Darkest Dream

Darkest Dream
Butuh belaian


__ADS_3

Ramos berdecak mencibir tak terima. "Aku hanya melakukan bagian ku, jika aku ikut mendukung ide mu dalam rapat internal para dewan. Kau kira kita masih bisa ikut dalam proses penelitian serum itu, hah?" kedua nya kemudian sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Kau selalu berani menentang para dewan, tanpa memikirkan resiko kita akan di depak dari sini, dan di lenyap kan atau paling tidak di buang di pulau kosong entah berantah." Lanjut Ramos melirik kesal pada sahabat nya.


"Aku hanya ingin segera menyelesaikan tugas penuh tekanan ini dengan cepat. Aku merindukan keluarga ku, istri ku melahirkan tanpa bisa aku dampingi. Sekarang putri ku mungkin sudah merayakan ulang tahun pertama nya. Dan mungkin saja Abigail sudah menikah lagi dengan pria bertanggungjawab, yang tidak meninggalkan nya tanpa alasan apalagi kabar apapun." Eun mendesah berat. Pikiran nya berkecamuk memikirkan istri juga putri kecil nya, yang bahkan belum pernah dia lihat sama sekali.


Ramos menatap iba pada sahabat nya, dia ingat bagaimana mereka di rekrut pada saat tengah melaksanakan dinas di rumah sakit. Tiba-tiba sekelompok orang berbaju hitam datang dengan senjata lengkap, lalu membawa mereka tanpa sepatah kata pun. Hanya laras yang membuat mulut mereka terkatup tak berkutik.


Mereka meninggalkan keluarga, kekasih, sahabat dan para rekan sejawat tanpa satu patah katapun kalimat perpisahan.


Dan di sanalah mereka selama hampir 2 tahun ini, menatap langit malam kala merindukan sanak keluarga. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Kabur dari sana, sama hal nya dengan selangkah menuju alam baka. Sekeliling markas besar itu, telah terpasang banyak ranjau darat. Mereka bukan hanya kelelahan bekerja bagai kuda, namun juga tertekan.


"Abi sangat mencintai mu..jangan pesimis seperti itu. Jangan kan baru dua tahun, dua puluh tahun lagi, wanita bodoh itu akan senantiasa menunggu mu dengan suka rela." Hibur Ramos menepuk bahu sahabat nya. Di sana bukan hanya mereka saja yang bernasib miris. Tapi ada banyak ilmuan juga para dokter lain, dari beberapa rumah sakit ternama di berbagai kota besar dari penjuru dunia.


Mereka di rekrut dengan cara yang sama, tanpa perpisahan yang layak apa lagi kata pamit yang seharusnya.


"Jangan berani mengatai istri ku, Ram!" desis Eun tak terima. Delikan mata tajam nya terlihat begitu galak di balik mata sipit Asia nya.

__ADS_1


Ramos tergelak, akhirnya bisa sedikit mengalihkan pikiran sang sahabat.


"Ayo kita kembali bekerja..bukankah kau ingin segera pulang ? jadi ayo siap kan punggung kokoh mu, agar mampu menunduk menghadap mikroskop elektron hingga berjam-jam nonstop." Kekeh Ramos merangkul pundak Eun menuju laboratorium.


"Apa matamu masih mampu melihat dengan baik, dude? aku khawatir bola mata mu akan melompat keluar, saat melihat pemandangan bagus." Ledek Ramos tak henti-hentinya melempar kan candaan. Mereka terkadang harus menatap objek penelitian 1-8 jam nonstop demi sebuah hasil riset yang memuaskan.


Tak jarang mereka sering mengalami kelelahan pada mata, dan sedikit mengalami kurang fokus jika menatap objek jauh.


"Mataku baik-baik saja, harus nya mata mu yang perlu kau periksa kan. Kau terlalu sering melihat barang bagus dalam berbagai bentuk dan ukuran. Aku khawatir kau akan kesulitan untuk membedakan, mana barang palsu dan mana yang masih orisinil." Balas Eun tersenyum smirk. Ramos tergelak mendengar celotehan sang sahabat.


Sejak berada di sana, pikiran mereka di penuhi banyak beban, tekanan dan intimidasi. Sedikit melakukan kolaborasi dengan para ilmuwan wanita, seperti nya hal yang cukup membantu merilekskan otot dan pikiran. Selama tidak ada unsur pemaksaan dan di dasari oleh rasa suka sama suka. Begitu lah pikir nya. Hidup sesimpel itu, jangan di buat beban pikiran apa lagi beban hati paling parah jika dijadikan beban hidup. Karena selama mereka di sana, hidup mereka tidak menghasilkan apapun, selain otak cerdas yang diperas habis hingga hampir mengering demi sebuah penelitian.


"Itu bagian dari terapi, agar otak ku selalu waras dalam melakukan riset. Sayang nya laboratorium sebesar ini tidak menyediakan stok pengama*n. Jadi aku harus menebar benih ku dengan perasaan was-was." Gelak Ramos kembali menguar. Eun mendelik tak suka pada sahabat otak mesum di samping nya.


"Tidak bisa ku bayangkan jika para wanita itu sampai mengandung anak-anak mu. Bisa-bisa lab ini akan menjadi pusat perkembangan biakan bayi, ketimbang menghasilkan serum." Ucap Eun mencibir. Ramos kembali tertawa renyah, sambil menunjuk kecil bahu sahabat nya saat ada salah satu rekan ranjang nya lewat.


"Pelan kan suara mu, kau bisa membuat ku dalam masalah besar. Para wanita itu tau nya, aku menjalin hubungan lalu berakhir karena ketidak cocokan. Bukan merapel mereka semua di jadwal berbeda-beda." Kesal Ramos melirik ke sekitar, takut-takut ada telinga tajam yang mendengar ucapan laknat nya.

__ADS_1


"Dasar predator..!" sahut Eun berlari kecil meninggalkan Ramos yang masih tergelak bangga.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bern terlihat mondar mandir tak tenang, sebuah pesan singkat dia terima satu jam yang lalu. Rupanya mengusik ketenangan pikiran nya.


"Aku butuh bantuan mu, Bern..." sebuah pesan tanpa nama dan dari nomor tak dikenal. Namun saat menghubungi nya kembali, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.


"Aarrgghhhh...!" Bern mengacak rambut nya frustasi. "Siapa manusia jahil yang berusaha mengerjai ku..apa dia punya banyak nyawa, hingga berani bermain-main dengan pria kesepian seperti ku." Gumam Bern mencurahkan uneg-uneg nya pada ponsel yang terus di tatap nya bolak-balik.


Kerinduan nya pada Lizzie membuat kinerja nya sedikit menurun beberapa waktu belakangan ini. Teguran dari sang atasan pun sudah dia dapat kan. Namun seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bern pura-pura tuli, meski kepala nya mengangguk mantap saat mendengar pidato singkat dari mulut atasan nya.


Kenyataan nya, Bern tetap mendapatkan surat peringatan dari kantor pusat soal sikap tak profesional nya. Mencampur aduk kan masalah pribadi dengan profesionalitas pekerjaan nya.


Namun lagi-lagi pria itu seakan senang, saat tukang pos bertandang ke rumah nya mengantar kan surat cinta tersebut. Bern membaca nya dengan seksama sambil tersenyum lebar. Sanki skorsing 1 minggu yang dia dapat kan, seperti surat resmi penerimaan door prize bernilai milyaran dollar.


Bern meraih jaket kulit juga kunci mobilnya, dia akan mencari jejak sinyal terakhir dari mana pesan itu berasal. Dia tak ingin otak nya semakin gila karena rasa penasaran nya.

__ADS_1


"Awas saja jika aku di kerjai oleh orang iseng. Akan ku lubangi kepala dan jantung nya, ku congkel kedua matanya, ku keluarkan usus dan semua orang dalam nya lalu ku berikan pada anjing tuan Turner." Ucap Bern menggebu-gebu. Mata nya sesekali melirik pada ponsel nya, untuk mengikuti titik terakhir di mana nomor tersebut aktif.


Drrttt drrttt drrttt


__ADS_2