Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 105: Provokasi


__ADS_3

Kedua finalis sudah mendapatkan dukungan masing-masing. Rose yang seorang diri, tetapi mendapatkan support cinta kasih kepercayaan keluarga dan Sarah yang harus menekan para mahasiswa untuk mencapai tujuannya. Siapa yang akan mengalami kekalahan?


Waktu istirahat berakhir, tetapi para mahasiswa tidak kembali ke aula. Semua itu berkat Della yang telah menyabotase dengan memprovokasi seluruh mahasiswa untuk melakukan demo dengan agenda, menurunkan atau meminta Rose untuk mengundurkan diri dari pemilihan senat.


Bukan lagi berita, tetapi Asfa langsung berjalan menuju halaman kampus. Dimana demo akan berlangsung. Diam untuk membiarkan sang putri melakukan apa yang benar. Bisa saja mengungkapkan jati diri, namun apa itu membantu? Tidak sama sekali.


Hati terasa panas membara. Gema yang menyerukan Rose menjadi simpanan memenuhi gendang telinganya. Ingin sekali memberikan pelajaran pada mulut yang berani menghina kehormatan putrinya, hanya saja. Tangannya terikat janji pada sang putri.


Apapun yang terjadi. Tidak boleh ikut campur karena wilayah kampus area kebebasan untuk memulai keadilan. Rose berjalan dari arah lorong lain, gadis itu dengan santainya menyambangi para mahasiswa yang menyambut kedatangannya dengan tatapan segala rasa.


Kecewa, ragu, sedih, jijik dan emosi yang tidak bisa dikatakan. Selain tatapan mata yang siap menenggelamkan. Sebanyak apapun orang membenci kehadirannya, ia tak akan menyerah hanya karena satu tipu muslihat dari geng cantika.


Tidak ada sisa dari perikemanusiaan yang bisa diharapkan oleh Rose dari geng cantika. Kini, ia sadar. Keadilan tidak akan datang hanya dengan berdiam diri karena semua itu hanya akan membiarkan kejahatan merajalela. Hukum karma berlaku, tetapi rupanya tidak ada kata kapok atas pelajaran yang ia berikan.


"Wah, apa akan ada pelantikan senat? Tapi, bukankah sesi pemilihan masih belum berakhir." Rose bertanya tanpa beban, lalu duduk di atas pagar semen yang melingkar melindungi sebuah pohon mangga cangkok. "Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apakah aku menghancurkan keluarga kalian hingga kemarahan itu jatuh pada bayanganku."


Suara tepuk tangan menggema dari arah belakang. Della tak ingin ada yang terpengaruh ucapan Rose, buru-buru mengalihkan perhatian para mahasiswa. "Si Cupu jadi pelakor. Ups, salah." Della menutup mulutnya, "Ternyata hanya simpanan. Guy's, awas ya jaga bokap kalian semua. Jangan sampai, nanti jadi target Si Cupu."


Huuuu. Suara sorak yang mengalahkan paduan suara, membuat Rose hanya tersenyum simpul. Rupanya tindakan geng cantika sudah melewati batas. Bisa-bisanya mempermainkan emosi para mahasiswa hanya untuk percaya satu berita yang blum pasti.


"Cupu!" Seru Sarah mengalihkan perhatian Rose, "Loe beneran mau jadi senat? Ambil saja, tapi apa mereka setuju untuk menjadikan sebagai panutan? Gue rasa, gak bakal deh."


Sarah terlalu percaya diri. Tidak melihat cermin untuk kembali menoleh ke belakang. Dimana pelajaran darinya selalu tidak dianggap. Baiklah, pelajaran berikutnya akan lebih mengena. Tidak perlu memberikan tamparan. Hanya cukup bertindak smart.


Rose menatap mahasiswa secara bergantian. Ada yang membalas tatapan matanya, ada yang melengos, ada pula yang berpura-pura menunduk. Tidak salah, jika dirinya selalu berpedoman bahwa para mahasiswa memang buta, tuli dan bisu. Tanpa berlama-lama. Dikirimnya sebuah pesan agar Uncle Justin datang ke halaman.


Suara langkah kaki dari lorong yang sama, menjadi pusat perhatian. Pria yang sama dengan wajah di foto yang disebarkan Della. Pria itu adalah simpanan Rose. Kenapa masih di kampus? Bukankah tadi sudah pergi. Sarah melirik Della agar sahabatnya melakukan sesuatu, sedangkan Prita menahan senyum di dalam hati.

__ADS_1


Bisik-bisik para mahasiswa bukan main menyayat hati. Meski sakit tak berdarah. Rose sadar, jika semua itu ulah Sarah dan gengnya. Kedatangan Justin yang langsung mempertontonkan kemesraan di depan para mahasiswa. Dimana pria itu mengecup keningnya dengan hangat. Justru semakin menghujam tanda tanya.


"C!h, wanita murahan." Sindir salah satu pemuda yang tadi pagi menyanjung Rose sepenuh hati dengan tatapan hasrat.


"Sabar, mungkin ini tidak seperti yang terlihat." Sambung mahasiswa lain yang masih memiliki akal sehat.


Rose memberikan kode mata pada sang uncle, membuat Justin mengedipkan mata agar keponakannya tenang dan menyerahkan semua padanya. Justin terbiasa membereskan para pecundang yang menghalangi jalannya. Tentu bukan hal besar baginya.


"Selamat siang, Anak-anak." sapa Justin ramah menyembunyikan smirk yang bisa mengubah suasana, "Sepertinya, kalian tidak suka dengan kedatanganku. Iya 'kan? Pasti iya."


"Rose, kenapa mereka menatapku seperti melihat hantu? Apa wajahku seburuk itu?" sambung Justin kembali menatap gadisnya yang justru tersenyum tipis.


Para mahasiswa yang tak paham dengan semua drama yang terjadi karena pemilihan senat. Seketika merasa dipermainkan dari kedua pihak. Beberapa mahasiswa menatap Sarah dan Della mempertanyakan apa yang akan mereka lakukan, sedangkan mahasiswa lain fokus dengan pria yang berdiri menatap mereka.


"Perkenalkan namaku Justin. Pekerjaanku sebagai asisten dari perusahaan RA Company's. Dia Rose Qiara Salsabila, keponakan ku." jelas Justin tanpa ragu, membuat semua mahasiswa tertegun. "Tidak usah shock seperti itu, kalian itu hanya boneka dari dalang yang ahli."


Diamnya semua orang, bukan karena tidak bisa berpikir masing-masing. Semua hanya karena terkekang dengan belenggu kekuasaan Geng Cantika yang sudah mendarah daging. Rasa takut yang mereka ciptakan meninggalkan trauma yang mendalam.


"Uncle, kenapa harus menjelaskan pada orang yang tuli? Mereka hanya patung bagi Sarah dan geng cantika. Kebenaran akan tertutup kabut kebencian." balas Rose dengan sindiran pedasnya.


Tidak peduli dengan tatapan nanar para mahasiswa. Rose mengabaikan semua yang menatap dirinya, sedangkan Justin manggut-manggut memahami apa yang di ucapkan sang keponakan. Orang tuli, pasti tidak akan mendengar. Itu sudah ketetapan yang tidak bisa diubah lagi.


"Jadi, apa gunanya orang tuli?" tanya Justin begitu polosnya, membuat Rose menjentikkan jemarinya.


Gadis itu beranjak dari tempatnya. Tatapan mata mengedarkan pandangan ke segala arah, tidak ada yang bisa digunakan untuk melakukan apa yang ia pikirkan. Sejenak berpikir, tetapi tetap tidak menemukan ide yang tepat. Di tengah kesibukannya berpikir, Justin masih setia menunggu begitu juga dengan para mahasiswa.


"Ambillah." Seseorang mengulurkan tangan yang mengulurkan gitar, "Musik adalah irama. Hati boleh terluka, namun rasa tak pernah meninggalkan raga. Lakukanlah sepenuh hati, lepaskan luka dalam emosimu."

__ADS_1


.


.


.


.


Malem guys, happy reading ya, yuk kepoin karya temen othor. sembari menunggu up karya ini.. 👇👇


MENCARI PASANGAN SURGA


Penulis : Nirwana Asri


Blurb :


Sore itu Sofia berniat memberikan kejutan ulang tahun pada kekasihnya. Akan tetapi dia malah mendapat kejutan dari Leo. Laki-laki itu ketahuan berselingkuh dengan seorang wanita yang tak dikenal.


Setelah Sofia putus dari Leo. David laki-laki yang telah lama naksir Sofia mulai berani mendekati gadis berhijab itu.


Akankah David mendapatkan hati Sofia dengan mudah? Ataukah Sofia malah menutup diri setelah patah hati?


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2