Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 98: Sang Bartender


__ADS_3

Kalian pikir siapa? Disini aku rajanya, dan kalian hanya pionku. Nikmati saja nafas terakhir kalian, dan tertawalah sepuas hati dengan wajah hewan kalian. ~ucap hati sang bartender mengulas senyuman evilnya.


Tak seorangpun tahu. Jika bartender itulah yang menguasai club karena pemilik club hanya sebagai kambing hitam. Dimana hanya untuk menjadi atas nama saja. Apapun yang terjadi di dalam club atas perintahnya.



Langkahnya kembali ke meja tempatnya bekerja. Berteman gelas kaca dengan aroma alkohol yang menyengat, tetapi tiba-tiba datang seorang pelanggan baru yang mengejutkan dirinya. Ditatapnya pria berpenampilan ala pantai yang seperti bule kesasar.



"Malem, Tuan. Mau minum apa?" tawar sang bartender ramah, tetapi pelanggan itu justru memainkan jemari mengalihkan perhatiannya. Secarik kertas menyembul, membuat ia paham apa tujuan pria di depannya itu.



Lirikan mata yang mengawasi kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang melihat. Dirasa aman, sang bartender berpura-pura menawarkan beberapa botol wine dan sampanye pada pelanggannya. Lalu, di saat bersamaan ia mengambil secarik kertas yang pasti ditujukan untuk dirinya.



Satu gerakannya berhasil membawa kertas ke bawah meja, kemudian ia membuka kertas itu. Betapa terkejutnya dengan isi yang tertera dalam sebait surat peringatan. Siapapun yang tahu kehidupannya, pasti pelanggan itu bisa mengantarkan dia pada sang pengancam.

__ADS_1



Namun, ketika menoleh ke arah depannya lagi. Tidak ada siapapun kecuali pengunjung yang lain. Umpatan di dalam hati tak terelakkan. Kini suasana hati menjadi tak bisa dikendalikan. Serba salah. Jika tidak melakukan apa yang diminta, bagaimana ia menyembunyikan indentitasnya?



"Bro, jaga stand. Aku harus pulang cepat." Tukas sang bartender pada teman bartender lainnya yang sibuk melayani pelanggan.



Temannya hanya mengajungkan jempol membiarkan bartender itu pergi meninggalkan pekerjaan. Lagi pula, malam ini tidak banyak pengunjung jadi akan aman saja. Sementara itu, di luar sana. Pria yang memberikan secarik kertas bersender di motor sang bartender.




Rasa penasaran, membuat langkahnya berjalan menghampiri pria itu. Tatapan matanya tak lagi teralihkan. Jangan sampai pria di depan sana menghilang seperti tadi. Namun, apa yang dipikirkan olehnya, tidak akan terjadi karena pria itu memang tengah menunggu waktu yang tepat.


__ADS_1


"Aku atau kamu yang di depan?" tanya pria yang masih saja bersandar di atas motor sang bartender, rupanya pesona pantainya terus saja mencuri perhatian. "Hello! Apa kamu tul!?"


Ia tak terkejut. Sesaat hanya tersentak hingga kesadarannya kembali lagi. Di ambilnya kunci motor dari balik saku celana, lalu ia lemparkan ke pria yang ada di depannya. Gerakan yang cepat, tetapi tangkapan yang sempurna. Siapapun pria itu, pasti pria terlatih.


Aku harus hati-hati. Sebaiknya bersikap tenang, hingga pria ini membawaku pada bosnya.~ ucap batin sang bartender.


"Cepat naik!" tegas pria yang sudah menyalakan mesin motornya, membuat sang bartender menurut.


Perjalanan malam tanpa persiapan. Motor itu melaju membelah jalanan. Hiruk-pikuk keramaian kota, tetap ada. Yah, lingkungan kehidupan akan mempengaruhi cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk jam keluar rumah yang tidak lagi ada aturan malam.


Empat puluh lima menit kemudian.


Motor memasuki sebuah kawasan yang cukup jarang dilalui oleh warga setempat. Rumah tua yang teronggok di tepi hutan menjadi tujuan sang pengendara. Aneh. Siapa yang mau tinggal di rumah seburuk itu? bahkan mirip rumah hantu.


Beberapa pertanyaan datang menghampiri. Akan tetapi, ketika seseorang keluar dari rumah tua itu. Sontak mata sang bartender tercengang, bola matanya membulat sempurna dengan mulut menganga. Apakah penglihatannya masih normal?


"Apa kamu tidak mau memeluk saudaramu sendiri?" tanya orang yang berdiri di bawah lampu di depan rumah tua dengan pintu yang terbuka. "Pergilah! Tugasmu sudah usai."


Pria yang mengirim pesan mengangguk, lalu meninggalkan depan rumah tua. Kesunyian malam menjadi tak tertahankan. Pertemuan yang terjadi setelah sekian lama. Namun, ada rasa takut yang mencengkram hati sang bartender. Apakah semua miliknya akan direbut kembali?

__ADS_1


__ADS_2