Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 54: KELUARGA PHOENIX


__ADS_3

"Prince, sini bareng Kakek. Biarkan aunty membuatkan minuman untuk Papa dan Ayah...,"


"Pa, dimana, Ka Vans?" tanya Asfa yang tiba-tiba saja sudah muncul di antara keluarganya.


Rose menggeser posisi tubuhnya, "Mommy, apa kamu terluka? Darah siapa itu?"


Asfa melihat ke arah tatapan mata sang putri. Ada bercak merah darah yang masih menempel. Meski ia tak memperhatikan itu sejak awal, aroma anyir sudah cukup menjelaskan bagaimana penampilannya saat ini. Prince Chubby yang tidak terbiasa melihat darah, langsung memeluk erat Rose dan menyembunyikan wajah ke leher jenjang aunty nya. Rania yang melihat itu, bergegas mengambil alih sang anak agar tidak merasa takut.


"Kalian bicara saja, Prince akan aku bawa ke kamar. Rose, jangan lupa buatkan kopi untuk Papa dan Ayahmu," Rania menggendong Prince Chubby, lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga.


"Nak, Vans dan Varo pergi ke taman. Bisa kita bicara sebentar. Ada yang ingin papa bicarakan denganmu," Ujar Tuan Lucifer yang sengaja ingin memberikan waktu untuk kedua pria diluar sana, berbicara dari hati ke hati sebagai sesama pria.


Asfa mengangguk, "Aku akan turun lagi, give me time ten minutes, Dad."


(Aku akan turun lagi, berikan aku waktu sepuluh menit, Pa.)


"Relax, baby. Mommy fine, pergilah buatkan kopi dan cepatlah kembali ke ruang keluarga," Ucap Asfa, lalu wanita itu berjalan meninggalkan ruang keluarga.

__ADS_1


Rose hanya menurut, apalagi anggukan kepala sang kakek sudah menjadi keputusan terakhir. Gadis itu berjalan menuju dapur. Dimana para pelayan masih sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam. Terdengar percakapan dari arah luar dapur, membuat nona muda menghentikan langkah kakinya. Ia mendengarkan apa yang tengah menjadi topik para pelayan.


Percakapan tentang seseorang yang baru saja dibawa oleh Tuan Vans. Itu artinya, di mansion ada orang baru. Jika benar, darah di pakaian sang mommy. Pasti ada kaitannya. Beberapa saat terdiam, akhirnya percakapan yang menjelaskan seperempat kebenaran itu, membuat Rose termenung dan berpikir keras. Ada rasa penasaran pada orang yang dibawa masuk ke dalam rumahnya.


Ia tahu, jika mommy nya bukan wanita berhati batu. Jika kejadian sudah sedemikian rupa. Itu berarti, sang mommy baru beralih profesi menjadi seorang dokter. Sementara, papanya pasti menjadi asisten yang selalu siap siaga ketika keadaan tidak bisa dikendalikan. Jujur saja, sebagai seorang putri saja. Terkadang ada rasa iri, bukan iri karena kemampuan seorang Queen. Akan tetapi, sang papa begitu mencintai istri dinginnya.


"Non, kenapa berdiri di depan pintu?" tanya seorang pelayan membawa nampan obat dengan segelas air.


Rose menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis, "Bi, apa itu untuk Paman?"


"Iya, Non. Duke Justin masih tidak diizinkan untuk bekerja. Bibi permisi dulu," pamit si bibi berjalan meninggalkan Rose.


Kedatangan nona muda, membuat para pelayan menundukkan kepala sesaat. Sebagai bentuk rasa hormat. Apalagi sebagai balasan, mereka bisa melihat senyuman tipis Rose. Mereka sadar, putri dari Queen lebih murah senyum. Sementara Queen sendiri, dingin dan sangat jarang tersendiri. Meski begitu, rasa rindu tidak akan bisa dipungkiri.


Senyuman khas Asfa seperti hujan di musim kemarau. Jika ada masalah yang begitu berat, satu saja senyuman dari queen. Semua hati akan percaya, keadaan akan tetap baik dan masalah apapun bisa mereka hadapi. Meskipun begitu, sejak Rose lahir. Beberapa peraturan mansion dirubah. Dimana mansion itu, tidak lagi dipenuhi orang-orang yang kaku.


Rose berjalan menghampiri mesin pembuat kopi, tempat yang menjadi favorit semua anggota keluarga Phoenix. Di mansion tidak ada larangan apapun tentang makanan dan minuman. Baik majikan ataupun pelayan dibebaskan menikmati apapun yang tersedia di dapur. Para pelayan juga masih bisa bercanda, meski ada nona muda mereka di dapur.

__ADS_1


"Non, mau cangkir putih atau hitam?" tanya salah satu koki yang berusia sekitar lima puluh tahun.


Rose melihat kedua cangkir ditangan sang koki, "Hitam saja, Pak. Kalau putih, nanti Ayah komplain."


"Siap, Non," Sang koki menyiapkan nampan, dan dua cangkir hitam, lalu diberikan ke nona muda nya, "Silahkan, Non."


"Makasih, Pak." jawab Rose.


Kopi yang panas dengan aroma menyegarkan, membuat tatapan mata fresh. Apalagi jika bisa menyeruput nya. Pasti nikmat, dan memacu semangat baru. Rose berjalan dengan hati-hati agar tetap seimbang. Gadis itu meninggalkan dapur dan berjalan menuju taman. Dimana Ayah dan Papa nya berada.


Langit yang mendung dengan kilat menyambar. Kemungkinan sebentar lagi akan turun hujan. Langkah kakinya begitu pelan dan tidak menimbulkan suara sedikitpun. Caranya berjalan, sama persis seperti Sang Mommy. Gadis itu berusaha sebaik mungkin untuk menetapkan ajaran seorang ibu disetiap kesempatan. Disaat jarak menyisakan dua meter dari tempat duduk dua pria yang tengah berbincang. Rose menghentikan langkah kaki.


"Kami sudah memutuskan untuk mengatakan kebenarannya pada Rose. Hanya saja, kami menunggu waktu yang tepat. Jujur saja, aku takut putri raja ku akan murka, Ka." Vans mendongak menatap langit, membuat Varo menepuk bahu adik ipar nya.


"Rose itu putri seorang Queen mafia. Meskipun, gadis kecil kita tidak diwajibkan menjadi seorang putri mafia. Percayalah, didikan kita tidak akan kalah dengan satu kebohongan...,"


"Ekhem!" Rose berdehem cukup keras, membuat Vans dan Varo langsung menoleh kebelakang, lalu kedua pria itu saling pandang dengan ekspresi tak biasa.

__ADS_1


Vans beranjak dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Sang putri, "Rose, sejak kapan kamu berdiri disitu?"


__ADS_2