
Tanpa pikir panjang, gadis itu menyambar obat tidur yang ada di laci. Kemudian menuangkan semua sisa obat, tanpa menunda ia menelan semuanya. Segelas air menjadi akhir dari jalan pintas yang membisikkan untuk mengakhiri segalanya dengan bunuh dir!. Tindakannya begitu nekat, hingga seseorang datang membuka pintu kamar. Hal terakhir yang ia ingat, hanya satu suara memanggil namanya.
"SAARAAAH!"
Dela terkejut dengan keadaan sang sahabat, bagaimana tidak. Saat ia baru tahu, bahwa mama Sarah telah meninggal dunia tiga hari yang lalu. Tiba-tiba saja, di depan mata melihat Sarah tumbang dengan botol obat tidur di genggaman tangannya. Tanpa berpikir lebih jauh, gadis rambut sebahu berteriak meminta tolong. Para pelayan berlarian dan segera melakukan tindakan lanjut.
Di saat kondisi menegangkan, bahkan Tuan Atmaja tidak ada di rumah dan sedang bekerja. Dela terpaksa melarikan Sarah ke rumah sakit ditemani salah satu pelayan yang bisa menjaga tubuh temannya di bangku belakang. Gadis itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan pagi. Rasa takut kehilangan pasti ada. Terlebih, ia baru saja mendapatkan informasi penting dari para orang sewaan nya.
Sarah langsung dimasukkan ke ruangan pemeriksaan dan ditangani oleh dokter keluarga, sedangkan Dela berjalan mondar-mandir di depan ruangan. Gadis itu menyadari sesuatu, lalu bergegas menghubungi orang yang memang harus tahu keadaan sang teman. Siapa lagi jika bukan Riswan. Pria yang masih menyandang status pacar, tapi tidak pernah lagi memiliki waktu untuk dihabiskan bersama.
Apapun yang dirasakan Dela, rasa itu hanya miliknya seorang. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, lalu berjalan menghampiri sang bibi yang ikut menunggu dan duduk di kursi panjang. Tatapan mata serius dengan wajah tegang, membuat si bibi gelagapan. Reaksi itu, pasti terjadi sesuatu dan Sarah tidak mungkin diberitahu.
__ADS_1
"Bi, apa benar Mama Sarah meninggal karena kecelakaan?" tanya Dela dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Bibi mengalihkan pandangan matanya, wanita itu terdiam. Akan tetapi, ekspresi wajah dan sorot mata menjelaskan banyak hal. Sontak saja, Dela duduk di sebelah si bibi. Kemudian merangkul pundak wanita yang lebih tua itu dengan cengkraman yang erat. Meski menyadari rintihan rasa sakit, tetap saja gadis rambut sebahu semakin mengeratkan pelukannya.
"Non, sakiiit," rintih bibi seraya berusaha untuk melepaskan diri, membuat Dela semakin menyiksa wanita itu dengan menancapkan kuku panjangnya ke kulit lengan si bibi.
"Aku tidak pernah kasar tanpa alasan. Terakhir kali, satpam di rumahku kehilangan jari manis tangan kiri. Semua itu hanya karena dia tidak mau mengatakan dimana kunci mobil kesayangan ku. Jadi, bisa bibi bayangkan. Apa yang akan ku lakukan terhadap bibi? Aku harap, bibi paham itu."
Ancaman Dela tidak main-main. Rasa perih yang mulai menyerang, menjelaskan kini bahunya pasti terluka. Namun, bagaimana dirinya akan jujur. Setelah kematian nyonya besar saja, semua pelayan mendapatkan ultimatum dari Tuan Atmaja. Dimana, barang siapa berani membuka mulut. Maka, nyawa seluruh keluarga akan melayang tanpa ada tempat untuk mengenang.
Diamnya si bibi menambah rasa penasarannya. Namun, keduanya masih dirumah sakit. Jadi tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa mengundang perhatian banyak orang. Untung saja dari lorong kiri terlihat kedatangan pemuda yang tadi ia hubungi. Yah, Riswan sudah datang. Lambaian tangan pemuda itu hanya dibalas tatapan datar gadis rambut sebahu.
__ADS_1
"Del, dimana Sarah?" tanya Riswan dengan wajah cemas nya.
Dela bangun tanpa melepaskan tangannya dari lengan si bibi dan mau, tidak mau. Maka, wanita itu harus ikut berdiri, "Sarah masih di dalam ruangan. Tolong jaga dia sebentar, aku ada urusan mendesak. Ayo, Bi."
Riswan tertegun dengan pernyataan Dela. Bukan karena ucapan gadis itu saat berpamitan, tapi ia dengan jelas melihat kuku gadis rambut sebahu itu melukai lengan si bibi. Langkah kaki kedua wanita beda usia meninggalkannya, membuat ia reflek mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada seseorang.
[Rumah sakit xxx. Awasi Dela Vincent.]
Getaran ponsel tanda pesan masuk, segera dibuka Riswan. Hanya sebuah kata dan kini perasaannya sedikit lega. Setidaknya, ada harapan nyawa bibi itu terselamatkan. Rantai yang melingkar di dalam kehidupan masih terus bergulir. Suka, tidak suka. Semua harus segera diakhiri. Meskipun, untuk itu harus menjadi orang terjahat sekalipun.
Sementara itu, di sebuah ruangan. Seseorang tengah menatap ruangan dimana tempatnya berada. Pertama kali, disaat membuka mata yang ia lihat hanya ruangan terang dengan dinding berwarna putih. Di sekujur tubuhnya terpasang banyak alat medis. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan menari di dalam otak. Namun, tiba-tiba ada sengatan yang mengejutkan, membuat rasa sakit memberontak di dalam otaknya.
__ADS_1
"Aaarrgggghhh....,"
Suara teriakannya, mengaktifkan alarm ruangan itu. Sontak membuat banyak orang bergegas menghampiri, dan memeriksa keadaan pasien mereka. Di antara para dokter, terdengar seseorang melakukan panggilan dan sebuah nama yang disebutkan terasa tidak asing menyusup masuk ke dalam gendang telinganya.