Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 108: Gedung Olahraga


__ADS_3

"Aku mau, kampus kita damai. Semua mahasiswa bisa saling berbagi seperti sahabat atau bisa menjadi saudara. Rose, apakah harapan itu bisa terwujud?" tanya Nara dengan wajah sendu menatap lapangan basket di saat menikmati hukuman dari salah satu dosen.


Pesan Vino memberikan secercah harapan. Rose merasa semua akan baik dan bisa memenuhi keinginan terakhir Nara. Gadis bermata biru yang selalu ingin memperjuangkan keadilan telah berdiri di tempat yang tepat. Demi melancarkan niat hatinya, gadis itu meminta kartu keanggotaan secara khusus dalam waktu yang singkat.


Disinilah, Rose berada. Gedung olahraga. Gadis itu sudah standby sejak magrib. Tentu ia punya rencana cadangan untuk berjaga-jaga. Namun setelah menunggu selama beberapa jam. Tidak terlihat tanda-tanda orang yang masuk ke gedung.


Pukul delapan lebih dua puluh lima menit. Gedung sudah sepi. Tatapan mata berulang kali melihat ke sekelilingnya dari tempat ia bersembunyi. Rasa jenuh, membuat Rose bersiap untuk meninggalkan tempatnya hingga tertahan karena mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya.


Bukan hanya satu, tetapi suara langkah kaki yang beruntun. Gadis itu memejamkan mata, berkonsentrasi untuk mengandalkan pendengaran yang bisa memberi banyak informasi tanpa perlu melihat. Ia ingat nasehat mommy tentang pengendalian pikiran.


"Apa kalian akan diam saja? Jika masalah ini sampai mencuat, bukan hanya aku yang akan masuk ke penjara, tapi kalian juga." Ucap geram seorang wanita yang diyakini sebagai Sarah Atmadja.


Suara hentakan kaki yang berlanjut suara tamparan keras terdengar begitu jelas "Loe, diem! Gue udah bilang buat bunuh sekalian saksi terakhir, tapi dengan entengnya loe bilang. Anak s!alan itu masuk rumah sakit jiwa."


"Berhenti." Seru Della menyela, tidak habis pikir dengan perdebatan Sarah dan pemuda yang menutupi kepalanya dengan tudung itu. "Bisa gak, kalian itu jangan ribut mulu. Orang lain mikir, Riswan yang salah. Apa salahnya? Biarin aja dia jadi kambing hitamnya. Sekarang masalah kelar."


"Jadi, gue harus bujuk Riswan buat nyerahin diri ke polisi gitu? Apa dia itu bego." Sungut Sarah geram dengan pikiran singkat Della.


Mereka tahu, Riswan bukan pelaku bahkan tidak terlibat dengan tragedi yang menimpa Nara. Akan tetapi, situasai menunjukkan kenyataan lain dari balik sudut pandang CCTV pihak kampus. Bukan hanya itu saja, Sarah juga memberikan emosi akan tragedi itu ke dalam pikiran Riswan.


Maka dari itu, Riswan begitu menjaga jarak agar tidak terlibat dalam kasus apapun lagi. Termasuk tetap menjadi pacar Sarah, meski hati dan pikiran kalut karena tekanan banyak pihak. Obrolan tidak hanya sampai satu poin saja.


Sarah, Della dan entah siapa. Mereka membicarakan tragedi yang menimpa Nara secara keseluruhan bahkan idak tahu, jika di tempat yang sama ada Rose yang bersembunyi. Gadis yang memejamkan matanya menyimak semua obrolan.


Selama tiga puluh menit. Perdebatan berakhir dengan emosi yang meledak. Sarah mengumpat menyumpahi pihak ketiga dengan rasa kesal, sedangkan Della mencoba untuk kembali menenangkan situasi yang semakin memanas.

__ADS_1


"Begini saja," Pihak ketiga mengambil sikap terakhirnya dengan melepaskan tudung kepala hingga secercah sinar lampu dari lubang dinding kayu menyorot menunjukkan wajahnya yang tampan. Disaat bersamaan, Rose membuka mata mengintip siapa saja pelaku dari pelecehan sang sahabat.


Tatapan matanya tertegun tak percaya, tetapi tidak mungkin salah dengan apa yang ada di depan mata. Wajah itu pemuda itu, tidak asing. Namun, permusuhan apa yang dimiliki Nara dengan pihak ketiga? Kenapa menjadi semakin melebar masalahnya.


"Aku akan alihkan Rose untuk menemukan kebenaran dari kasus Nara, dan kalian bisa pasang jebakan untuk Riswan. Sarah tidak perlu memohon di bawah kaki pemuda itu," Ucap final pihak ketiga yang kembali mengenakan tudung kepalanya, membuat kedua rekannya sepakat menganggukkan kepala serempak.


Kamu ingin bermain denganku. Baiklah, aku ikuti permainan kalian, tapi jangan salahkan aku. Jika hukuman kalian double dari yang pernah aku rencakan.~batin Rose seraya menyunggingkan senyum evilnya.


Malam ini, kebenaran akan kasus pelecehan yang dialami Nara terungkap. Siapa para pelaku yang berhasil memporak-porandakan hati sahabatnya, dan menghancurkan kehormatan Nara. Images akan kasus bunuh diri harus segera mendapatkan klarifikasi, tetapi Rose tidak tahu. Diantara ketiga orang itu, masih ada yang tersisa dan tidak menampakkan diri.


Dia yang hanya diam menyimak, bersandar di dinding. Pertemuan usai dengan hasil kesepakatan bersama. Mereka akan menjadikan Riswan sebagai pelaku tunggal dan menyelamatkan diri dari kejahatan yang mereka lakukan.


Satu persatu langkah kaki meninggalkan gedung olahraga, tetapi Rose masih terdiam di tempat persembunyiannya. Lelehan air mata tak sanggup tertahan lagi, hingga terdengar suara siulan yang menggema di dekatnya. Nada itu, pernah ia dengar. Akan tetapi, siapa yang suka bermain siulan seperti itu?


Apakah mungkin pihak ketiga? Tidak. Tiga menit yang lalu, ketiga orang yang berkumpul sudah meninggalkan gedung olahraga. Jadi ada pihak ke empat. Siapa dia? Apakah dari kampus yang sama atau orang luar. Ditengah kebingungan memikirkan semuanya. Tiba-tiba lampu ruangan yang dipenuhi alat olahraga menyala.


"Not now, follow me!" Titah Asfa dengan lambaian tangannya agar Rose tetap diam dan mengikutinya karena di gedung itu sudah tidak aman.


Pasrah ketika hasil dari pengintaian tanpa izin akan menjadi bumerang. Memang tindakannya salah, tapi benar untuk dilakukan. Selama perjalanan kembali ke Villa. Sang Mommy sibuk menyetir tanpa senyuman. Apakah wanita itu marah?


"Mom, Rose bisa jelasin semuanya." cicit Gadis bermata biru hampir tak bisa untuk memulai percakapan.


Lirikan mata sekilas menatap sang putri. Jiwa muda memang selalu membara, tapi ia tidak bisa membiarkan Rose bermain sesuka hati seperti malam ini. Gadisnya hanya tahu tentang keadilan bagi Nara. Namun, permainan di balik layar yang jauh lebih mengerikan. Nyatanya sang putri tidak memahami apapun.


"Mom, please. Sekali saja dengerin Rose." bujuk gadis itu tak ingin menyerah, membuat Asfa menepikan mobilnya. "Mommy!"

__ADS_1


Rose tak paham. Kenapa mommynya turun dari mobil, lalu berjalan memutar menghampiri pintu mobilnya. Wajah dingin tak bersahabat dengan tatapan datar yang jarang ia lihat. Baru kali ini, kemarahan sang mommy ditunjukkan padanya.


Asfa membuka pintu mobil putrinya, "Turun!"


Hening. Rose tersentak akan suara tegas yang jelas perintah dengan nada intimidasi dari sang mommy. Sebenarnya, dimana kesalahan fatal yang ia perbuat? Apakah karena tidak izin melakukan rencana malam ini atau ada hal lain yang tidak diketahui. Bingung, tetapi hanya bisa menurut turun dari mobil.


Tidak ada kata selain, tarikan tangan yang erat. Asfa membawa putrinya menuju belakang mobil. Lalu berhenti di depan bagasi mobil, tanpa menjelaskan. Dibukanya bagasi hingga menunjukkan sesuatu yang langsung membuat seluruh isi perut bergejolak. Rose melepaskan diri, berlari ke menyingkir kemudian memuntahkan semua isi perutnya.


Melihat reaksi tak kuat sang putri. Asfa menghela nafas. Pintu bagasi kembali ditutup, lalu ia menghampiri pintu depan hanya untuk mengambil botol air mineral. Seorang ibu hanya ingin melindungi, bukan menyakiti, tapi ketidaktahuan Rose bisa menjadi musibah. Polos boleh, tapi jodoh jangan.


"Basuh wajahmu dan minum," Asfa mengulurkan sebotol air yang sudah ia buka, membiarkan Rose untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Sepuluh menit kemudian. Akhirnya Rose kembali tenang dengan tubuh bersandar ke body samping mobil. Tatapan matanya lurus kedepan menatap gelapnya malam di antara pepohonan. Hingga sentuhan lembut mendarat menghangatkan hati.


"Mommy, siapa dia?"


...🍃🍃🍃🍃🍃...


.


.


.


Sembari menunggu karya ini up, mampir yuk ke karya teman. 😍

__ADS_1



__ADS_2