
Lizzie memutar tubuh nya berkali-kali, tidurnya gelisah. Sesekali matanya terbuka kemudian tertutup kembali.
Di kamar lain, Sky tengah berusaha menenangkan Leah yang terlihat sedikit gelisah juga sesekali menagis keras. Cloey sedang memangku Leon, pria kecil itu sedikit terganggu tidur lelap nya, karena sang kakak yang terus menangis.
"Apakah badannya hangat, dad?" tanya Cloey sambil menepuk pelan paha Leon.
"Tidak, honey. Leah terlihat gelisah saja, mungkin perut nya sakit. Kemarikan minyak telon nya" Sky mengulurkan tangannya pada sang istri, karena benda yang dia minta ada di kasur di dekat sang istri.
"Coba tukaran, aku yang menggendong nya. Mungkin saja dia mau aku kasih asi langsung tanpa menggunakan botol susu." Ujar Cloey meletakkan Leon di atas kasur. Sky terlihat ragu, namun tak ingin sang istri sedih.
"Ini," Baru saja akan meletakkan di atas pangkuan Cloey, Leah menangis semakin keras. Buru-buru Sky menggendong nya Kembali lalu menimangnya. Hatinya merasa ada yang salah, namun entah apa itu.
"Biar aku saja, sweet heart. Mungkin Leah sedang ingin bermanja dengan daddynya." Kekeh Sky menghibur sang istri yang terlihat murung. Selama hampir satu Minggu ini, Lizzie dan Leah selalu menempel padanya. Leon bahkan hampir jarang dia gendong jika kedua putrinya belum tidur.
Cloey menatap wajah mungil Leon, hati nya sedikit resah. Kerewelan putri nya malam ini terasa tak biasa, namum tidak berani menyimpulkan apapun.
"Tidurlah bersama Leon, honey. Kau butuh istirahat, aku akan tidur setelah Leah sudah mulai nyaman." Sky menatap kasihan pada istrinya. Sofi ke kota beberapa hari yang lalu bersama Jeff dan belum kembali. Hanya Mina saja yang membantu nya di rumah, jelas istri nya kelelahan. Sky memilih bekerja di sebuah kantor pajak di kota tersebut untuk mengisi waktu luangnya. Kedua anaknya kini sudah berumur 3 bulan, hidup nya mulai terasa aman beberapa bulan terakhir ini.
"Baiklah, aku akan tidur, jika kau mulai lelah bangun kan saja aku." Cloey menatap manik lelah suaminya tak tega, namun putrinya sama sekali tidak bisa di ajak kompromi.
"Baik, sweet heart. Tidur lah" titah Sky tersenyum lembut pada istri nya. Cloey menarik selimut untuk menyelimuti dirinya juga sang anak yang terlelap di samping nya. Sky menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 lewat. Sebentar lagi pagi, dan putri nya masih terlihat gelisah walau tidak lagi menangis.
Sky berjalan keluar untuk mengisi gelas air minum, namun sesampainya di ruang makan, sekelebat bayangan terlihat dibalik jendela kaca dapur. Sky menahan nafas nya lalu menatap ke arah putri nya yang semakin gelisah dalam gendongan nya. Apakah ini sebuah pertanda, batinnya mulai menerka-nerka. Sky berjalan mundur perlahan, tak lama terdengar suara pintu dapur di buka paksa dari luar. Sky menelan ludahnya susah payah, bukan perkara takut. Namun dengan tiga orang anak dan satu wanita yang sangat di cintai nya. Sky pasti akan keteteran.
"Mina?" batin Sky berbisik. Lalu bergegas menuju kamar Mina yang bersebelahan dengan kamar putrinya Lizzie. Untung saja kamar tersebut tidak di kunci, Sky menarik handle pintu sepelan mungkin lalu masuk untuk membangun sang pelayan.
"Mina? Mina? bangunlah," bisik Sky pelan.
Mina mengerjabkan kedua matanya, lalu menatap tuannya sedikit terkejut.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" suara serak khas bangun tidur Mina pun ikut berbisik.
"Seseorang berusaha masuk lewat pintu dapur, gendong Leah aku akan membangunkan Cloey. Oya, bangunkan Lizzie juga." Sky meletakkan Leah di pangkuan Mina, wanita itu meraih selimut tebal lalu membungkus tubuh Leah agar tidak kedinginan. Entah kenapa dia merasa, jika malam ini mereka akan melakukan banyak hal ektrim di luar rumah.
Setelah selesai Mina bergegas menuju kamar Lizzie yang terhubung ke kamar nya.
"Nona? bangunlah," Lizzie membuka matanya, rupanya gadis kecil itu tidaklah tidur. Dia hanya memejamkan kedua matanya untuk menghalau penglihatan buruknya.
"Kita akan jalan-jalan malam ini, pakai baju hangat mu, kaos kaki juga sepatu yang nyaman." Titah Mina sembari meraih jaket tebal Lizzie di gantungan. Sky Kembali masuk dengan istri juga putra nya, wajah cemas Cloey tercetak jelas.
"Sini, biar daddy pasang kan sepatu mu." Sky meraih sepatu sang anak, Lizzie menatap apa yang sedang ayah nya lakukan. Lizzie memeluk sang ayah dengan begitu erat, seakan itu adalah salam perpisahan darinya mewakili ibu juga kedua adiknya.
"Apa daddy masih ingat kata-kata ajaib kita tempo hari?" pertanyaan Lizzie membuat Sky terpaksa melerai pelukannya. Tatapan penuh tanya terlihat begitu jelas di wajah pria itu.
"Ingat, kenapa kau bertanya, sweetie?" tanya Sky dengan perasaan mulai tak karuan.
"Aku ingin daddy ingat kata-kata ajaib kita, dengan begitu, daddy akan ingat padaku, ibu juga kedua adikku. Seberapa pun jauh nya jarak di antara kita kelak. Ingatlah, setiap daddy menghela dan mengembuskan napas. Ada kami, yang selalu menunggu daddy pulang kembali." Sky tertegun, begitu juga Cloey. Tak lama terdengar suara benda pecah, itu pasti kaca jendela. Sky bergegas membawa keluarga keluarga melalui pintu rahasia di balik lemari kamar Lizzie. Saat ssmuanya sudah masuk suaru dobrakan pintu terdengar nyaring. Sky reflek menggeser Kembali lemari tersebut hingga tertutup rapat.
"Kita harus segera pergi nyonya, sebentar lagi mereka akan tau tempat ini. Tuan pasti akan menyusul, ayo bergegas." Mina tau perasaan sang majikan, namun membiarkan nyonya nya terus berada disana menangisi suaminya yang tengah berjuang di dalam sendirian. Itu juga bukan pilihan yang baik sekarang.
Mereka pergi dari sana melewati lorong sempit yang hanya muat untuk satu orang saja. Tanpa tau jika Lizzie tidak mengikuti mereka dari belakang. Gadis kecil itu menatap kepergian ibu dan adik-adiknya, kemudian kembali menatap pintu penghubung.
Dengan tangan mungil nya, Lizzie mendorong pintu berat itu susah payah. Hening, darah berceceran di lantai, beberapa mayat terbaring dalam posisi yang tidak baik. Lizzie mengedarkan pandangannya, dia tau jika sang ayah sudah tertangkap sekarang. Dia sudah melihat semuanya dalam bayangan sejak berbulan bulan lalu. Lizzie menuju kamar orangtuanya, di dalam sana Lizzie mencongkel lantai yang ditutupi oleh karpet merah, juga meja bundar diatas nya.
Dengan tenaga kecilnya, Lizzie berhasil membuka kayu penutup lantai tersebut. Di dalamnya ada beberapa dokumen penting, yang sudah tersusun rapi didalam sebuah map mika bening. Lizzie meraihnya, di bawah map tersebut, ada bom yang masih belum aktif. Dengan sedikit ingatan yang dia punya, Lizzie mengaktifkan bom tersebut. Hanya berdurasi 2 menit, artinya setelah bom itu aktif, dia hanya punya sedikit waktu untuk keluar dan menjauhi rumah nya.
Tak lama terdengar langkah kaki masuk kembali ke dalam rumah, Lizzie sama sekali tak gentar. Dia tau orang-orang jahat itu pasti akan kembali setelah mengamankan sang ayah. Itu yang dia tunggu, jika benar perkiraan nya, maka hanya ada satu orang saja yang selamat. Seorang yang kini tidak bisa terlihat jelas di penglihatan nya. Dan dia tidak tau kemana ayahnya dibawa. Seolah ada yang menahan penglihatan nya, setiap kali dirinya mendapat penglihatan tentang kejadian malam ini.
beberapa langkah kaki terdengar mulai berpencar dalam rumah, Lizzie menoleh ke arah jendela. lalu bergegas menuju ke sana. Setelah berhasil keluar, Lizzie Kembali menutup nya. Perlahan kali kecilnya melangkah ke arah anjungan. dimana ujung lorong yang tadi bermuara.
__ADS_1
Ke tiga orang yang masih tersisa terus menyisir seisi ruangan yang mereka masuki. Namun nihil, mereka mulai gusar. Namun saat langkah mereka menuju kamar utama, salah seorang dari mereka mendengar suara bip yang tak asing.
"Kenapa berhenti?" ujar salah seorang pada rekannya.
"Apa kalian tidak mendengar suara itu? itu terdengar seperti?...." kalimat nya menggantung, ketiganya saling bertatapan, lalu meneguk ludah masing-masing.
"I..it.u...Lariii!" seru salah seorang pada rekannya. Namun sayang, keterlambatan kepekaan mereka telah mengantar mereka ke neraka lebih cepat. Kecerdikan si kecil Lizzie, telah mengurangi beberapa populasi penjahat di muka bumi ini.
"Astaga! Lizzie bagaimana bisa kau menghilang, mom hampir saja kembali. Kalau saja kau tidak segera tiba kesini," Cloey memeluk sang anak dengan erat. Ledakan beberapa detik lalu hampir membuat jantung nya berhenti bekerja. Dia pikir putri nya masih terjebak dibelakang mereka tadi.
"Aku baik-baik saja, mom. Aku bawa ini, simpanlah." Lizzie mengeluarkan map dari balik jaketnya, Cloey menerima nya tanpa bertanya lagi. Mereka menaiki perahu tanpa berani menyalakan mesin nya, tujuan utama mereka adalah ke rumah salah satu kerabat mereka di sana.
"Mom?" suara Lizzie terdengar lemah.
"Yes, sweetie? katakan ada apa, jangan memendam nya sendirian, daddy mungkin tidak bersama kita, tapi mom akan selalu bersamamu dan kedua adikmu." Cloey berusaha menahan pedih hatinya, dia tidak tau akan bagaimana nasib mereka ke depannya nanti. Namun kini cukup selamat saja, dia sudah sangat bersyukur.
Sementara orang-orang jahat itu pasti akan berpikir jika mereka sudah tiada, lenyap bersama dengan puing-puing bangunan rumah tersebut. Ledakan itu begitu besar, dia yakin, orang-orang di kota tersebut pasti akan geger sebentar lagi. Jarak rumah mereka cukup jauh dari pemukiman penduduk lokal. Setengah jam perjalanan, namun ledakan sedasyat itu, pasti akan menciptakan kericuhan juga rasa penasaran masyarakat kota tersebut.
"Bisakah kita pergi saja sejauh mungkin dari kota ini? jangan libatkan keluarga grandfa Greg." Wajah lesu Lizzie menjelaskan akan terjadi sesuatu jika mereka tetap berada di kota kecil itu.
"Baiklah, kita akan berlayar sampai Dimana perahu kecil ini bisa membawa kita pergi." Mina meletakkan Leah di dalam keranjang buah, yang kebetulan ada di perahu kecil itu.
"Apa yang ingin kau lakukan, Mina?" tanya Cloey heran.
"Aku ingin menyala kan mesin perahu ini, nyonya. Agar kita lebih cepat menjauh dari tempat ini." Terang Mina menoleh.
"Tidak! jangan sekarang!" tegas Cloey, tadi suaminya sempat berpesan saat baru membangun kan nya. Nyalakan mesin perahu saat sudah sejauh satu jam perjalanan. Dan sekarang baru beberapa menit berlalu.
"Tunggu satu jam lagi, itu perintah mutlak suamiku." Jelas Cloey menatap ke arah Mina.
__ADS_1
"Baiklah, nyonya." Mina kembali mendekap erat tubuh mungil Leah, untuk menghalau hawa dingin. Sementara Lizzie meringkuk dibalik selimut tebal didepan sang ibu.
Pikiran mereka menerawang jauh ke depan, entah apalagi yang akan terjadi. Mereka hanya bisa berdoa, agar selalu di lindungi dan jauhkan, dari jangkauan orang jahat yang sedang mengincar nyawa mereka sewaktu-waktu jika mereka lengah.