
"Hei! nona? kau akan kemana? apakah itu mobilmu?" tunjuk nya kemudian turun dari truk. Lizzie terpaku menatap pria tersebut, hatinya berdesir hangat. Pria yang sangat dia rindukan, kini ada di hadapannya. Jika sang ibu ada di sana, dia yakin, ibunya itu pasti akan menangis keras saking rindunya.
"Uncle William?" gumam Lizzie pelan. (Bab 7)
"Ya? kau mengatakan sesuatu, nona?" ujar William menenteng peralatan nya, rupanya pria paruh baya itu berniat memperbaiki mobil yang dia sangka milik Lizzie dan kekasih nya.
"Tidak! bukan apa-apa. Itu?" tunjuk Lizzie pada kotak peralatan yang ditenteng oleh William.
"Aku ingin memperbaiki mobil mu, nona. Apa kekasih mu terluka?" William melirik pria yang tak kunjung keluar dari mobil ringsek itu.
Lizzie menghela nafas lelah, "dia bukan kekasih ku paman, tadi dia mencoba kabur setelah membuat ku terciprat air kotor. Dan lihat lah dia berakhir dimana sekarang?" Ujar Lizzie Dengan suara keras. Dia sengaja membuat pria itu semakin kesal padanya. Mengingat jika pria itu akan menjadi penghalang nya di masa depan, rasanya, Lizzie ingin menjadi orang jahat dengan membiarkan pria itu terpanggang matahari Meksiko yang sedang terik-teriknya.
William menoleh ke arah si pria yang terlihat menahan kesal pada gadis di depannya itu.
"Aku akan tetap menolongnya. Kau tunggu lah di dalam mobil, lagi pula mobil ini mustahil di perbaiki secara manual. Ringsek nya sangat parah, mobil mewah tidak menyediakan ban cadangan. Kalian harus akur untuk beberapa jam ke depan." Nasihat William terkekeh pelan.
Setelah beberapa saat, akhirnya pria yang di ketahui bernama Alessandro tersebut berhasil di keluarkan dari mobil mewahnya. Dengan bantuan William, kini Alessandro tengah duduk manis berdampingan dengan Lizzie. Keduanya memasang wajah penuh permusuhan, William hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah kedua anak muda tersebut.
Perjalanan kurang lebih 4 jam tersebut, hanya di isi dengan keheningan. Sesekali Lizzie mengobrol dengan William, bertanya tentang keluarga nya. Dan baru dia ketahui, jika sang kakek, Greg Bennett telah berpulang 5 tahun yang lalu. Dan aunty Joanna nya, telah menikah dan menetap di California Utara.
Gambaran tentang keluarga pamannya ini memang sengaja dia hapus dari ingatan nya. Sesaat akan meninggalkan pulau Catalina, Lizzie mengubur dalam semua kenangan nya di sana. Meski tidak dengan kejadian tragis itu, juga segala hal yang berhubungan dengan kekejaman keluarga sang ayah.
"Terimakasih paman" ujar Lizzie tersenyum tulus.
"Sama-sama, nak. Senyummu mengingat kan ku pada adik ku yang lain, entah dimana dia berada sekarang. Aku sangat merindukannya" wajah William berubah mendung, kala mengingat nasib adiknya yang entah masih hidup atau sudah tiada.
"Boleh aku memeluk mu, nak" pinta William menatap penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja" keduanya berpelukan, tanpa William sadari jika separuh rindunya telah terobati. Lizzie memasukkan sesuatu kedalam saku jaket William tanpa pria itu ketahui.
"Aku pergi paman, terimakasih atas tumpangan nya. Titip salama untuk keluarga paman, dahh!" seru Lizzie sambil berlalu menuju pangkalan taksi. Dia ingin ke California, berbekal identitas palsu yang di buat oleh Jeff. Lizzie akan memulai petualangan nya di kota tersebut.
Sebelum mobil meninggalkan kota tersebut, Lizzie bergumam pelan. "Aku datang untuk menantang mu, nenek!" Lizzie menampilkan seringai venom nya. Kurang lebih 20 jam ke depan, dia akan bertemu dengan sang nenek. Di saat itulah, hidup Lizzie mulai jungkir balik, jatuh bangun dipermainkan oleh takdir yang begitu kejam.
Di sisi lain, Alessandro mengumpat berkali-kali pada para perawat dan dokter yang di anggap tak becus merawat luka di kakinya. Sebenarnya itu hanya alasannya saja untuk melampiaskan kekesalannya pada Lizzie. Bisa-bisa nya gadis itu kabur setelah mengantar nya ke rumah sakit, dan asisten bodohnya sampai sekarang belum kunjung tiba.
"Tuan? bisakah anda tenang sedikit, kaki anda sedang di obati sekarang. Jika terjadi kesalahan dan infeksi. Kaki indahmu ini, akan dengan suka rela aku amputasi. Dan bersiap lah mengucapkan selamat tinggal pada nya." Ujar seorang dokter muda, dia kesal bukan main, sejak tadi Alessandro terus memaki mereka tanpa sebab yang jelas. Kini kesabaran nya sudah di ujung kasur, dirinya ngantuk tak terkira, sejak dinas semalam dia belum ada tidur sama sekali. Hingga kini harus berhadapan dengan satu pasien paling menyebalkan, sepanjang sejarah nya bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit tersebut.
Harus nya sekarang dia sudah tidur cantik di balik selimut tebal nya, namun rekan sejawat nya mengalami sedikit insiden, mau tak mau dia harus mengganti kan nya hingga pukul 3 sore. Lalu pukul 8 malam, dia harus kembali berkutat di jam dinasnya tanpa ada yang peduli.
Alessandro bergeming, kenapa mulut wanita ini begitu tajam. Dia jadi semakin teringat pada gadis menyebalkan tadi, wajah keduanya pun hampir mirip. Semoga saja bukan saudara, bisa sial nasib para pasien jika psikopat ini memiliki banyak saudara serupa kelakuannya. Sama-sama menyebalkan dan bar-bar.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Nona? nona?" guncangan pelan di bahunya membuat Lizzie terbangun, matanya mengerjab untuk menyesuaikan pandangan nya.
"Ah, ya. Tentu, aku juga butuh toilet untuk menumpang mandi" ujar Lizzie tersenyum samar. Dia perlu khawatir akan ditinggal, pria itu sudah dia bayar mahal untuk perjalanan nya itu.
Selesai membersihkan diri, Lizzie masuk ke dalam kedai. Tidak terlalu ramai, ada beberapa orang yang tengah menyantap makan siang mereka. Lizzie segera memesan makanan setelah mendapat kan tempat duduk dimeja yang sama dengan sopir taksi tadi.
"Kau sudah biasa melakukan perjalanan jauh seperti ini sebelumnya?" pertanyaan Lizzie membuat si sopir menoleh dan meletak ponselnya diatas meja.
"Sering, aku melakukan ini karena bisa menghasilkan lebih banyak uang, daripada menjadi sopir di dalam kota saja. Meskipun beresiko, namun selama ini, aman-aman saja. Aku juga tidak asal menerima penumpang gelap, tanpa bertanya detail tentang kepentingan nya, hingga rela menempuh perjalanan puluhan jam. Kelengkapan berkas harus yang utama, tidak peduli jika itu palsu sekalipun. Dan lagi selama ini, aku tidak pernah menerima penumpang dengan berkas yang asli, jadi santai saja. Dan dengan mu pun itu berlaku, nona." Kekehnya menutup penjelasan singkat namun di serap cepat oleh Lizzie.
"Kau benar, yang penting, jadilah orang baik. Kadang menjadi jujur saja tidak cukup." Terang Lizzie penuh makna. Keduanya kembali terdiam sambil menikmati hidangan masing-masing.
__ADS_1
Lizzie tengah berkutat dengan pikirannya sendiri, sementara si sopir, tengah memikirkan sang istri yang bisa saja sewaktu waktu melahirkan tanpa ditemani olehnya. Resiko pekerjaan, itulah yang selalu dia ucapkan, sebagai penyemangat.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
William baru saja tiba di rumah nya, pria itu di sambut suara hangat sang istri.
"Willy? kenapa kau pulang tengah hari begini? kau membuat ku cemas menanti kedatangan mu." Omel sang istri meletak kan gelas air minum di atas meja dapur.
"Aku menolong sepasang muda mudi di jalan, mobil si pria menabrak sisi tebing dan ringsek cukup parah. Setelah itu aku mengantar si pria ke rumah sakit sebelum pulang. Kau tau honey, gadis itu mirip adikku. Kau ingat Cloey?" tanya William menatap netra sang istri dengan wajah suram.
Julia yang melihat nya mengerti, jika kerinduan sang suami sudah sangat besar. Terutama mendiang mertua nya. Mereka tidak tau Cloey dan anak-anak nya masih hidup atau sudah tiada. Ledakan itu menghancurkan seluruh bangunan, hingga tak bersisa. Ada beberapa potong tubuh namun tidak ada yang mengkonfirmasi. Apakah itu tubuh Cloey sekeluarga atau bukan. Investigasi itu di lakukan secara tertutup, mereka bahkan tidak di ijinkan hanya sekedar mendekati lokasi kejadian.
"Kita akan terus mencari kabar mereka hingga kita tak mampu lagi. Joa juga selalu mencari tahu tentang Cloey dan anak-anak nya. Kita semua merindukan mereka, hanya saja, takdir belum berpihak sesuai kehendak yang kita inginkan." Nasihat Julia lembut.
"Kemarikan jaketmu, ada banyak noda. Aku harap kedua pasangan tadi tidak langsung masuk ICU mencium aroma jaketmu." Kelakar Julia mencairkan suasana yang diikuti oleh William.
Sesaat akan di masukkan ke dalam mesin cuci, Julia merasakan ada benda semacam kertas di balik saku jaket sang suami. Khawatir akan menggiling dollar, Julia segera memeriksanya. Namun keningnya mengernyit dalam, hanya sebuah lipatan kertas dan setelah di buka. Ada sebuah poto yang menampilkan potret sebuah keluarga didalam lipatan kertas tersebut.
Setelah di lipatan di buka, mata Julia berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu terduduk sambil menangis, dan memeluk poto tersebut layaknya memeluk seseorang yang sangat di rindukannya.
William yang akan ke gudang, tanpa sengaja menangkap suara isakan seseorang dari arah ruang mencuci. Dengan tergesa pria itu berjalan menuju ke ruangan tersebut.
"Julia? apa yang terjadi? kau kenapa, jangan membuat ku takut. Katakanlah sesuatu?" desak William tanpa jeda. Wajahnya panik, belum pernah Julia terlihat serapuh itu bahkan saat ibunya meninggal dua tahun lalu.
"Cloey... Cloey masih hidup..." tangis Julia semakin keras, William menatap tangan sang istri yang terlihat menggenggam sesuatu.
Tenggorokan William terasa kering, gadis itu? Lizzie kecilnya. Pantas saja wajahnya tidak asing.
__ADS_1
"Bodohnya pamanmu ini, nak. Bagaimana bisa paman tidak mengenali wajah cantik mu?" William terkekeh dengan air mata yang mengalir sama derasnya dengan sang istri. Keduanya menangis bahagia, akhirnya, orang yang mereka cari sudah mereka temukan walau belum tau dimana persisnya.
Kini mereka punya gambaran, kemana mereka akan mencari Cloey dan anak-anak nya.