
Setelah memastikan Della akan tetap aman. Vincent keluar dari kamar hanya untuk mengambil sapu, setidaknya apapun yang akan dikatakan putrinya nanti. Tetap hanya dia yang tahu. Kepergian pria itu, membuat Della berusaha mengambil ponselnya. Kemudian ia mencari alat perekam dengan susah payah.
"Akhirnya, Aku bisa menemukan yang aku butuhkan." Pandangan mata yang samar, tak membuatnya hilang arah. Ditekannya perekam suara itu, "Malam itu, kami berenam ...,"
Pengakuan yang dilakukan oleh Della. Tidak seorangpun mendengarnya, tetapi ia merekam itu yang menjadi sebuah tanda bukti. Namun, gadis itu, tidak sebodoh itu karena ia merekam hanya untuk membuat perasaannya lega. Ketika rekaman itu berakhir ia menyimpan ponselnya ke tempat yang aman. Meskipun dengan susah payah dan juga terjatuh berulang kali.
Sepuluh menit kemudian. Papa Vincent kembali ke kamar itu dengan membawa sapu, tetapi ia terkejut ketika mendapati Sang Putri sudah terbaring tak berdaya di lantai. Ia tah, serum kebenaran hanya membuat Della tidak sadarkan diri. Namun sebagai seorang ayah tetap saja khawatir. Dilemparkannya sapu ke sembarang arah.
__ADS_1
Vincent bergegas menolong Della. Malam ini, dia gagal mendapatkan informasi yang seharusnya menjadi titik terang. Kini ia hanya membiarkan sang putri untuk beristirahat dan setelah menyelesaikan apa yang harus ia kerjakan. Pria itu meninggalkan kamar putrinya.
Sejenak langkah kakinya terhenti tepat di tengah di lantai atas di mana pandangan matanya tertuju pada seluruh isi rumah. Rumah yang dibangun dengan usaha keras dan tanpa emosi. "Aku melakukan segalanya demi putriku, tapi gadisku terlalu banyak melakukan hal yang tidak seharusnya. Sekarang, bagaimana caraku menyelamatkan dia? Jika semua rahasia saja masih terus-terusan disembunyikan."
"Apakah aku harus menggunakan cara kekerasan? Tidak mungkin. Dia itu, putriku satu-satunya. Jika terjadi sesuatu pada Della. Apa gunanya kerja keras ku selama ini?"
Gundah gulana yang dirasakan oleh Vincent. Tentu tidak akan mengubah apapun karena ia telah menciptakan seorang putri monster yang mengikuti jejak kekejamannya. Tanpa sadar, kedua tangannya memberikan makan seorang anak dengan tetesan darah yang tak nampak. Jika selama ini Della dibesarkan dengan kasih sayang dan bukan dengan taktik.
__ADS_1
Namun usaha mereka seperti sia-sia karena pria itu, tidak memberikan respon apapun. Setiap kali ditanya, justru selalu memegangi kepala. Memang ini siksaan yang nyata. Ketika seseorang yang memiliki amnesia diberikan tekanan untuk segera mengingat. Mungkin para dokter berpikir. Jika Abhi langsung mengingat, maka pekerjaan mereka akan selesai dan bisa kembali ke keluarga masing-masing.
Sayangnya, mereka itu sibuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Sehingga Abhi merasa tertekan dan ingatannya semakin kabur. Suara jeritan kesakitan terus-menerus menggema di ruangan tertutup itu. Tiba-tiba Vans datang dan membuat para dokter terdiam.
"Tuan, Anda datang kemari?" tanya salah satu dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Abhi.
Vans menatap para dokter yang ketakutan karena melihat kedatangannya. Wajah-wajah tegang dengan keringat dingin bercucuran itu. Benar-benar mencurigakan. Sebagai pemimpin, dia tidak ingin membuat asumsi sendiri. Lalu, ia berjalan menuju ruangan di mana Abhi tengah dirawat. Ketika melihat apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Rasa panas menyebar ke seluruh pori-porinya. Geram sekali ketika netranya menikmati pemandangan yang sungguh tidak manusia. Kondisi Abhi tidak membaik, tetapi justru seperti orang tidak waras. Beberapa kabel alat kejut jantung masih dalam posisi on. Belum lagi banyaknya benda yang berserakan di lantai ditemani jeritan rasa sakit dari Abhi sendiri.
"Jelaskan apa yang kalian lakukan pada Abhi." Teriakan Vans langsung membungkam mulut para dokter yang berdiri tak jauh darinya. Mereka semua terkejut dengan tubuh bergetar hebat. "Buka mulut kalian!"