
Ketika mendengar pernyataan sang mommy. Rose berbalik menatap ke arah wanita yang ternyata sudah berjalan ke arahnya. Langkah kaki yang tegas dengan tatapan mata tenang menenggelamkan, namun senyuman itu terus tersungging mencoba mengatakan. Putri ku, semua akan tetap sama dan baik-baik saja.
"Ayo, hari ini, Aku ingin merasakan menjadi penumpang mobil saja. Sudah lama tidak melihat putriku bermain di jalanan. Come, Princess."
Tidak ada kesempatan untuk Rose menolak keinginan mommynya. Kedua wanita beda usia pemilik netra biru berjalan berdampingan menuju pintu utama Villa, sedangkan Vans menjadi pusat perhatian sisa anggota keluarga Luxifer. Jelas saja, mereka ingin tahu apa alasannya membawa Abhi kembali ke dalam keluarga.
Bukannya menjelaskan, tetapi pria itu justru melanjutkan menyendok lauk dari mangkuk, lalu menikmati sarapan paginya. Melihat itu, Papa Luxifer tak ingin memaksakan kehendak, "Kita makan dulu, Rania jangan lupa berikan data yang Papa minta kemarin."
"Pasti Papa belum cek e-mail. Rania udah kirim semalam, sebelum jadi santapan harimau." Rania menjabarkan dengan lirikan mata ke arah suaminya yang langsung tersedak makanan. "Makan yang bener, Hubby. Siapa yang mau rebut coba?"
"Hmm. Aku tahu," balas Varo mengambil gelas air miliknya mencoba untuk melupakan perkataan sang istri yang sebenarnya tertuju padanya. "Vans, bagaimana dengan perkembangan proyek kerjasama yang kita sepakati empat bulan lalu?"
"Semua aman, tapi Asfa akan kesana untuk melihat sejauh apa perkembangannya. Aku sudah melarang, dan mengusulkan diriku saja yang pergi, tapi kamu tahu bagaimana Queen." Jawab Vans apa adanya karena itu hanya tentang pekerjaan yang sudah hafal, meski di luar kepala.
Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Jika menyangkut Queen. Pekerjaan apapun pasti akan tinggal done saja. Lagi pula, wanita itu semakin bertambah usia. Justru semakin ganas dan cekatan. Apa yang tidak dilakukannya dalam hitungan cepat?
__ADS_1
Meski begitu, Asfa tetap tidak menyukai menjelaskan sesuatu yang tidak perlu dijelaskan. Penting atau tidaknya sebuah pembenaran. Wanita itu hanya akan bersikap baik, lembut dan bersabar dengan keluarganya saja. Jangan salah paham. Seorang musuh bisa dijadikan kawan ketika sudah mendapatkan ampunan.
Maka dari itu, Asfa menjadi queen bukan karena ditakuti sebagai seorang pemimpin kejam. Melainkan ia menjadi dasar dari persatuan seluruh naungan Mafia Phoenix, bahkan Kakek Burhan selalu saja terharu dengan cara Asfa menghandle dunia yang begitu kejam.
Wanita banyak yang takut akan darah, tapi Asfa biasa saja. Luka fisik bisa diobati. Namun, luka hati? Waktu pun hanya akan menjadi kenangan masa lalu tanpa jejak yang tersisa. Semua terbentuk sejak lama. Meninggalkan ruang makan di dalam Villa Pelangi. Wanita yang memiliki pengaruh besar itu tengah duduk di kursi samping pengemudi.
"Mom, sampai kapan mau diem trus?" Rose menoleh ke arah mommynya sekilas, "Rose tahu, ada yang akan mommy sampaikan. Aku siap mendengarkan."
Sebenarnya cukup kontras karena mobil yang dikendarai oleh Rose, merupakan sebuah mobil sport kesayangan mommynya. Warna hitam dengan mesin modifikasi. Pernah sekali Rose bertanya, kenapa mobil itu menjadi begitu istimewa. Sang mommy memberikan jawaban yang sangat mengejutkan.
"Mobil ini hanya benda mati, tapi kenangannya tidak bisa tergantikan. Di dalam kehidupan ku, hanya dua mobil yang menjadi saksi sejarah. Mobil ini dan mobil dari Ka Varo. Rose, sebanyak apapun uang, tidak akan bisa membeli suka duka yang pernah kami lalui bersama."
__ADS_1
Begitulah jawaban dari mommynya. Memang benar, meski ditawarkan banyak jenis mobil sport terbaru. Tetap saja, hanya akan ditolak mentah-mentah. Mari kembali ke masa kini. Dimana Rose dan Asfa keluar dari dalam mobil. Penampilan yang terlihat mewah, walau hanya dengan outfit sederhana. Tetap saja, kedua wanita itu menjadi pusat perhatian.
"Si Eneng, mau pesan yang sama, Neng?" tanya Bapak penjual es potong yang langsung menyambut kedatangan Asfa dengan penuh suka cita, bahkan terlihat seperti memberikan tatapan mata kerinduan. "Ini siapa putrinya, ya, Neng? Ibu ama anak, sama-sama cantik. Ayo duduk!"
Asfa tersenyum lalu menarik kursi plastik untuk dia duduki seraya memberikan isyarat pada Rose agar ikut duduk. "Mang, semua lancar 'kan?"
Si bapak penjual mengambil dua es potong dengan rasa durian bertabur coklat. Kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu di tusuk-tusuk. Setelah itu, dimasukkannya ke dalam sebuah cup berukuran sedang. Dua porsi es potong siap di hidangkan, "Silahkan dinikmati, Neng."
"Semua alhamdulillah lancar, Neng. Bapak juga bisa bangun rumah, anak istri tidak lagi ngekost. Syukur alhamdulillah banget ....,"
Rose hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh si bapak penjual es seraya menikmati es potong seperti yang dilakukan mommynya. Alih-alih hanya menyimak, Rose juga memperhatikan wilayah sekitar tempat tenda itu berdiri. Ternyata, itu sudah memasuki area taman khusus. Bagaimana bisa berjualan di daerah taman yang memiliki penjagaan di beberapa sisi?
"Pak! Mana punya ku. Udah nunggu lama, ini." Keluh seseorang dari balik pohon yang mungkin pelanggan terlupakan akibat kedatangan dari Asfa dan Rose, membuat si bapak penjual tergesa-gesa kembali ke gerobak miliknya.
Asfa tahu, jika putrinya masih memerlukan waktu untuk memahami keadaan sekitarnya, tetapi yang ia harapkan adalah Rose mau belajar menerima kenyataan bahwa Abhi tetap bagian dari hidup mereka. Suka, tidak suka. Mau, tidak mau. Hal itu tidak bisa diubah.
__ADS_1
"Rose, apa kamu tidak setuju, jika kami membawa pulang Papamu untuk dirawat intensif?" tanya Asfa lembut tanpa menatap putrinya yang masih mengunyah es potong lembut dengan potongan buah segar.