
Beberapa saat, Rose sibuk melakukan sesuatu dengan mondar-mandir mengumpulkan beberapa bahan yang ia perlukan. Meja, kursi, kertas, sebuah pot berisi tanaman hijau dan lain-lain. Sementara Queen menyandarkan tubuhnya ke meja, diam melihat segalanya.
"Queen, semua sudah siap." lapor seseorang dari seberang yang terdengar dari earphones telinganya.
Laporan dari seberang, membuat Queen mengeluarkan ponsel dari tempat persembunyiannya. Sang anak buah mengirim beberapa foto hasil pekerjaan. Seulas senyuman terbit menghiasi wajah wanita itu, lalu kembali memasukkan ponsel ke tempat semula.
Fokusnya kembali ke Rose yang terang-terangan melakukan demo. Gadis itu melakukan tantangan yang berasal dari Pangestu. Dimana pemuda itu, memberi tantangan yang cukup sederhana tetapi penuh makna.
Siklus kehidupan di tengah krisis. Bagaimana seorang pimpinan akan mengambil tindakan, tanpa menimbulkan kerugian yang besar dan juga tidak mengorbankan keselamatan banyak orang. Tantangan yang juga merupakan pertanyaan atas kelayakan seorang pemimpin. Apakah sanggup melewati fase terburuk, jika terpilih menjadi senat.
Rose melepaskan tanaman itu dari pot, lalu mengganti dengan pot buatannya yang hanya dari kertas seadanya. Walau tipis, tetap bisa digunakan dengan baik. Awalnya pot oleng ke kanan kemudian disangga dengan lipatan kertas yang memang sudah disiapkan.
Lagi dan lagi pot oleng ke arah lain. Setiap kali oleng, satu lipatan kertas yang dibentuk segitiga menjadi tiang penyangga. Akhirnya pot bisa berdiri dengan benar di atas meja. Lima peyangga memperkokoh tanaman itu. Setelah selesai melakukan demo, Rose meminta izin untuk menggunakan sebotol air mineral dari dewan juri.
Tentu langsung dipersilahkan. Dibukanya botol air itu, lalu dituang secara perlahan membasahi dedaunan yang hijau segar. "Setiap pemimpin, tidak akan bangkit tanpa penopangnya. Sama seperti tumbuhan di dalam pot kertas. Menyerap, menyebarkan kesegaran."
"Tanggung jawab seluruh kampus bukan hanya di pundak ketua senat, tetapi semua yang terhubung menjadi penyangga ikut andil." Rose menyisakan air setengah botol, lalu menghentakkan ke atas meja hingga pot bergoyang.
__ADS_1
Hancur sudah seluruh demo yang dilakukan gadis itu, "Pemimpin menjadi inti pusat, tetapi kita semua harus bekerjasama untuk menggerakkan roda kepemimpinan. Aku tidak berjanji manis. Inilah kebenaran yang harus kita pahami bersama. Bukan begitu, Mommy Queen."
Suara bisik-bisik terdengar. Siapa yang tidak terkejut, ketika Rose dengan tenang dan santainya memanggil pemilik yayasan sebagai mommy queen. Hak mana yang memperbolehkan seorang mahasiswa biasa, bersikap seperti itu?
Queen mengangkat tangannya, membuat semua orang terdiam. Wanita bertopeng itu berjalan tegas menghampiri Rose. Tatapan mata semua orang terus mengawasi, bahkan Sarah tidak bisa berkutik karena tatapan Dominic terus melirik ke arahnya.
"Seorang pemimpin, bukan hanya tentang tanggung jawab." Queen berhenti di depan Rose, tatapan mata saling beradu. Teduh menenangkan, tidak ada pemberontakan dari putrinya. "Pemimpin berarti pengorbanan."
"Seperti bintang di langit malam. Indah, namun tak bisa di gapai. Meski begitu, akan selalu menjadi inspirasi dan penyemangat kehidupan. Seperti air yang mengalir melewati rintangan. Dunia ini berjalan tanpa landasan." Sambung Rose, membuat Queen menepuk lengannya.
Setelah terdiam dalam ketidaksanggupan. Pangestu bangun dari tempat duduknya. Pemuda itu berusaha keras untuk menahan gejolak rasa takut di dalam jiwanya. Tantangan yang diberikan Sarah sungguh tidak berakhlak, lalu bagaimana caranya untuk melakukan tantangan itu?
"Maaf, tapi saya tidak bisa melakukan tantangan yang melawan hati nurani. Lebih baik, saya mengundurkan diri dari pemilihan senat." Ucap Pangestu Mahardika.
Rasanya begitu lega, setelah mengatakan apa yang menjadi ketetapan hatinya. Seluruh emosi yang menekan kesadarannya, menghilang begitu saja. Para mahasiswa terperangah, kini finalis telah gugur satu. Pilihan semakin sulit. Apalagi antara Rose dan Sarah.
__ADS_1
Kedua gadis itu adalah musuh bebuyutan. Jadi, siapa yang akan mereka pilih? Bagaimana jadinya nanti, jika yang menang adalah Sarah. Apakah kampus hanya dipenuhi jeritan para mahasiswa yang menjadi korban perundungan? Pasti berakhir menjadi tragedi bersejarah.
.
.
.
.
Jangan lupa mampir ke karya temen othor ya 😍
sebarkan semangat kita. 🌚
.
.
.
Blurb : Aretha tidak menyangka kalau pria yang menawarkan bantuan dari jerat hutang sang paman pada renternir sebesar 5 Milliar dan memintanya menikah secara kontrak, semata-mata hanya demi wali persetujuan untuk donor ginjal.
Tak hanya itu Anshell pun membuat hidup Aretha menderita atas tindakan yang sama sekali tidak pernah di perbuat. Belum cukup dengan sikap Anshell yang buruk, Lalisa pun terus menjadi bayangan Aretha ingin menjauh dari suaminya.
Namun, setelah Aretha mengusut sikap Anshell, ternyata Anshell melakukan semua itu karena unsur balas dendam pada sang ibu di masa lalu yang pernah berbuat jahat pada Keluarga Stone.
Di saat kebenaran itu terungkap, Anshell justru di tampar oleh kenyataan pahit bahwa wanita yang selama ini dia benci mati-matian hingga bersikap buruk adalah seseorang yang selama ini Anshell cari, bahkan Aretha pergi tidak hanya membawa luka. Namun, benih cintanya yang tumbuh di rahimnya buah dari pernikahan kontrak mereka.
Bagaimana kisah selanjutnya. Apakah Anshell akan mencari Aretha dan menyelamatkan pernikahanya atau Anshell akan memilih rencana awal menikahi Lalisa wanita yang dicintai Anshell selama sepuluh tahun ini?
__ADS_1
Simak terus yuk kelanjutan kisah mereka dan juga rahasia apa yang tersembunyi pada Aretha.