Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 87: KEPUTUSAN AKHIR


__ADS_3

"Jelaskan apa yang kalian lakukan pada Abhi." Teriakan Vans langsung membungkam mulut para dokter yang berdiri tak jauh darinya. Mereka semua terkejut dengan tubuhbergetar hebat. "Buka mulut kalian!"


Para dokter terus saja menunjukkan pandangan dengan tangan saling bertautan. Melihat itu, Vans menghela nafas panjang. Kini dia tahu apa yang sebenarnya terjadi tanpa perlu mendengarkan penjelasan. Sekarang, bagaimana cara dia mengatakan pada istrinya. Jika semua yang menjadi tanggung jawabnya, justru semakin berantakan hanya karena ketidak sabaran para dokter.


"Jika kalian mengulangi kesalahan yang sama. Kalian tidak akan pernah pulang ke rumah, dan aku pastikan, tidak seorang pun menemukan jasad kalian. Ingat itu baik-baik." Tegas Vans, lalu pergi meninggalkan tempat itu


Vans tak ingin terus-menerus memberikan tekanan. Intimidasi hanya membuat para dokter semakin tertekan, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja. Kini ia meninggalkan tempat para dokter. Pikirannya terus mencoba mencari solusi yang terbaik.


Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Kecuali satu solusi yang akan sangat beresiko lebih besar lagi. Vans berpikir, jika terjadi sesuatu pada Abhi. Maka istrinya akan merasa bersalah dan rasa bersalah itu, akan selalu menghantuinya juga. Disisi lain, jika Abhi terus dirawat oleh para dokter. Bukan tidak mungkin, akan terjadi sesuatu yang mungkin tidak bisa dibayangkan.


Mengingat semua peralatan di dalam villa sudah sangat lengkap dan ia juga bisa memantau kondisi Abhi setiap hari. Meski tanpa bantuan para dokter lain, ia mempertimbangkan bagaimana semua itu akan berlangsung. Abhi akan mendapatkan perawatan khusus dengan pemantauan intensif.


"Apakah aku harus melakukan itu?" tanya Vans pada dirinya sendiri. Di saat ia sibuk berpikir, tiba-tiba ponselnya berdering mengalihkan perhatiannya, "Apakah kamu selalu tahu apa yang aku rasakan? Setiap waktu, ketika aku merasa dilema. Kamu datang memberikan semangat baru, Periku."

__ADS_1


Siapa lagi yang bisa menghubungi Vans. Selain istri tercintanya. Wanita itu seperti memiliki ikatan batin dengannya. Sebuah hal yang tidak bisa dijelaskan, tapi akan selalu ia rasakan. "Selamat malam, Istriku. Kenapa kamu belum istirahat? Bukankah ini sudah terlalu larut malam."


[Aku yang harus bertanya seperti itu. Kemana gerangan kamu pergi? Bukankah ini sudah sangat larut, bahkan jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Pulanglah! Aku akan menunggumu.]~ balas Asfa tanpa menunggu jawaban, lalu ia mematikan panggilan itu, karena tidak ingin mendengarkan alasan apapun dari suaminya.


Vans menatap layar ponsel yang masih terus menyala. Iya melihat wallpaper di dalam benda pipih itu. Dimana menampilkan keluarga kecil bahagianya, foto seluruh anggota keluarga, "Kalian adalah harta termahal ku, dibandingkan harta dunia lainnya. Aku bisa saja memberikan sedikit kasih sayang kalian pada Abhi, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut kalian dariku."


Egois? Tidak. Ini hanya bentuk mempertahankan apa yang dia punya. Perjuangan dan pengorbanan bukan untuk mendapatkan pamrih. Namun, ia menjadikan keluarga sebagai dasar kekuatan untuk selalu semangat menjalani kehidupan yang keras. Mungkin ada yang berpikir. Menjadi orang kaya enak.


"Baiklah aku sudah memutuskan akan membawa Abhi pulang bersamaku, tapi untuk itu, aku harus meminta izin istriku karena dia juga berhak mengambil keputusan untuk menyetujui atau menolak apa yang menjadi pemikiranku." gumam Vans pada dirinya sendiri, lalu menyambar jas yang tersampir di kursi kerjanya.


Malam berlalu begitu cepat berganti sinar harapan baru. Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga tengah berkumpul di ruang makan sembari menunggu para pelayan melengkapi menu sarapan pagi. Vans menoleh ke arah Asfa. Keduanya saling memberikan isyarat agar memulai apa yang telah mereka bicarakan semalam.


"Asfa, Vans. Apa yang kalian lakukan? Kenapa memberikan isyarat sejak sepuluh menit yang lalu. Apa ada sesuatu yang tidak kami ketahui." Tegur Papa Luxifer mencoba untuk memahami tingkah aneh dari putri dan menantunya.

__ADS_1


"Pa, kami sudah memutuskan untuk membawa Abhi ke Villa." ungkap sang menantu dengan tegas tanpa ragu. Vans memberikan pengumuman mewakili keputusan yang sudah dia dan Asfa sepakati. "Kami akan memberikan perawatan secara intense pada Abhi ....,"


Pengumuman itu terlalu mendadak. Papa Luxifer menoleh ke arah cucunya yang terlihat begitu tegang. Benar saja, yang dilakukan Vans, membuat Rose langsung meletakkan sendok menyudahi sarapan paginya. Kemudian, gadis itu menyambar tas yang tergeletak di atas meja.


Wajah datar dengan bibir terkunci rapat. Rose terdiam dan mencium tangan setiap anggota keluarga, "Rose, berangkat kuliah dulu. Sampai jumpa nanti malam."


Sikap Rose sesuai prediksi darinya. Sang putri akan memberikan penolakan, tapi tidak bisa menolak. Vans berniat untuk bangun, tetapi isyarat tangan Asfa menghentikannya. Kini ia hanya bisa memberikan waktu, sedangkan Queen sendiri ikut beranjak dari tempatnya duduk. Padahal wanita itu masih belum menyentuh makanannya.


"Rose!" Panggil Asfa, membuat putrinya berhenti melangkahkan kaki untuk menjauh dari ruang makan, "Mommy akan mengantarmu hari ini. Aku permisi dulu. Pa, hari ini aku harus keluar kota. Jadi jaga kesehatan papa. Ka Varo, Justin akan bersama ku, jangan khawatir."


Ketika mendengar pernyataan sang mommy. Rose berbalik menatap ke arah wanita yang ternyata sudah berjalan ke arahnya. Langkah kaki yang tegas dengan tatapan mata tenang menenggelamkan, namun senyuman itu terus tersungging mencoba mengatakan. Putri ku, semua akan tetap sama dan baik-baik saja.


"Ayo, hari ini, Aku ingin merasakan menjadi penumpang mobil saja. Sudah lama tidak melihat putriku bermain di jalanan. Come, Princess."

__ADS_1


__ADS_2