
Grend menatap potret seorang gadis di ponsel nya, dengan tatapan sendu penuh penyesalan.
Tok tok tok
Grend menatap ke arah pintu, dia tau pasti sang ibu yang tengah mengetuk pintu kamar nya. Dengan langkah gontai, Grend beranjak menuju pintu. Sebelum membuka nya, pria itu terlihat menarik nafas dalam-dalam.
Klek
Terlihat seorang wanita paruh baya tengah tersenyum teduh ke arah nya.
"Apa mommy mengganggu mu, sayang?" tanya sang ibu menatap raut wajah sang anak yang terlihat sedang tak ingin di ganggu.
"Tidak mom. Masuk lah.." Grend mempersilahkan sang ibu untuk masuk ke kamar nya. Selama ini Grend paling tidak suka jika seseorang masuk ke dalam kamar nya tanpa ijin dari nya terlebih dahulu.
"Tidak sayang, mom hanya ingin mengingatkan saja jika ulang tahun pernikahan mom dan dad, akan di selenggarakan di rumah saja tahun ini. Dad ingin kita berkumpul bersama keluarga besar yang lain, dan merasakan momen kekeluargaan lebih dalam." Terang sang ibu. "Jika kau ingin mengundang teman-teman mu, kau bisa mendekorasi taman belakang untuk kalian berpesta barbeque. Kami bisa merayakan nya di dalam rumah saja. Di ballroom kecil kita mom rasa cukup. Kami sudah cukup tua untuk bermain-main di udara malam yang dingin di luar," lanjut sang ibu menjelaskan sambil terkekeh pelan.
"Baik mom, aku seperti nya tidak mengundang siapapun tahun ini." Grend tersenyum masam. Bayangan penolakan Helen masih membekas di ingatan nya.
"Baiklah, tapi jika kau berubah pikiran. Kau bisa mengatakan nya pada paman Mark, kau tau paman mu itu sangat bisa di andalkan dalam hal apapun." Tangannya terulur mengelus pipi sang anak, Grend lebih tinggi dari nya.
"Baik mom," ujar Grend menatap manik teduh ibu nya. Wanita yang sudah melahirkan nya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Grend kembali berbaring di kasur king size milik nya, pikiran nya masih memikirkan cara lain untuk membujuk Helen. Meski kemungkinan nya kecil, namun dia akan berusaha lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa dengan raut wajah mu? kau terlihat semakin jelek saja." Oceh Zion menelisik air muka Helen yang sejak tadi terlihat menyimpan banyak beban pikiran.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, aku memang jelek kau saja yang selalu terheran-heran melihat ku. Padahal setiap hari wajah ku tidak ada yang berubah-ubah." Balas Helen kesal, rupa nya beban pikiran nya membuat nya sedikit mudah terpancing emosi.
"Bisa kah kalian berdua diam!" titah Berea tak kalah kesal. Suara datar nya membuat mulut Zion seketika bungkam. Padahal baru saja dia berniat membalas kalimat Helen.
"Apa kau sedang ada masalah?" Helen menggeleng pelan, tidak mungkin dia bercerita pada kedua temannya soal ajakan Grend kemarin. Apa lagi Zion, pria itu pasti akan mengatai nya bodoh, jika masih memikirkan tawaran orang yang sudah pernah jahat pada nya.
"Katakan saja, kami ini teman mu. Kecuali kalau kau sudah merasa bosan berteman dengan ku dan Berea." Helen terlihat panik, tentu saja dia suka berteman dengan kedua nya meski kadang mulut Zion sering kali setajam belati.
"Katakan lah, kami akan membantu mu mencari kan solusi jika perlu." Sambung Berea seolah paham akan kegundahan hati Helen.
Dengan ragu-ragu Helen menceritakan kejadian kemarin siang pada kedua teman nya. Ada rasa malu karena dia ternyata memikirkan ajakan tersebut. Terlihat sekali jika dia masih menaruh hati pada pria brengsek itu.
Berea terlihat tenang dan berusaha mencerna kalimat demi kalimat teman nya, berbeda dengan Zion. Reaksi pria itu terlihat berlebihan.
"Apa kau ini bodoh atau bagaimana! apa kau lupa bagaimana si brengsek Grend itu sering melecehkan mu? apa kau tidak berpikir jika pria itu sedang merencanakan rencana jahat di belakang mu. Menjebak mu parah nya lagi jika mereka nanti memperkosa mu beramai-ramai!" Ujar Zion menggebu-gebu, emosi nya tiba-tiba memuncak melihat kebodohan teman nya itu.
Berea hanya menggeleng kan kepala melihat reaksi Zion, "kalau kau hanya ingin membuat mental nya semakin tertekan. Lebih baik kau diam." Sela Berea menatap tajam ke arah Zion.
Zion berdecak kesal, dia hanya berniat untuk melindungi teman nya.
"Aku kan hanya ingin melindungi nya saja, kenapa aku jadi salah." Zion mendengus jengkel. Lalu kembali melanjutkan makan siang nya yang sempat tertunda.
"Lalu bagaimana menurut mu? apa kau ingin menghadiri nya? jika iya, aku akan menemanimu ke sana. Kita lihat, seberapa besar nyali pria brengsek itu untuk mengerjai mu." Hampir saja Zion tersedak makanan nya.
"Apa kau juga sudah gila! bagaimana jika kalian di kerjai berdua, kau memang galak tapi kalau di keroyok bagaimana..." ujar Zion dengan suara tinggi, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat nya.
"Diam lah, kalau kau tak bisa membantu. Kau mau ikut atau tidak? aku hampir tidak pernah menghadiri acara-acara seperti itu. Pasti di sana banyak makanan enak, bukan kah Grend anak seorang pengusaha?" Ucap Berea santai.
__ADS_1
"Apa orang tua mu sudah tidak mampu untuk membelikan mu makanan enak? sampai kau harus mengais makanan di pesta orang lain." Zion terus mengomel kesal. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada sahabat nya.
"Ck! kalau gratis itu pasti lebih enak. Kau mana mengerti sensasi nya," Zion mencebik mendengar kalimat sang sahabat yang menyebal kan di telinga nya.
"Aku ikut, dan kau." Zion menilik penampilan Helen kemudian menghela nafas berat. "Pergilah ke salon bersama Berea, rubahlah penampilan mu itu." Titah Zion datar, namun membuat sudut bibir Helen terangkat. Dia tau Zion pria yang baik, hanya saja sikap nya yang blak-blakan terkadang membuat hati ketar ketir menahan geram.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah rumah besar terlihat seluruh anggota keluarga tengah berkumpul. Dari penampilan mereka, bisa di pastikan jika keluarga tersebut akan menghadiri sebuah pesta.
"Apa kau yakin tidak ingin ikut sekalian sweetie? kita bisa menjemput teman mu itu, apa Zion juga ikut?" tanya sang ayah memastikan.
"Zion ikut dad, dia akan menjemput ku kemari lalu menjemput sahabat ku Helen. Daddy dan mommy pergi lah duluan, aku akan menyusul nanti. Jangan khawatir, aku akan menjaga diriku dengan baik." Tolak Berea sehalus mungkin. Dia tak ingin melukai hati sang ayah karena penolakan nya.
"Kau dengar dad, putri kesayangan mu itu bisa menjaga dirinya sendiri. Ayo, aku tak ingin ke pesta dengan datang terlambat." Ajak sang istri dengan suara datar. Sejenak dia menatap ke arah putri dengan tatapan yang entah lah.
"Jaga sikap mu, jangan membuat masalah." Ujar nya penuh peringatan, tak lupa tatapan penuh intimidasi menyorot tajam ke arah putri nya.
"Putri ku tak akan membuat kekacauan, jika saja tidak ada yang memulai nya. Aku lebih percaya pada putri ku dari pada orang lain. Hati-hati lah saat di perjalanan nanti, kabari daddy jika kau akan menyusul." Kalimat penuh pembelaan terlontar tegas dari mulut suami nya, sang istri hanya bisa mendesah pasrah. Selalu saja seperti itu, bahkan ketika sang anak melakukan kesalahan besar sekalipun. Ada saja pembelaan yang mampu membuat putri nya itu terbebas dari kesalahan dengan mudah.
Zion ternganga melihat penampilan Helen yang nampak membuka, hampir saja air liur nya menetes.
"Lap air liur mu, Zion!" tegur Berea membuat Zion kelabakan mengelap mulut nya.
"Ck! kau ini.." kesal Zion pias, pria itu menahan malu. Selama ini dia selalu saja mengatakan Helen jelek, nyatanya kecantikan hanya butuh dana yang cukup. Maka semua teratasi dengan mudah.
"Ayo Helen, mari kita lihat reaksi pria cabul itu malam ini. Aku yakin jantung nya pasti akan langsung kejang-kejang setelah melihat penampilan mu nanti." Berea menggandeng lengan Helen membawa nya menuju mobil.
__ADS_1