Darkest Dream

Darkest Dream
Ciuman Harapan


__ADS_3

Sebelum turun, Lizzie menghela nafas panjang, ada perasaan tidak biasa saat melihat kereta yang akan dia tumpangi tersebut. Terlebih wajah lesu Bern, itu sungguh mengusik pikiran nya.


"Terimakasih Bern, aku tidak punya uang untuk membayar ongkos mu. Jadi jangan menagih ku," seloroh Lizzie kemudian hendak turun, namun tangan kekar menarik pergelangan tangan kecilnya.


Bern menyatukan bibir mereka dengan sedikit paksaan, Lizzie masih belum merespon. Bisa saja dia membuat pria itu menyesali perbuatannya, namun dia tidak melakukan nya. Perlahan Lizzie mengikuti alur naluri nya, kedua tangannya di lingkar kan di leher Bern. Bern tersenyum senang dalam hati nya. Ciuman hangat itu begitu penuh perasaan, tidak ada nafsu di dalamnya. Bern benar-benar menikmati ciuman mereka dengan hati, bukan dengan hasrat nya.


Beberapa menit ciuman terlepas, Bern mengusap pelan bibir Lizzie yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.


"Maaf" ucap Bern setengah berbisik. Pria itu menyatukan kening nya dengan kening Lizzie.


"Kenapa? kau menyesal karena telah merenggut ciuman pertama mu?" Bern terkesiap, namun jauh di dalam hati nya. Pria itu merasa sangat senang.


"Tentu saja tidak, aku menikmati nya. Cukup baik untuk seorang pemula, aku merasa sangat beruntung. Bibir mu sangat manis, aku sudah merasa kan candu dengan nya. Tidak bisa kah kau tetap tinggal? aku berat melepaskan mu pergi" jujur Bern tak mampu lagi menahan gejolak perasaan nya.


Lizzie tersenyum simpul lalu membelai pipi Bern, "aku tidak bisa, ada hal lain yang harus aku lakukan. Aku harap kita akan bertemu lagi nanti, jaga diri mu. Mantan terindah mu akan kembali mengunjungi mu, ku harap hati mu sudah sekuat karang." Kekeh Lizzie sedikit meledak.


Bern merenggut mendengar kalimat Lizzie "tidak ada yang namanya mantan terindah, jika dia indah tidak akan jadi mantan." Sarkas Bern menyanggah. "Aku harap kau mau menjadi masa depan terindah ku, jadi, bisa kah mempertimbangkan pria kesepian ini ?" tawa Lizzie pecah mendengar kalimat memelas dari mulut Bern, dia tau pria itu terikat karena ciuman mereka. Dan dia sedikit menyesali nya, memberi harapan lalu menghempaskan tanpa perasaan. Lizzie mendadak merasa menjadi orang yang kejam sekarang.


"Aku harap ada waktu, di mana saat kita di pertemukan kembali. Situasi nya sedikit berbeda, aku tidak bisa tinggal. Maafkan aku, jangan menunggu ku jika ada seorang wanita yang mampu menggetarkan hati mu. Jalani hidup mu dengan baik, jika kau merindukanku. Aku meninggalkan baju ku di dalam lemari, ada aroma ku di sana. Kau bisa mengendusnya jika merindukan gadis cerewet ini." Kekeh Lizzie membuat keduanya tertawa renyah.

__ADS_1


Pelukan dan ciuman hangat di kening Lizzie, mengakhiri perjumpaan mereka, Lizzie pergi dengan menaiki sebuah kereta listrik menuju Utara. Bern terus menatap kepergian Lizzie hingga tak lagi terlihat, separuh hati nya seperti di bawa pergi bersama hilangnya bayangan kereta yang di tumpangi Lizzie.


Bern berjalan gontai menuju mobil nya, bayangan ciuman hangat mereka masih terekam jelas di memori nya. Akan dia simpan dengan rapi, kenangan itu akan dia jadi kan harapan. Untuk membawa gadis pujaan kembali. Dia akan menunggu, tak peduli berapa lama waktu yang di butuhkan untuk itu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Suara lemparan gelas pecah berhambur di lantai membuat dua pria yang ada di ruangan itu memucat ketakutan.


"Jadi pria itu adalah seorang polisi? letnan ya?" gumam nya dengan seringai menakutkan. "Kau sudah selidiki tentang pria itu, Same?"


"Pria yang memimpin penyergapan malam itu, mendapat sedikit bantuan dari nona Lizzie. Menurut rekaman yang kami dapatkan, nona Lizzie datang dari arah selatan gudang. Seorang diri, dan tidak terlihat dengan siapa dan siapa yang mengantar nya ke sana. Yang jelas mereka bukanlah dua orang yang sudah saling mengenal. Di lihat dari keterkejutan letnan itu, jelas sekali, jika nona Lizzie datang, karena kehendak nya sendiri. Gadis itu seolah tau segala nya soal penyergapan malam itu, termasuk dari posisi mana yang aman untuk diri nya masuk ke dalam area gudang." Jelas Same panjang lebar. Lutut nya sedikit bergetar, keringat dingin di kening nya mulai berbutir halus.


"Aku ingin tau, seberapa berharga nya pangkat yang pria itu miliki, dan seberapa kuat iman nya menolak harga perdamaian yang akan aku tawarkan." Seringai licik kembali tercetak jelas di sudut bibir nya.


"Kalian berdua, aku punya tugas lain untuk di kerja kan. Temu kan di mana pria itu tinggal, cukup selidiki dari jauh. Aku akan bertindak sendiri nanti, aku ingin berkenalan, dengan pria yang sudah memporak porandakan bisnis rahasia ku." Seringai terbit dibibir Ale, entah apa yang akan pria itu lakukan terhadap polisi malang itu nanti. Hanya Tuhan yang mampu mengubah keadaan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dua manula tengah duduk di sebuah kursi taman, sejak bertemu hanya ada sapaan ala kadar nya sebagai pembuka pertemuan mereka.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mu, Sando?"


"Bagaimana keadaan mu, Charles ?"


Kedua nya tertawa kecil, mentertawakan kekonyolan mereka sendiri.


"Kau duluan " ujar Charles mengalah.


"Kenapa tidak kau saja, bukan kah kau yang meminta pertemuan ini?" balas Sandora mengingat kan.


"Kau benar, namun mengingat kau seorang wanita. Aku akan mempersilahkan kau untuk berbicara terlebih dahulu. Ladies first, right ?" kekeh Charles menatap Sandora dari samping, wanita itu masih terlihat cantik di usia nya yang tak lagi muda.


"Baik lah jika kau memaksa, rasa nya seperti masa lalu, bukan? Di mana segala bentuk keterpaksaan, menjadi makanan harian." Ucap Sandora menatap lurus pada kelopak bunga mawar yang terlihat sangat indah di mata nya.


"Ya, kau benar. Namun aku tidak menyesali setiap keterpaksaan masa lalu. Karena dengan begitu, kita menemukan orang-orang dengan hati semulia para dewa dan dewi." Ujar Charles menimpali, senyum syarat makna tersungging di bibir nya.


"Apa keputusan mu sudah kau pertimbangan kan, Sando?" Lanjut Charles sudah tak tahan lagi menyimpan pertanyaan tersebut di dalam hati nya.


Sandora tersenyum samar, sangat samar bahkan terkesan miris.

__ADS_1


"Apa aku punya pilihan lain, keputusan ku adalah yang paling mutlak. Sekeras apa pun Mina mengurai fakta, kau tau, itu tidak akan cukup untuk membuat para Servidor menyetujui perang ini. Aku hanya bertindak sebagai penengah, garis keturunan ku tak satupun yang mewarisi keistimewaan kita. Meskipun ada, keduanya kini telah tiada. Dan Sandro cucu kita yang malang, akan mengulang sejarah lama. Sangat di sayangkan, namun begitu lah takdir Alessandro ku yang malang." Charles berusaha menetralkan perasaan nya, ada semacam rasa bersalah yang dalam pada wanita di samping nya itu.


Namun keadaan yang memaksa, diri nya pun tak bisa berbuat apa-apa. Terutama saat Lupe istri, sudah berkorban terlalu banyak untuk semua itu.


__ADS_2