Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 42: ISTRIMU! - BISIK-BISIK MAHASISWA


__ADS_3

"Kenapa seperti ini jadinya? Aku akan lihat apa yang terjadi dan setidaknya ini bisa menjadi tambahan bukti. Apalagi jika apa yang kupikirkan benar, maka wanita itu memang harus aku ajak kerjasama." sambung orang itu mengikuti kemana arah perginya sang wanita bercadar.


Wanita bercadar itu menghampiri pria yang tengah merayu sang wanita penghibur. Ia menarik tangan pria itu untuk menjauh dari kerumunan. Sayangnya, justru pria itu langsung menghempaskan, bahkan mendorong tubuh wanita bercadar hingga jatuh terjerembab ke lantai.


"Apa-apaan, kamu! Main tarik aja. Emang kamu siapa?" bentak pria itu membuat wanita bercadar melepaskan penutup wajahnya dan tatapan mata keduanya saling bertemu.


"Aku, Istrimu. Apa kamu lupa denganku? Aku sudah menunggumu di rumah, tapi apa yang kamu lakukan. Justru sibuk bermain dengan wanita penghibur," kata wanita itu menahan rasa di dalam hatinya.


"Istri? Istri yang mana? Aku memang memiliki istri, tapi istriku hanya sekedar pemuas nafsuku. Apa yang kamu pikirkan kan? Pergi saja karena aku tidak butuh kamu saat ini," Pria itu membentak seraya memberikan tatapan tajam, tapi setelah itu ia memilih untuk merengkuh tubuh wanita penghibur dan kembali melakukan apa yang tertunda.


Pemandangan di depan mata sangat menjijikan. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari seorang suami yang suka bermain wanita dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Dia pikir dengan kedatangannya memberikan teguran untuk kesekian kalinya, bisa merubah perilaku sang suami. Ternyata itu hanya angan semata. Jika bukan demi sang putri, ia tak akan se nekat saat ini dengan datang ke klub malam.


"Mas, pulanglah! Apakah kamu lupa dengan Sarah? Dia, putri kita dan dia membutuhkan kita. Aku mohon pulanglah bersamaku demi Sarah," bujuk wanita itu memelas dengan tatapan sendu, bahkan tak peduli jika harus mengemis dengan bersimpuh di depan kaki sang suami.


Sayangnya, pria itu bukannya luluh. Justru semakin jijik dengan tingkah wanitanya. Wanita yang memang sudah dinikahi dan memberikan seorang putri. Akan tetapi bukan berarti dia akan menjadikan istrinya sebagai ratu.


"Aku Atmaja, dan siapa kamu? Jangan kamu pikir setelah menjadi istriku, lalu seenaknya mengatur seluruh hidupku. Bagiku kamu hanyalah ibu sekaligus pembantu di rumah. Jadi enyahlah dari hadapanku" Pria itu benar-benar tidak ingin lagi berbicara dengan istrinya dan justru memilih untuk bersama wanita penghibur pergi meninggalkan wanita bercadar yang sudah menangis tanpa suara.

__ADS_1


Para pengunjung klub, melihat semua adegan itu seperti drama. Tidak ada yang menolong ataupun bertindak. Mereka hanya menyimak tanpa adanya rasa belas kasihan. Ayolah dunia ini memang seperti itu, penuh dengan orang-orang yang egois dan tak mau tahu urusan orang lain. Jangankan membantu, untuk sekedar mengulurkan tangan saja sangat untuk dilakukan. Orang-orang hanya ingin melihat dan mengabaikan seperti angin lalu.


Nyonya Atmaja memilih untuk bangkit dari tempatnya, lalu dengan menghapus air mata yang membasahi kedua pipi. Ia berjalan terseok-seok menyingkirkan rasa malu dan tak ingin melihat semua tatapan yang benar-benar menjijikan tertuju padanya. Tidak ada rasa kasihan lagi di dalam hatinya. Sudah cukup semua ini dan tak ada lagi perasaan.


"Aku berjanji sebagai istrimu. Aku akan membuatmu menyesal telah melakukan semua ini padaku. Aku masih menerima setiap kekerasan yang kamu lakukan, tapi setelah menduakanku berulang kali. Kini aku hanya peduli dengan putriku tak lebih dari itu," gumam nyonya Atmaja keluar dari klub.


Di saat wanita itu keluar. Seseorang mengikuti dari belakang dengan langkah yang pasti mengikuti istri dari Atmaja. Orang itu tak lain adalah Vincent. Pria yang berprofesi sebagai dokter. Ia tengah menanti sebuah kesempatan untuk mendapatkan pundi-pundi uang yang jauh lebih besar. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan nyonya Atmaja dan wanita itu langsung masuk begitu pintu mobil terbuka.


"Oh, **!!*! Kenapa dia masuk ke mobil itu. Siapa lagi yang menjemput wanita itu, atau jangan-jangan dia juga berselingkuh? Tidak. Itu tidak mungkin. Seorang wanita polos sepertinya tidak bisa berbuat hal licik." Vincent berpikir keras, tetapi tak menemukan jawaban, "Jika bukan selingkuh pasti ada sesuatu yang tersembunyi."


Sang rembulan berlari menuju peraduan, berganti mentari menyambut pagi. Ketika semua orang kembali melakukan aktivitas masing-masing. Begitu juga dengan anak-anak kampus yang mulai berdatangan memasuki area gedung perkuliahan. Lihatlah semua mahasiswa terlihat sangat semangat meskipun ada beberapa yang masih terlihat malas dan enggan untuk memulai jadwal yang mungkin terlalu padat untuk para mahasiswa.


"Huft, bukankah pagi ini seharusnya ada pemilihan, ya?" tanya seorang mahasiswa dengan pakaian simple boy.


"Iya, ya," jawab yang lainnya.


"Kalian mau memilih siapa? Apalagi demo yang terakhir itu. Demonya sungguh mengejutkan...,"

__ADS_1


"siapa-siapa yang kamu maksud?" tanya yang lain dengan antusiasnya tak lagi terkekang.


"Itu, loh, yang dulunya cupu. Sekarang kan udah bener-bener cantik banget. Wah, aku aja kalah, loh. Eh, tapi kalian dengar nggak sih. Kalau kemarin itu nggak ada yang berangkat."


"Oh, benarkah? Memang kenapa? Ada kabar terbaru nggak? Oh, ya aku dengar juga. Kebetulan sekali sih, ya. Ini genk cantika dan Rose kemarin nggak berangkat. Aneh nggak sih?"


"Bener juga, sih. Entah kenapa semua orang serempak untuk tidak berangkat padahal yang lainnya berangkat, tapi aku kemarin sempat lihat Sarah dan Dila. Keduanya itu lagi main di tempat wahana gitu. Di Mall tapi ya mungkin memang lagi pada malas belajar aja. Biasalah anak orang kaya. Kita yang orang gak mampu cuma bisa nyimak doank."


Perbincangan para mahasiswa begitu riuh memanaskan suasana pagi hari. Ada yang berbicara tentang ini dan ada yang berbicara tentang itu. Apalagi ketika membahas tentang demo yang dilakukan oleh Rose. Benar-benar semua yang mereka lihat seperti keajaiban dan itu sesuatu hal yang bisa dikatakan sangat mustahil. Terlebih selama ini kekuasaan dari geng Cantika tidak ada yang menandingi.


Di saat bersamaan sebuah sepeda motor melaju begitu kencang dan memasuki area parkir khusus motor. Tatapan mata semua orang terpana akan kedatangan motor itu, apalagi ketika orang yang menaiki motor turun lalu melepaskan helmnya. Untaian rambut hitam surai kemerahan benar-benar menggoda.


"Wow, itu bukankah Rose? Sejak kapan gadis itu bisa naik motor? Biasanya kan dia hanya naik sepeda."


Di sisi lain sebuah mobil juga memasuki area parkir. Mobil itu sudah jelas milik siapa. Sarah dan Dila keluar dari mobil secara bersamaan. Sementara Rose masih sibuk membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Gadis itu terlihat begitu modis dengan pakaian yang saat ini jauh lebih elegan dan lebih tertata rapi. Begitu juga dengan geng Cantika dimana kedua gadis itu terlihat selalu trendi, tapi disisi lain sebuah mobil kembali datang.


Si cantik Prita keluar dari mobil dengan penampilan lebih tertutup. Kenapa gadis itu seorang diri? Banyak sekali mahasiswa yang memiliki tanda tanya apa yang terjadi pada semua orang. Kenapa semakin hari justru semakin ada saja yang menjadi sebuah perbincangan, hingga para mahasiswa berlarian untuk memasuki gedung perkuliahan dan tentu saja setelah tanda bell masuk berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2