
Asfa tak ingin mengatakan apapun. Kali ini, ia hanya bisa memberikan pelukan seorang anak. Membiarkan papanya kembali tenang dan juga kuat menghadapi kenyataan. Meskipun matahari bersinar di malam hari. Takdir tidak mengizinkannya untuk memiliki anak lagi. Pada saat ini, pasutri itu hanya bisa saling memberikan dukungan dan tetap percaya satu sama lain.
Dua jam kemudian. Asfa keluar dari kamar papanya. Wanita itu harus menemani Tuan Luxifer yang masih tidak sanggup menahan rasa bersalahnya karena telah meragukan putrinya sendiri. Sementara Vans di bawah tengah berbincang dengan Dominic dan Justin. Rose dan Prince Chubby sudah masuk ke kamar untuk istirahat. Varo dan Rania tengah menikmati waktu bersama untuk berbagi cerita di ruangan musik.
Suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga, membuat ketiga pria yang duduk di kursi meja makan menoleh ke arah tangga. Mereka melihat kedatangan Asfa. Wanita itu terlihat lelah dengan tatapan mata luka. Ingin rasanya mengobati, tapi mereka sadar tidak bisa melakukan semua itu. Lalu, bagaimana bisa hati tetap bersikeras untuk mengatakan situasi diluar sana?
Asfa menghampiri meja makan. Dimana ketiga pria menatapnya dengan sendu, "Jangan menatapku seperti itu! Aku masih hidup."
"Kamu ini bicara apa, Periku?" Vans mengisi gelas kosong dengan air putih, lalu ia serahkan ke istrinya.
Asfa menerima tanpa sungkan, lalu meneguk nya hingga habis tak tersisa. Barulah, ia menarik kursi untuk ikut duduk bersama. Kini, ketiga pria itu terlihat saling pandang, kecuali Asfa. Wanita itu sibuk memainkan gelas kosong di tangan kanannya. Keheningan teralihkan dengan suara deheman sang queen.
"Aku yang tanya atau kalian yang jelaskan?!"
Dominic menahan nafasnya seraya menggeser posisi kursi sedikit kebelakang. Rasanya terlalu sesak dengan hawa panas, membuat rasa gelisah menguasai hati dan pikirannya. Ia menatap Asfa dengan serius, "Seminggu lalu ada penyerangan di wilayah perbatasan. Aku belum tahu siapa yang menjadi dalangnya, tapi lima peti senjata lenyap. Tiga hari kemudian, aku mendengar penjualan senjata dengan jenis yang sama di sebuah pelelangan ternama."
"Seharusnya aku mengatakan ini setelah berita itu sampai ke telingaku, tapi aku berpikir bisa mengatasinya. Ternyata aku salah. Penyerangan terjadi lagi, dan kali ini satu peti senjata kembali lenyap. Setelah aku selidiki, pelakunya menghilang tanpa jejak. Hanya satu yang menjadi petunjuk, sang pelaku meninggalkan tanda pengenal berupa gambar topeng."
__ADS_1
Dominic beranjak dari kursi, lalu mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Pria itu meletakkan sebuah lipatan kertas putih ke atas meja, dan Justin dengan cekatan menyingkirkan nampan gelas ke sisi lain. Membiarkan meja di depan mereka kosong, sedangkan Asfa berhenti memainkan gelas di tangannya.
Lipatan kertas itu, masih menyimpan rahasia. Meski begitu, terlihat Asfa menatap serius, lalu ia membukanya. Tatapan mata meneliti setiap garis topeng yang tergambar. Topeng itu tidak asing dan simbolnya juga sangat familiar. Justin langsung berdiri, dan berlari meninggalkan ruang makan. Hanya beberapa saat, pria itu kembali membawa sebuah kotak peti berukuran sedang.
Peti yang selama dua tahun terakhir ia simpan dan hari ini akan terbuka setelah sekian lama. Justin membukanya, lalu mengeluarkan sebuah topeng yang ternyata memang sama seperti digambar. Siapapun pemilik topeng itu, pasti dialah sang dalang. Seseorang yang diam-diam menyusup dan bersiap untuk menjatuhkan kerajaan Phoenix. Apapun yang terjadi, Asfa masih diam memperhatikan.
"Peri ku, apa yang kamu pikirkan?" tanya Vans, mengalihkan perhatian yang lain.
Asfa bangun seraya mendorong kursi menggunakan kaki kiri, sedangkan tangannya ia gunakan untuk menyambar pisau buah yang ada di atas keranjang buah-buahan. Tindakan wanita itu, membuat Vans, Justin, dan Dominic terkejut. Namun, satu isyarat tangan kanan kiri Asfa menetralkan keadaan kembali tenang.
Asfa pergi dari ruang makan, ia berjalan menuju dapur.
"Duke, ada apa dengan Queen?" tanya Dominic tak paham, sedangkan Justin mengedikkan bahu.
Apapun yang akan dilakukan seorang Asfa, maka hanya wanita itu yang tahu. Seorang pemimpin sejati tidak akan bisa dijatuhkan oleh siapapun karena hanya satu orang yang bisa menjatuhkan Queen Asfa Luxifer. Orang itu adalah Queen Asfa Luxifer sendiri. Namun, siapa pun yang memiliki niat buruk harus siap untuk mendapatkan hukuman.
Asfa kembali sebelum sepuluh menit berlalu, tapi wanita itu kembali dengan membawa sebuah mangkok di tangan kanannya. Kemudian meletakkannya ke atas meja, warna merah darah dengan aroma asam dan ntah apa lagi. Apapun itu, jelas isi mangkoknya bukan hal yang bisa dimakan apalagi diminum.
__ADS_1
"Duke, gunakan sarung tangan khusus dan masukkan topeng itu ke dalam mangkuk ini!" Asfa memberikan perintah pertama, lalu lanjut mengatakan perintah keduanya, "Dominic, berikan ponselmu padaku!"
Justin bergerak cepat melakukan perintah queen, begitu juga dengan Dominic yang langsung mengambil ponselnya dari balik saku celana. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, baginya apapun itu yang terpenting adalah jangan pernah meragukan Asfa. Vans hanya menyimak, ia ingin tahu, kali ini sang istri menggunakan metode apa untuk mencari tahu teka teki dibalik misteri topeng itu.
Setengah jam kemudian, Dominic terkejut dengan nasib ponselnya, sedangkan Justin tersenyum tipis dengan rasa bangga. Sementara Vans menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Selama bertahun-tahun, Asfa semakin maju menerapkan banyak hal dari segi dunia kedokteran, hackers dan lainnya. Siapa sangka, diam-diam wanita itu masih terus mengasah kemampuan tanpa pernah mengenal lelah.
Ponsel kesayangan Dominic harus tamat riwayatnya karena Asfa dengan santainya menjatuhkan benda mati itu ke dalam cairan kimia. Setelah topeng yang dikeluarkan Justin dari dalam mangkuk. Siapa sangka, topeng hitam dengan simbol mawar itu berubah menjadi topeng merah dengan simbol naga bersayap.
Begitu juga dengan kertas bergambar topeng. Jari lentik Asfa dengan cekatan mengubah gambar tanpa harus bersusah payah dan hanya dalam hitungan setengah jam. Akhirnya gambar sama persis seperti topeng yang sudah berubah warna dan simbol.
"Aku tidak peduli. Dimanapun orang ini bersembunyi, temukan dan bawa dia ke hadapan ku! Duke, aku tidak bisa menyerahkan ini pada mu, tapi situasi tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Aku serahkan tanggung jawab pencarian padamu, dan Dominic, listen me. Tugasmu tetap menjadi sasaran mereka. Dia tidak akan menyerah, untuk sementara itu saja."
"Queen, kenapa kamu tidak langsung bertindak? Satu nama saja, kamu tahu bisa menangkap dia dalam hitungan detik. Kenapa...,"
Asfa tersenyum tipis dengan lirikan mata ke arah sang suami, "Dia hanya ingin, aku mengenalnya, dia masih ingin bermain petak umpet. Biarkan saja."
"Apa ini artinya, Kamu tahu siapa dia?" tanya Justin dan Dominic serempak.
__ADS_1