi maaf atas kelancangan ku, tolong jangan melaporkan ku pada tuan Jeff." Nayana menunduk berkali kali pada Alex sebagaimana tanda sesal nya. Alex terdiam, pikiran nya malah berpikir lain. Ada hikmah nya juga, tangan nya tersiram air panas. Sudut bibir nya membentuk sebuah lengkungan indah, namun segera dia netral kan kembali ekspresi nya agar tidak terlihat oleh Nayana.
"Tidak apa-apa, tolong ambil kan aku obat" titah Alex tanpa melihat ke arah Nayana, dia takut gadis itu dapat membaca raut wajah nya yang terlihat senang. Akan sangat aneh untuk orang yang sedang terluka, namun menampilkan ekspresi bahagia.
__ADS_1
Nayana berjalan menuju kotak obat tanpa di perintah dua kali, dengan cekatan tangan nya mengambil apa saja yang Alex butuh kan.
"Kemarikan tangan anda tuan muda, biar saya yang mengobati nya." Ucap Nayana masih menunduk, kedua tangan nya memegang saleb luka dan perban.
"Aku bisa sendiri, tapi kalau kau memaksa. Silahkan, lakukan perlahan" Nayana kembali mengangguk, memaksa ? yang benar saja, bukan kah dia hanya menawar kan bantuan nya saja. Alex tersenyum seperti mengerti apa yang di pikirkan oleh gadis di depan nya itu.
"Kenapa kau mempunyai senjata ? apa semua orang di sini wajib memiliki nya?" tanya Alex basa basi disela menahan rasa perih di punggung tangan nya.
"Semua nya di wajib kan oleh tuan Jeff. Termasuk saya, meski hanya seorang pelayan." Jelas Nayana masih fokus pada tangan Rick yang sedang dia olesi saleb.
"Apa kalian juga bisa bela diri? semua orang bisa menembak, tapi jika tidak bisa membela diri nya saat di serang secara mendadak. Itu juga tidak berguna, bukan?" Lanjut Alex seakan mengintrogasi tentang kebolehan orang-orang di organisasi Jeff tersebut.
"Kami juga di wajib kan untuk bisa membela diri tanpa menggunakan senjata, tuan muda. Hanya saja tidak semahir anda dan saudara-saudara anda." jawab Nayana merendah. Alex tersenyum penuh arti, di tatapnya tangan nya kini yang sedang di balut oleh Nayana.
"Apa ini juga bagian dari keahlian yang kau pelajari selama di sini?" tanya Alex semakin penasaran. Balutan yang cukup rapi untuk ukuran seorang pelayan, sedikit mencengangkan bagi nya.
Alex menangkap makna lain dari kalimat Nayana, Alex menyadari, jika pertanyaan sudah menyentuh bagian terpenting dari ingatan masa lalu gadis itu. Dia sedikit menyesal, namun keingin tahuan nya tentang Nayana, membuat jiwa penasaran nya meronta-ronta.
"Sudah malam, apa tuan muda ingin sesuatu ? biar aku saja yang membuat nya" tawar Nayana setelah menyimpan kembali obat dan sisa perban tadi.
"Aku ingin coklat panas, jika kau lelah, tidak perlu. Aku bisa membuat nya sendiri, yang terluka hanya satu tanganku, yang satu nya masih sehat untuk sekedar membuat coklat panas." Tolak Alex, dia tak tega saat melihat mata mengantuk Nayana.
"Tidak apa-apa, aku akan membuat nya dengan cepat. Apa anda ingin makan sesuatu tuan, roti atau pasta ?" tawar nya lagi, tangan nya menuangkan 3 sendok coklat bubuk kedalam gelas, dan satu sendok gula.
"Tidak, itu saja. Aku susah tidur, kupikir segelas coklat panas bisa membantu ku tidur nyenyak malam ini." ',tapi sepertinya aku akan semakin sulit tidur setelah ini, melihat mu saja aku langsung ingin malam ini dua kali lipat lebih lama menuju pagi ' lanjut Rick dalam hati nya.
__ADS_1
"Ini tuan, sudah jadi. Jika tidak ada yang anda butuhkan lagi, aku pamit ke belakang." kata Nayana meletakkan gelas di meja dapur di depan Rick.
"Aku berubah pikiran, seperti nya pasta enak. Tapi jika kau sudah sangat mengantuk, biarkan saja. Tidur lah" 'dan lihat, aku akan membuat kegaduhan kecil di dapur ini sampai kau pun sulit untuk terlelap ' seringai laknat Alex tersamar oleh cahaya remang di dapur tersebut. Sungguh modus bukan?
"Tidak masalah tuan muda, aku akan membuat nya, tunggulah sebentar " Nayana meraih teflon sedang untuk merebus pasta, kemudian menyiapkan bahan lain nya dengan sangat cekatan. Rick terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh Nayana tanpa berkedip. Seakan takut jika gadis itu mencampur kan racun ke dalam makanan nya. Racun cinta, mungkin tidak lah masalah.
Setelah 15 menit sepiring pasta telah terhidang di meja di kana Alex duduk. Aroma nya sangat lezat, Alex yang hanya memesan asal saja. Kini pun tergoda untuk mencicipi nya.
"Kau tidak ingin ikut makan, ini terlalu banyak, sayang jika tidak habis." Ujar Alex berdalih, agar Nayana ikut makan bersama nya.
"Saya menunggu sisa anda saja, tuan muda." Tolak Nayana halus, yang benar saja dia ikut makan bersama di piring yang sama dengan tuan muda nya. Bisa-bisa besok pagi, leher nya sudah tidak berada di tempat nya lagi. Tugas nya untuk melayani kebutuhan tuan juga nona muda nya, bukan untuk duduk santai dan makan bersama.
"Ck, aku bukan orang seperti itu. Kami tidak di ajarkan memberikan makanan sisa pada orang lain." Decak Alex kesal "ayo makanlah bersama ku, kau ambil garpu mu sendiri. Aku tunggu, atau kau lebih suka jika aku bilang pada paman Jeff. Kalau pekerjaan mu tidak memuaskan kami." Ancam Alex berhasil membuat Nayana ketakutan.
Gadis itu beranjak mengambil garpu untuk diri nya, pikiran nya berkecamuk juga kesal. Karena tidak bisa menolak tuan muda nya. Ekor matanya melirik cctv di sudut dapur, tamatlah sudah riwayat nya kalau begini. Arfin pasti akan mengadukan kelancangan nya pada tuan nya, Jeff.
"Duduklah, kenapa kau masih berdiri ?" titah Alex menggeser kursi lebih lebar agar Nayana segera duduk.
"Ah?ya tuan muda." Nayana duduk sedikit menggeser kursinya agar tidak terlalu mepet ke arah kursi Alex.
"Kau kenapa, apa aku bau? sampai kau tidak ingin duduk di dekat ku?" ucap Alex tersinggung. Nayana langsung kalang kabut.
"Tidak tuan, saya hanya takut di adukan pada tuan Jeff, jika terlalu lancang duduk didekat anda." ekor matanya melirik arah cctv, Alex mengikuti arah lirikan Nayana. Kini dia mengerti akan ketakutan gadis itu, sebenarnya dia tidak benar-benar tersinggung. Hanya saja melihat ekspresi takut di wajah Nayana, seperti hiburan tersendiri untuk nya.
"Mereka tidak akan berani mengadukan mu, aku yang akan membelamu nanti. Sekarang makan lah dengan tenang, dan ya, geser kursi mu kembali. Bagaimana bisa kau makan sepiring dengan ku, dari jarak 10 meter begitu." Jarak Nayana hanya sekitar setengah meter dari nya, namun Alex sengaja terlihat galak, agar gengsi nya terselamatkan.
__ADS_1
Nayana kembali menggeser kursi nya mendekati Alex, kedua nya makan dalam diam. Tanpa Alex ketahui, jika Lizzie, sudah berada cukup jauh dari markas. Dan bisa di pastikan, saat kembali ke kamar nanti. Jejak kakak nya itu, sudah tidak akan bisa mereka lacak lagi.
Dan, peperangan sesungguhnya akan di mulai dari sana. Pertemuan mereka akan menjadi pertemuan yang terakhir, dengan kakak perempuan mereka tersebut. Senyum tegar Lizzie di balik jiwa rapuh nya, tidak akan mereka lihat lagi.