
Satu jam kemudian.
Speaker kampus mengumumkan bahwa seluruh mahasiswa harus berkumpul di ruangan aula untuk pemilihan senat periode dua. Dimana di periode kali ini, akan ada beberapa tantangan yang wajib diikuti ketiga finalis. Namun, sebuah berita yang menggemparkan telah tersebar. Para mahasiswa sibuk bergunjing.
Kedatangan Geng Cantika disambut tepuk tangan meriah. Para mahasiswa nampak mulai kembali mengelu-elukan Sarah untuk menjadi ketua senat. Akan tetapi, semua orang terdiam, ketika melihat Rose memasuki ruangan aula. Tatapan mata menyelidik, bahkan ada yang tanpa sungkan mengumpat begitu jelas.
Umpatan kasar yang menganggap Rose sebagai gadis murahan. Rasanya serpihan kaca tersebar siap menyayat kulit gadis itu. Bukannya menghindar, langkah Rose pasti menuju tempat yang memang menjadi haknya.
Seluruh kampus berkumpul di ruangan aula. Termasuk para dosen dan juga rektor. Ragam ekspresi yang membuat aura semrawut seakan di tengah pesta emosi. Suasana yang memanas, membuat Rektor Wisnu bergegas maju untuk memulai acara pemilihan senat.
"Selamat pagi menjelang siang, Anak-anak. Mari kita mulai acara pagi ini dengan berdoa di hati menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai." Ucap Rektor Wisnu membuka kegiatan pagi ini, keheningan beberapa menit berakhir.
Rektor Wisnu mendongak kembali menatap seluruh mahasiswa, "Pemilihan senat periode kedua dengan agenda sebagai berikut. Satu, ketiga finalis akan melakukan ujian dadakan sesuai jurusan masing-masing. Kedua sesi tanya jawab dengan juri yang kampus siapkan, dan terakhir mereka bertiga harus menyelesaikan tantangan yang akan diberikan oleh finalis lainnya."
"Kandidat di urutan ketiga adalah Pangestu Mahardika dari kelas 2B sastra Inggris. Kandidat kedua adalah Rose Qiara Salsabila dari kelas 1A arsitek dan kandidat nomor pertama adalah Sarah Atmaja dari kelas 1A arsitek. Silahkan untuk menyiapkan satu tantangan bagi finalis lain dan masukkan ke dalam tabung bola itu."
Rektor Wisnu menunjuk sebuah meja di sisi kanan. Dimana tabung bola tergeletak di tengah, tetapi ada empat kursi kosong yang belum terisi. Siapa mereka? Kenapa dibiarkan kosong, sedangkan para dosen berada di sisi lain yang berseberangan.
"Oh iya, Bapak belum katakan. Para juri bukan dari para dosen, melainkan pemilik yayasan sendiri. Jadi, Bapak harap, kalian semua jaga sikap. Mengerti anak-anak?!" Sambung Pak rektor Wisnu tanpa ingin mengurangi wibawanya.
Panjang kali lebar menjelaskan peraturan dari satu kegiatan ke kegiatan selanjutnya. Sang rektor menyita waktu yang tidak sedikit, bahkan hampir membuat para mahasiswa ketiduran. Suara boleh tegas, tapi terdengar aneh. Kemana garang dari pria itu? Seperti tengah berpura-pura baik.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari kecil membuka pintu, lalu menghampiri Rektor Wisnu. Pak penjaga membisikkan sesuatu, membuka si rektor manggut-manggut. Kemudian menatap ke arah pintu masuk. Beberapa detik menunggu hingga pintu mulai terlihat bergerak.
__ADS_1
"Selamat datang, Queen. Selamat datang tim juri. Kami menyambut kalian dengan semangat dan senang hati." Ujar Rektor Wisnu begitu manisnya, namun langkah kaki team juri yang baru datang terhenti di depan pintu.
Sesaat mengedarkan pandangan mata, hingga netra biru saling bertautan. Siapa sangka, ia harus melakukan hal yang tidak seharusnya. Dimana ia ikut andil dalam kompetisi pemilihan senat. Semua itu karena laporan dari salah satu dosen yang memang berdiri di bawah naungan mafia Phoenix.
Ibu mana yang rela, mendengar anaknya akan menjadi bahan tontonan dengan berita yang sudah jelas palsu. Rose menjadi selingkuhan om-om? Lebih parahnya lagi, foto yang dikirim adalah foto Justin tengah mengecup kening putrinya. Geram. Ingin sekali mematahkan tangan si biang onar.
Maka dari itu, demi kebaikan. Ia datang hanya untuk melakukan kunjungan dadakan. Seperti prediksinya, Rektor Wisnu sendiri menawarkan agar dia menjadi salah satu juri agar pemilihan bisa berjalan baik. Bukan itu tujuannya, tetapi hanya untuk menj!lat agar bisa mendapatkan kekuasaan lebih.
Rose sendiri hanya bisa menghela nafas panjang. Apa yang tidak pernah masuk ke dalam pikiran. Nyatanya terjadi begitu saja, padahal apapun yang terjadi nanti. Dia bisa menghadapi walau sakit tak berdarah. Sekarang, ya sudah. Menerima apa yang ada lebih baik. Iya 'kan?
Suara langkah kaki tegas berirama, tetapi bukan langkah Queen. Ketiga juri lain yang sama mengenakan topeng. Mereka bertiga berjalan begitu tegap bahkan tidak khawatir tersandung, sedangkan Queen langkah kakinya tersamarkan. Tatapan para mahasiswa terpana. Bulu kuduk meremang.
Apakah para juri manusia? Kenapa begitu dingin dan tegas. Apalagi topeng yang menutupi wajah mengesankan misterius. Mereka bertanya dalam hati. Bagaimana rupa keempat juri tersebut? Cantik dan tampan kah atau biasa saja. Entahlah karena yang bisa dilakukan hanyalah menjadi penonton.
"Baiklah. Berhubung semua sudah berkumpul menjadi satu. Mari kita mulai dengan agenda pertama. Ketiga finalis akan melakukan ujian dadakan sesuai jurusan kelasnya ....,"
"Tunggu!" Seru salah satu juri, mengalihkan perhatian semua orang. "Queen sendiri yang akan memberikan soal untuk ketiga finalis. Para dosen bisa memeriksa, dan menyetujui. Setelah itu, silahkan berikan kertas ujian pada ketiga finalis."
Random? Kenapa jadi tidak terbayangkan. Satu rencana gagal. Padahal, pria yang berdiri di depan ketiga finalis hanya memiliki satu kesempatan untuk membantu Sarah memenangkan kompetisi senat. Ia tahu, jika dua finalis lainnya tidak sepintar Sarah.
Sekarang mau, tak mau harus menerima. "Tentu, silahkan. Saya mewakili para dosen menerima dengan senang hati permintaan Queen."
__ADS_1
Dari sekian umat manusia. Satu banding seribu yang memiliki kesadaran. Orang yang mengerti, jika melawan badai maka bisa tenggelam. Akan tetapi, berdiam diri untuk sejenak bertahan, lalu kembali berjalan setelah merasakan badai itu mulai mereda. Ini yang dinamakan sadar menjaga diri sendiri.
Rektor Wisnu bertahan, bukan karena sadar. Melainkan terpaksa akan keadaan. Di depan pemilik yayasan, dia hanya seorang pekerja bayaran. Pendidikan itu lebih tinggi, tetapi ketika orang tidak menghargai hasil kerja kerasnya sendiri. Lalu, bagaimana orang lain menghargainya?
Setelah menunggu beberapa saat. Salah satu juri menyerahkan selembar kertas pada Pak Penjaga. Kertas yang berisi tiga soal dari Queen. Kertas itu akan difotokopi, lalu baru dibagikan kepada ketiga finalis. Keheningan yang mencekam, membuat ruang aula semakin terkesan horror.
"Queen, Aku keluar sebentar. Ada panggilan alam." bisik Dominic yang duduk di sebelah Asfa.
Kepergian Dominic bukan tanpa alasan. Pria itu memang harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara semua orang yang ada di ruang aula hanya bisa menunggu. Bernafas saja, tanpa bisa berkutik. Rasanya sangat canggung, bahkan melihat ekspresi wajah Rektor Wisnu. Mereka gemas ingin mengambil foto pria satu itu.
.
.
.
.
Pagi reader's, sampai bertemu lagi.
Maaf, karya ini jadi jarang update.
Apalagi kesehatan mulai nurun.
.
.
.
Jadi sembari menunggu up, yuk mampir ke karya temen Othoor. 🤠Udah pemes, Mama sih. 👉👈
👇👇👇👇👇
Judul: Teman Ranjang Sahabat Ibuku
Author: Mama Reni
Blurb:
Demi memenuhi kebutuhan dan gaya hidup mewah, Melani memilih mengambil jalan yang menurutnya instan, menjadi seorang sugar baby dan teman ranjang pria dewasa. Siapa sangka Melani dipertemukan dengan Jefri yang ternyata adalah sahabat dari ibunya sendiri.
Seiring berjalanannya waktu, dia bertemu dengan seorang pria muda bernama Yudha. Mereka saling jatuh cinta. Namun, Jefri yang mengetahui itu tidak ingin melepaskan Melani. Dengan berbagai cara dia membuat hubungan Lani dan Yudha putus.
__ADS_1
Bagaimana hubungan cinta mereka selanjutnya? Dapatkah Melani dan Yudha bersatu?