Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 104: Para Pendukung Kedua Finalis


__ADS_3

Kedua gadis itu adalah musuh bebuyutan. Jadi, siapa yang akan mereka pilih? Bagaimana jadinya nanti, jika yang menang adalah Sarah. Apakah kampus hanya dipenuhi jeritan para mahasiswa yang menjadi korban perundungan? Pasti berakhir menjadi tragedi bersejarah.


Lalu, jika yang menang Rose. Sarah pasti akan membuat keonaran bersama geng Cantika. Kenapa tidak ada pilihan yang tepat? Maju salah, mundur salah. Siapapun diantara kedua gadis itu yang akan menjadi pemenang. Sudah pasti mahasiswa lain yang mengalami guncangan tekanan batin.


Keputusan Pangestu Mahardika, membuat Queen menghela nafas pelan. Bisa dilihat begitu jelas. Pemuda itu tidak memiliki basic dari area tanding. Jika setiap orang mudah menyerah, bagaimana akan maju? Tantangan memang salah, tetapi seorang pemimpin bisa membenarkan dengan caranya sendiri.


Terlalu banyak wajah tegang dengan ekspresi wajah yang langsung bisa ditebak. Sepertinya, ini memang kesalahannya. Terlalu sibuk mengurus beberapa perusahaan dan mafia. Akhirnya dunia pendidikan yang terbangun di bawah kepemimpinan seorang Queen menjadi dipertanyakan kelayakannya.


Pangestu berjalan meninggalkan kursi tempatnya menjadi anggota finalis. Kini tiba waktunya Sarah untuk melakukan tantangan yang diberikan Rose. Wajah cemberut berusaha ditahan, senyuman tipis bersambut sorot mata kebencian.


Baru saja akan melangkah, tiba-tiba Rektor Wisnu maju. Sang Rektor membisikkan sesuatu pada Dominic dan berharap akan diberikan kelonggaran waktu. Queen yang bisa membaca ekspresi wajah hanya mengedipkan mata memberikan izin.


"Acara akan dilanjutkan setelah makan siang. Selamat istirahat selama tiga puluh menit." Dominic membuat pengumuman begitu jelas, para mahasiswa nampak bernafas lega dan berangsur-angsur meninggalkan ruang aula.


Begitu juga dengan para dosen. Satu persatu keluar dari pintu di depan sana, tetapi tidak dengan Rose. Gadis itu masih stay, sedangkan Sarah sudah dibawa pergi oleh Della sang sahabat. Hitungan menit, semua orang tak lagi tersisa kecuali keempat dewan juri, Rose dan seorang dosen yang duduk di barisan paling belakang.


Topeng dilepaskan memperlihatkan wajah yang familiar. Mommy, Uncle Dominic, Uncle Justin, Ayah Varo dan Papa Vans yang memang sudah menjadi dosen. Apa ini tidak berlebihan? Dia mendapatkan dukungan dari seluruh anggota keluarga, sedangkan seluruh kampus menatapnya dengan tatapan penolakan.


Queen merentangkan kedua tangannya, berharap mendapatkan pelukan hangat dari sang putri. Tak lupa memberikan senyuman terbaik untuk menghangatkan hati Rose yang pasti tengah dilanda kegelisahan. Meski putrinya tidak menjelaskan apa yang sudah terjadi.


Rose beranjak dari tempatnya, berlari menghamburkan diri memeluk tubuh wanita yang selalu harum seorang ibu. Parfum beraroma buah yang segar bercampur aroma lautan. Sangat menenangkan, apalagi usapan lembut yang ia rasakan menyentuh kepalanya.


"Good job, Rose. Mommy bangga padamu." bisik Asfa memberikan support yang pantas putrinya dapatkan.


Berjuang tanpa dukungan? Pasti sulit, apalagi dari berbagai arah seakan siap menikam. Baginya tidak akan berpengaruh apapun karena terbiasa dengan kelicikan para musuh. Akan tetapi, bagi Rose. Pasti luar biasa menyita emosi dan pikiran.


Kebersamaan itu, hanya mereka yang tahu. Queen tidak ceroboh, wanita itu telah mengubah sistem keamanan di kampus. Tidak peduli apa yang akan terjadi, keselamatan Rose harus terjamin. Kampus yang seharusnya menjadi tempat belajar mengajar, justru berubah menjadi pusat kompetisi.


Sungguh itu menyedihkan. Setelah merasa lebih baik, Asfa melepaskan pelukan. Lalu mengeluarkan ponselnya menunjukkan sesuatu pada sang putri. "Mommy tidak akan mengganggu jalan acara dari pemilihan senat, tetapi ini akan menghentikan mu sebelum memulai."

__ADS_1


"Bagaimana orang berpikir aku menjadi simpanan om-om? Astaga, keterlaluan." geram Rose melihat foto dirinya yang mendapatkan kecupan kening hangat dari Uncle Justin.


Jadi perubahan pada para mahasiswa hanya karena berita sekilas itu? Apakah tidak ada yang ingin bertanya padanya, berita itu benar atau tidak? Kenapa justru seperti orang tidak berilmu. Sangat dangkal pikiran para mahasiswa yang begitu mudah dihasut hanya dengan satu berita miring.


Asfa meraih tangan putrinya, membimbing gadisnya untuk merasakan detak jantungnya. "Rose, pemimpin itu pusat dari segalanya. Disini, sebagai jantung. Lalu disini, sebagai penggerak, dan disini sebagai pengayom. Emosi tidak untuk menjadi nomor satu, tetapi harus seimbang dengan pikiran."


"Mommy benar." Rose mengangguk setuju dengan nasehat yang penuh makna dari Asfa, "Rose tahu apa yang harus dilakukan nanti, tapi bisakah Uncle Justin bebas tugas?"


Permintaan yang sederhana, Asfa tersenyum mengedipkan mata nakalnya. Melihat persetujuan sang mommy, sontak saja ia kembali menghamburkan diri memeluk tubuh wanita yang akan selalu menjadi jiwa dalam raganya.


Tiga puluh menit digunakan keluarga Luxifer untuk saling memberikan dukungan dan nasehat, sedangkan di luar sana. Dela baru selesai berkoar-koar memberikan ultimatum agar melakukan demo massal atas tidak tak terpuji Rose yang membawa om simpanan ke wilayah kampus.


Satu keluarga hanya mendukung dari belakang karena Rose ingin memperjuangkan kebenaran tanpa kekuasaan keluarganya. Di sisi lain, Sarah menggunakan akal untuk mengubah situasi yang semakin menjebak dirinya. Gadis itu enggan untuk melakukan tantangan yang diberikan oleh kertas tantangan.


"Sar, minum dulu! Santai dikit, lah. Gue yakin, anak-anak gak akan mau punya pemimpin senat yang hobi nya jadi simpanan om-om." Tukas Della memberikan angin sejuk untuk sahabatnya, membuat Prita hanya tersenyum simpul.


Kedua finalis sudah mendapatkan dukungan masing-masing. Rose yang seorang diri, tetapi mendapatkan support cinta kasih kepercayaan keluarga dan Sarah yang harus menekan para mahasiswa untuk mencapai tujuannya. Siapa yang akan mengalami kekalahan?


.


.


.


.


Malem reader's, happy reading ya 😍


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian juga agar othoor semangat.

__ADS_1


.


.


.


Sembari menunggu karya ini up, mampir yuk ke karya teman othoor 👇👇👇


.


.


.


.


Aina Caroline, seorang wanita biasa dengan kehidupan serba sederhana. Dia mengantungkan mimpi dan harapannya sebagai seorang karyawati disebuah perusahaan besar, Rich Grup.


Kehidupan yang awalnya biasa-biasa saja, mendadak menjadi luar biasa. Skandal yang menyeret sang Atasan bernama El-barack, ikut membawa Aina kedalam mimpi buruk dalam satu malam.


Satu bulan setelah kejadian malam itu, Aina dinyatakan hamil. Hidupnya benar-benar hancur, dia di usir oleh Kakak iparnya dan harus menanggung derita itu sendiri.


After, empat tahun... mereka kembali dipertemukan dengan versi terbaik dari diri masing-masing.


"Itu adalah anakku, 'kan? Kemasi barang-barangmu, hari ini kita menikah." El-barack Alexander.


Keputusan apa yang akan diambil Aina? Setelah sempat hancur dan akhirnya kembali bangkit. Akankah dia menerima permintaan pria yang telah menghancurkan hidupnya?


__ADS_1


__ADS_2