Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 47: PEKERJAAN PRITA - MENYUAPI SANG ISTRI


__ADS_3

"Aku, nggak kenapa-napa. Bagaimana keadaan ibu kamu? Apa sudah membaik." Tanya balik Sarah, yang tak ingin menunjukkan sisi amarahnya pada sang kekasih.


Riswan berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. Meskipun ketegangan di wajah pria itu sekilas terpatri dalam ingatan Della. "Iya, Ibuku sudah membaik, tapi aku harus bergegas pulang cepat hari ini. Apa kamu tidak apa-apa, jika pulang sendiri?"


"Gue, pikir. Selama beberapa minggu ini, kalian sudah jarang untuk keluar bersama. Apalagi untuk sekedar mengantar jemput. Iya kan? Jadi, aku rasa, Sarah sudah terbiasa." Della sengaja menyindir Riswan begitu dalam dan membuat pria itu mendengus kesal, meski tetap berusaha tenang.


"Pulanglah. Aku bisa pulang bersama Della." ucap Sarah membiarkan sang kekasih untuk meninggalkan dirinya.


"Iya, gue bisa pulang sama Sarah. Jadi, lo gak usah khawatir. Meski, gue rasa. Kayaknya banyak hal yang lo sembunyiin, tapi gue nggak mau tanya karena itu pribadi lo. Sekarang gue mau pamit aja. Yuk, Sar, kita tinggalkan kekasih lo yang super sibuk ini."


Della menarik tangan Sarah, gadis rambut sebahu itu membawa temannya untuk menjauh dari lapangan dan Riswan. Sontak saja membuat pria itu mendengus kesal dengan hentakan kaki.


"S!al. Kenapa, sih, itu cewek pake nyindir gue segala," gumam Riswan dengan kesal, setelah kepergian sang kekasih bersama temannya. Pria itu memilih untuk menetap di lapangan dan bukannya pergi meninggalkan kampus untuk memeriksa keadaannya.


Prita yang sudah pergi. Ternyata masih berdiri tidak jauh dari tempat itu, hanya saja gadis itu menjadi seorang pengamat. Ia terlihat benar-benar, tengah mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan Riswan, "Sebenarnya, Lo itu siapa? Kenapa di satu sisi, lo mau, ngelakuin semua permintaan Sarah dan di sisi lain, lo juga menyembunyikan kehidupan pribadi yang penuh rahasia."


Kehidupan Prita berubah drastis. Gadis itu, kini menjadi seorang mata-mata untuk seseorang yang tak dikenal, dan berkat pekerjaan yang saat ini tengah ia jalani. Maka beberapa informasi sudah dikantongi. Tentu saja tanpa harus bersusah payah karena informasi yang tersedia hanya bisa digunakan sebagai modal tujuan tugas utama saja.


Sementara di sisi lain. Seseorang baru saja keluar, dari sebuah rumah yang kumuh dengan tembok berlubang. orang itu keluar melalui pintu di belakang, lalu menelpon seseorang yang entah siapa, "Siang, Bos. Saya sudah menemukan lokasinya. Apakah, Anda ingin datang kemari?


"Tidak. Itu tugasmu dan aku hanya ingin hasil akhirnya. Pastikan satu hal. Jangan ada yang melukai orang itu, termasuk kamu," jawab dari seberang dan langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban anak buahnya.

__ADS_1


"Wah, Bos, sungguh hebat karena dalam satu detik saja. Sudah menemukan semua yang menjadi rahasia dan aku beruntung bisa menjadi salah satu anak buahnya. Yah, meskipun masih dalam percobaan, tapi aku janji pada diriku sendiri. Akan kulakukan yang terbaik untuk pekerjaanku kali ini."


Orang itu, bergegas meninggalkan tempat yang baru saja ia kunjungi tanpa meninggalkan jejak satupun. Waktu berlalu begitu cepat. Namun, tidak untuk seseorang yang merasakan waktu berjalan sangat lambat. Dimana seorang wanita tengah menatap pasien yang ada di atas brankar melalui dinding kaca yang ada di depannya.


Suara langkah kaki terdengar mendekati wanita itu. Langkah yang terdengar pasti, "Siang, Bos. Ini hasil laporan terbaru dari pasien. Apa masih ada yang bisa saya bantu?"


Wanita itu mengibaskan tangan, memberikan isyarat bahwa ia tidak memerlukan bantuan apapun lagi. Isyarat itu membuat orang yang baru saja datang, meletakkan file laporan cek medis pasien ke atas meja. Kemudian, bergegas kembali memutar arah untuk keluar dari ruangan bosnya.


"Apapun yang terjadi nanti. Aku hanya bisa berharap, semua akan tetap baik-baik saja seperti saat ini. Jika kamu memang ditakdirkan untuk kembali. Maka, aku akan menunggumu, bukan untuk menjadi pendampingku. Akan tetapi, untuk mengenalkan mu, sebagai ayah putriku,'' kata wanita itu dan berbalik, ia tak ingin berlarut-larut memikirkan hal yang belum terjadi.


Wanita itu tak lain adalah Asfa. Queen yang sekarang memiliki seorang suami dan putri cantik. Namun, dirinya sadar benar bahwa mantan suaminya masih hidup. Saat ini, yang ada di dalam pikiran, hanya ada dua hal. Bagaimana perasaan Vans dan juga Rose. Jika menyangkut sang suami, ia percaya akan selalu mendapatkan dukungan dan juga semangat dari pria itu.


Namun, bagaimana dengan putrinya, Rose. Apakah sang putri mampu menerima kenyataan, bahwa selama ini. Gadis itu hidup bersama seorang ayah tiri, bukan ayah kandung. Terlebih sosok ayah kandung yang sengaja disembunyikan. Meski demi menjaga keamanan Abhi. Apakah Rose mau menerima kebenaran hidupnya. Jika, gadis itu mengetahui sang mommy telah membuat satu kebohongan besar selama bertahun-tahun.


"Boleh, Aku masuk?" tanya seseorang yang membuka pintu, lalu berjalan mendekati meja kerja Asfa.


"Kakak di sini? Apa, Ka Varo juga ikut?" tanya balik asfa tanpa menatap siapa yang datang.


"Iya, Aku datang sendiri. Apa kamu sudah makan?" Vans bertanya sekali lagi pada Asfa, dimana wanitanya tengah sibuk memeriksa dokumen.


Asfa meletakkan dokumennya ke atas meja, lalu berbalik dan membalas tatapan mata Vans. "Aku, sudah makan, Ka. Tumben, Kakak datang kemari?"

__ADS_1


Vans meletakkan rantang makanan ke atas meja kerja sang istri, lalu tanpa memberikan jawaban apapun. Tangannya sibuk mengeluarkan satu persatu rantang, yang ternyata berisi makanan hangat. Tentu saja makanan itu, memang baru saja matang Kemudian, pria itu, tak lupa membimbing Asfa untuk duduk di kursi kerja dengan benar.


"Kamu, boleh saja bohong dengan orang lain, tapi jangan pernah bohong denganku. Aku, bukan hanya suamimu karena aku juga sahabat sekaligus musuhmu. Aku tidak mempermasalahkan, jika kamu sibuk bekerja atau sibuk menjaganya. Bukankah sudah kubilang, aku memiliki syarat untuk membiarkanmu hidup bebas."


Vans menyatukan sejumput nasi yang dibubuhi sepotong daging rendang, lalu ia mengulurkan suapan pertama agar istrinya tidak sakit karena kelaparan.


"Ka, Aku sudah makan," tolak Asfa menyingkirkan tangan Vans yang menggantung di depan bibirnya untuk memberikan sesuap nasi.


"Apa yang kamu makan? Coba sebutkan menunya." Vans sengaja menyindir Asfa karena pria itu tahu, bahkan sampai saat ini. Sang istri masih belum menyentuh satu butir nasi pun sejak semalam.


Asfa terdiam karena memang benar. Dia bahkan belum menerima satu suap nasi pun ataupun meminum setetes air minum sejak semalam. Semua terasa berat, tapi dirinya masih tetap bekerja, bahkan tadi pagi terburu-buru meninggalkan mansion. Setelah ada telepon darurat yang datang dari penjaga sang mantan suami.


Keheningan sang istri membuat Vans mengulurkan tangannya kembali. Pria itu menyuapi istrinya dengan telaten. Suapan demi suapan, akhirnya masuk dan membuat Asfa pasrah. Sepuluh menit berlalu. Wanita itu menyelesaikan menikmati makanan dari suapan tangan sang suami.


"Ka, sudah cukup. Aku sangat kenyang," ujar Asfa tak ingin menerima suapan lagi.


Vans mengangguk dan tak lupa merapikan rantang untuk kembali menjadi satu. Pria itu juga mencuci tangannya setelah selesai melakukan tugas seorang suami. Kemudian, ia menarik kursi lain, duduk dan menatap istrinya dengan tatapan serius.


"Bisakah, kita berbicara serius?" tanya Vans sedikit pelan.


"Always, apa yang mau kakak tanyakan padaku?" tanya Asfa memulai pada poin yang pasti tidak salah sasaran, ia tahu jika suaminya tengah dalam dilema.

__ADS_1


__ADS_2