Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 100: Tercengang, Menenangkan


__ADS_3

"Kalian ini, bisa diem gak." sentak mahasiswa lain yang malas mendengarkan keabsurtan teman-temannya itu, sedangkan yang mereka perdebatkan malah sibuk memainkan ponsel dengan menikmati bersandar di motornya sendiri.


Rose tengah menunggu seseorang. Orang yang bersikeras ingin melihat kampusnya, walau sudah dijelaskan untuk berkunjung lain kali saja. Tetap saja, orang itu tidak mau mendengarkan. Keramaian hari ini, bisa menjadi hal tidak baik untuk sang kakak. Elisa. Wanita yang usianya terpaut lima belas tahun darinya.


Umur memang sudah dewasa, tapi tidak dengan pola pikirnya. Ka El terbiasa di lindungi, bahkan selama ini menempuh pendidikan home schooling. Program pendidikan yang bisa disesuaikan dengan jadwal anak, tetapi ini juga bertujuan agar anak mendapatkan perhatian lebih hingga fokus tidak terbagi.


Niat hati ingin duduk santai sembari menunggu. Namun kedatangan Geng Cantika mengubah segalanya. Para mahasiswa was-was dengan apa yang akan ketiga gadis itu lakukan, sedangkan Rose tetap tenang membiarkan para gadis menghampirinya.


"Cupu, Lo dateng ke kampus? Gak salah nih." Sarah meledek, seakan Rose takut bersaing.


Dela mengibaskan rambut, lalu menatap Rose dengan tatapan sinis. "Mending pulang aja. Daripada nangis, nanti cari emaknya lagi."


Sindiran demi sindiran hanya didengarkan. Celotehan dari A sampai Z hanya dianggap angin lalu, karena apa? Geng Cantika, terutama Dela dan Sarah. Kedua gadis itu tidak berani menyentuhnya. Jadi hanya tengah membual dengan busa yang melimpah. Selama beberapa menit dibiarkan hingga terdengar suara klakson mobil dari arah depan sana.


Sarah begitu kesal menghentakkan kaki, bersama Dela serempak berbalik ke belakang untuk melihat siapa yang menganggu kesenangan mereka. Mata melebar dengan mulut menganga. Sebuah mobil sport terbaru dari Mercedes-benz. Wow, siapa yang tidak takjub melihat mobil semewah itu?


"Awas kecoa masuk." ucap santai Rose seraya melepaskan earphones yang terpasang di telinga, lalu berjalan meninggalkan motornya.


Langkah kakinya terus maju menghampiri mobil yang terpaksa berhenti karena ada penghalang di depannya. Namun, Rose tak tinggal diam karena ia tahu. Jika yang mengendarai mobil itu, kakaknya sendiri. Tanpa basa-basi, dibukanya pintu mobil kemudi. "Ka El, matikan mesin! Cepat turun."

__ADS_1


"Hehehehe, Princess. Kakak lupa, matiin mobil gimana." seloroh Elisa nyengir kuda, membuat Rose menahan nafasnya. "Kamu aja, ya. Kakak turun dan sekalian parkirin mobilnya."


Tak perlu berdebat. Elisa turun, lalu Rose naik hanya untuk memarkirkan mobil sport yang kini menjadi pusat perhatian semua orang. Gadis cupu yang biasa mengayuh sepeda. Sekarang bisa mengendarai motor sport, bahkan mobil sport juga. Wow. Tidak pernah terbayangkan.


Setelah menjadi pusat perhatian. Rose mengajak Elisa pergi meninggalkan tempat parkir begitu saja. Tanpa mempedulikan lirikan mata Sarah dan Della yang iri dan juga menyelidik. Begitu juga dengan para mahasiswa yang keheranan. Gadis itu, membawa kakaknya untuk berkeliling kampus seperti yang diinginkan sang kakak.


Berjalan melewati beberapa lorong, menjelaskan beberapa ruangan yang pasti seperti tengah menjadi tour guide secara dadakan. Mommynya selalu berpesan. Jika keadaan jiwa Elisa, tidak sama seperti anak lainnya. Meski begitu, jangan pernah membedakan. Sesungguhnya manusia merasa diterima, ketika mendapatkan perlakuan yang sama.


Satu jam berlalu hanya untuk berkeliling. Rose lelah mengikuti keinginan sang kakak yang terus berbelok dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya, ia berhasil membujuk kakaknya untuk beristirahat di kantin. Untung saja, hari ini pelajaran ditiadakan jadi bisa sedikit bebas. Tentu sebelum acara pemilihan senat peiode kedua dimulai.


"Princess, Apa kamu suka makan disini?" tanya Ka El bersemangat menunggu pesanannya yang sudah dipesankan oleh Rose.


Satu pernyataan sederhana bagi Rose, tetapi tidak bagi Elisa. Wanita itu, terlihat gusar dengan tatapan mata kesana kemari. Apakah ada yang mengawasinya? Rose ikut mengedarkan pandangan. Namun tidak ada siapapun selain beberapa mahasiswa. Jadi, apa yang membuat kakaknya ketakutan dan cemas?


Rose meraih tangan Elisa, mengusapnya seperti yang diajarkan sang mommy. Tak lupa menatap manik mata wanita itu penuh cinta, membiarkan kehangatan mengalir sebagai sesama saudara. Tidak ada kata, tidak ada pertanyaan. Keduanya hanya saling menenangkan mencoba memberikan dukungan.


"Princess, dia ada disini." lirih Ka El dengan pandangan ke belakang Rose.


Rose memejamkan mata, mempertajam pendengarannya. Suara langkah kaki yang tegas, hembusan angin menyebarkan aroma parfum yang cukup familiar. Langkah kaki itu, ia kenal. Uncle Justin, tapi kenapa kakaknya gelisah? Padahal selama ini yang sering menjadi bodyguard, sang kakak adalah pria itu.

__ADS_1


Genggaman tangan yang semakin erat, membuat Rose bisa merasakan ketakutan dari kakaknya. Gadis itu membuka kelopak matanya, lalu menatap Elisa dengan tatapan lebih lembut lagi. "Ka El, calm down. Uncle Justin tidak akan melukaimu."


"Siapa yang bilang, Aku akan menyakiti keluargaku sendiri?" sahut Justin yang mendengar penuturan dari Rose.


Helaan nafas panjang, Rose tak bisa bergerak karena kakaknya menggenggam tangannya semakin erat, bahkan tanpa sadar hampir meremukkan tulang jemarinya. Bukan hanya gadis itu yang tengah menahan rasa sakit. Justin juga harus berlagak baik-baik saja. Padahal berkat Elisa, ia mendapatkan luka jahitan di perutnya.


"Nona Elisa, ayo kita pulang. Queen pasti mencarimu." bujuk Justin begitu manis, Rose saja tersedak karena mendengar ucapan unclenya yang begitu meluluhkan hati. "Rose, bujuk Kakakmu, buat uncle. Please."


Tatapan memelas yang Justin hindari. Kali ini, ia tak peduli lagi dengan imagenya. Elisa tidak akan mau mendengarkan dirinya, tetapi bisa mendengarkan Rose sebagai adiknya. Bujukan yang selalu tidak mempan, maka bisa dilakukan dalam sekejap oleh gadis bermata biru. Itulah keunikan dari kedua bersaudara.


Apa yang terjadi di antara Rose, Justin dan Elisa? Semua hanya untuk membujuk Elisa kembali ke rumah bersama Justin. Namun, pemandangan yang dramatis itu membuat Sarah dan Della mengambil kesempatan untuk membuat berita terbaru. Apalagi setelah Justin memberikan kecupan kening sebagai imbalan karena sukses membujuk kakak yang keras kepala.


Jepretan demi jepretan memenuhi gallery ponsel milik Della. Senyuman sinis terkembang sempurna, "Kita cabut! Sebelum pemilihan senat dimulai, kita harus menghadirkan bukti ini ke meja para rektor. Satu saja kabar miring, maka Si Cupu langsung di DO dari kampus. Berita terkini, calon anggota senat menjadi simpanan om-om."


Benar-benar licik dan picik. Suara tawa kemenangan bersambut tepuk tangan. Sarah dan Della pergi meninggalkan tempat mereka, tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, Rose menemani Elisa untuk menikmati bakso pesanan mereka dan tentu Justin harus ikut merasakan pedasnya sambel buatan ibu kantin. Maknyus.


Satu jam kemudian.


Speaker kampus mengumumkan bahwa seluruh mahasiswa harus berkumpul di ruangan aula untuk pemilihan senat peiode dua. Dimana di periode kali ini, akan ada beberapa tantangan yang wajib diikuti ketiga finalis. Namun, sebuah berita yang mengemparkan telah tersebar. Para mahasiswa sibuk bergunjing.

__ADS_1


__ADS_2