Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 31: CAIRAN KIMIA


__ADS_3

Tatapan mata tertuju pada kardus yang berisi beberapa botol cairan kimia. Rasa bosan menunggu, membuat mereka berjalan mondar-mandir di sebuah gang kecil yang kumuh.


"Haish, sampe kapan kita nunggu? Bisa jamuran ini."


"Bisa diem gak? Loe berisik." Sarah mengumpat Dela yang tidak bisa sabar menanti, padahal semua demi kepentingan bersama.


Dela mencebikkan bibir seraya mendengus sebal. Mau tidak mau memang harus menunggu. Semua ide kan berasal darinya. Jadi tidak ada gunanya untuk mengeluh. Sementara itu, Sarah yang sibuk mengotak-atik HP terlihat mulai bosan.


"Sar, loe denger suara motor, gak?" tanya Dela menajamkan pendengarannya.


Sarah menghentikan aktifitasnya sejenak. Benar ada suara motor yang semakin terdengar bising mendekati tempatnya. Sontak kedua gadis itu saling pandang, lalu menganggukkan kepala serempak. Tanpa ada kata, masker dari dalam saku menjadi penutup wajah kedua gadis yang tidak ingin identitas mereka diketahui.


Sorot cahaya lampu yang menyilaukan mata, membuat Dela dan Sarah menutupi wajah mereka menggunakan kedua tangan. Suara motor berhenti, lalu langkah kaki terdengar mendekat. Hentakan suara sepatu begitu jelas. Sarah dan Dela menurunkan tangan mereka. Kini tatapan mata bertemu dengan lawan yang akan membantu rencana licik yang sudah susah payah tersusun rapi.


"Wah, wah, rupanya bos baru kita cuantip bangeet....," puji seorang preman dengan kerlingan mata nakal.


Satu tepukan mendarat mencium punggung preman pertama dengan lirikan tajam preman kedua.

__ADS_1


"Jaga omongan, Loe. Gak usah banyak ba-cot." gertak preman kedua dengan wajah sangar.


"Hello! Apa kalian, sudah tidak butuh uang?" Sarah dengan lantang menghentikan perdebatan unfaedah geng preman di depannya.


"Katakan, apa pekerjaan kami." balas preman kedua seraya mengangkat tangan menghentikan langkah preman ketiga agar tetap diam di tempat.


Sarah memberikan isyarat mata pada Dela agar menjelaskan apa pekerjaan geng preman yang harus menyelesaikan masalah untuk nya. Gadis dengan rambut sebahu berjalan menghampiri kardus berisi beberapa botol cairan kimia. Ia raih satu botol, dan tak lupa mengambil sebuah tabung kaca berukuran sedang dengan satu makhluk hidup yang terbang kesana kemari berusaha untuk melarikan diri.


Seekor kecoa terlihat sangat frustasi karena dikurung di dalam tabung kaca. Dela membawa kedua bahan ke depan geng preman. Tabung kaca diletakkan, lalu lubang di atas tabung dibuka setengah. Kemudian botol cairan kimia di kocok sesaat sebelum akhirnya dituangkan ke dalam tabung dan tak lupa di tutup kembali tutup tabungnya. Ketiga preman menyaksikan demo dadakan itu seksama, hingga asap mengepul menenggelamkan kecoa yang sesekali terlihat menabrak dinding tabung.


Dela bertepuk tangan, "Ide yang bagus, tapi salah. Kecoa itu tidak mati, tapi secara perlahan pasti mati."


"Botol cairan kimia ini hanya perlu kalian lemparkan ke dalam sebuah cafe. Tepatnya Cafe Hits yang ada di jalan xxx. Pastikan pekerjaan tidak ada korban selain pemilik cafe. Apa kalian paham?" Dela melanjutkan penjelasannya seraya mengambil sesuatu dari balik jaketnya, "Ini bayaran di muka. Sisanya setelah pekerjaan selesai. Deal?"


Segepok uang di tangan kanan Dela, membuat mata preman ketiga bersinar terang. Langkah pria itu tak bisa ditahan, dan berlari menghampiri gadis yang berdiri dengan jarak tiga meter. Tetapi tiba-tiba suara ledakan ringan mengejutkan semua orang. Sontak preman kedua menarik jaket preman pertama secepat yang ia bisa.


Asap yang membumbung perlahan memudar, dan kini yang ada di gang itu hanya tersisa mereka bertiga. Tidak ada lagi dua gadis yang memberikan mereka pekerjaan. Tabung kaca yang berisi kecoa meledak, bahkan serpihan kaca juga menggores lengan preman kedua.

__ADS_1


"Kalian disini! Aku sendiri yang akan melakukan pekerjaan kali ini." Ucap preman ketiga tanpa rasa takut melangkahkan kakinya berjalan menghampiri sudut gang.


"Bro, kamu jangan gila, ya!" seru preman kedua tak mempedulikan rasa perih di lengannya.


Preman ketiga tidak menggubris, ia masih tak bergeming menatap sekotak kardus yang berisi botol cairan kimia serta segepok uang lembaran merah. Tangan yang bersembunyi di balik saku, akhirnya meninggalkan sarang. Tak ada yang bisa melihat ekspresi wajah pria itu, bahkan termasuk kedua preman di depan motor.


"Aku tidak peduli dengan permainan kalian. Aku hanya peduli dengan uang, uang dan uang." gumamnya menghirup aroma lebaran merah yang jelas baru keluar dari bank.


Penampilan dua gadis yang memberikan pekerjaan jahat. Tentu saja ia tahu, siapa kedua gadis itu, tapi baik Sarah maupun Dela. Bisa dipastikan tidak tahu siapa dirinya dan semua itu berkat topeng wajah yang menutupi wajah aslinya. Smirk jahat tersinggung begitu manis, lalu kardus berisi cairan kimia diangkut.


Langkah kakinya begitu tegas, tetapi jika diamati lebih baik. Kaki kirinya seperti sedikit diseret ketika berjalan. Tatapan mata tenang dengan netra sendu memberikan kesan, jika dia pria yang lemah.


"Bro!" panggil preman kedua berusaha menghentikan preman ketiga.


"Kembali saja ke markas! Aku akan kembali setelah pekerjaan ku selesai."


Pagi yang indah ketika sinar mentari mulai merangkak memberikan cahaya harapan baru. Suara deru motor meninggalkan genk kumuh.

__ADS_1


__ADS_2