Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 111: Tiket Emas


__ADS_3

Anggukkan kepala Sang suami mengakhiri perdebatan keduanya. Sekarang ia sendiri yang akan fokus menghadapi masalah yang tengah bergulir d Universitas Regal Academy. Memperbaharui sistem, dan lain sebagainya. Demi kepentingan bersama agar masa depan lebih baik.


Meski untuk itu harus menggunakan cara lama. Apapun akan dilakukan agar bisa menyingkirkan mata jahat dari skema pendidikan. Seperti hembusan angin yang selalu berubah arah, ketika musim berganti. Asfa juga mengubah rencananya untuk menyelesaikan tanpa menimbulkan pro dan kontra lebih banyak lagi.


Rencana yang akan membuat semua orang ikut bermain dalam permainannya. Bukan hanya dua arah, tetapi dari lima arah sekaligus. Satu arah Rose dan sudut pandangnya. Satu arah lagi Geng Cantika bersama antek-antek yang masih bersembunyi. Satu arah lain para orang tua dari anak-anak yang bersangkutan. Satu arah lagi dari bayangan yang menjadi pusat permainan. Arah terakhir adalah dirinya sendiri. Sang Queen.


Kini pertarungan akan dimulai. Satu persatu akan terungkap untuk itu. Maka sudah disiapkan sebuah pertemuan khusus dengan acara yang spectacular. Melalui undangan misterius. Mereka yang memiliki andil dalam peristiwa kematian Nara. Semua akan mendapatkan tiket emas dari seorang pengirim daring.


Tiket emas dengan barcode khusus di setiap tiket yang berseri sesuai dengan tingkat keterlibatan. Tiket itu didesain langsung oleh Queen dan hanya dia yang tahu. Setiap fungsi dari kegunaan tiket tersebut. Rencana sudah dimulai dengan pembagian tiket secara random.


Sistem teknologi yang semakin canggih, membuat Asfa tahu dengan mudah. Siapa saja yang sudah membuka paket tiket melalui lawan web yang sengaja muncul dan menarik perhatian mereka yang terlibat. Dua hari berlalu. Separuh dari target sudah membaca bahkan mengisi identitas untuk mengikuti acara yang menurut mereka sangat bagus untuk diikuti.


Sarah yang tertarik dengan kelas dansa. Della yang ingin belajar membuat racikan obat kimia. Prita yang berharap bisa menjadi seorang pengusaha handal. Riswan yang bermimpi menjadi pemimpin dalam semalam. Rektor Wisnu yang mencoba keberuntungan untuk mendapatkan harta karun dan peserta yang lain dengan alasan masing-masing.


Tangannya sibuk menari bermain ketukan nada memeriksa setiap formulir yang terus berdenting. Satu persatu dimasukkan ke dalam daftar. Total peserta dua belas orang, tetapi dari semua nama. Ternyata Rose tidak masuk, bahkan gadis satu itu masih belum membuka situs web yang menyediakan tiket emas.

__ADS_1


Melihat itu, Asfa mencoba cara lain. Namun, setelah memikirkan kembali. Cara yang sama bisa dilakukan. Meski harus melakukan kecurangan. Jumlah peserta tidak boleh ada yang kosong. Apapun kesibukan di dunia nyata. Mereka semua harus berkumpul di tempat yang sama dengan waktu yang sama pula.


"Matikan seluruh jaringan internet selama satu jam di wilayah kampus!" Titahnya tanpa berpikir dua kali.


Satu tindakan akan menemukan hasil yang baik. Tidak perlu menunggu lama karena dalam hitungan menit. Kamera pengawas bisa menunjukkan Rose tengah memeriksa ponsel. Di saat itulah. Asfa mengirimkan virus pada semua ponsel orang yang berada di kampus. Kepanikan terjadi, tapi gadis bermata biru tetap tenang.


Gadis itu justru menyeruput minuman soda yang sudah dicampur kelapa muda. Lalu memainkan ponselnya dengan fokus yang tinggi. Niat hati memperbaiki agar jaringan bisa dipulihkan. Namun, tanpa sadar jemarinya dituntun untuk mengisi formulir agar tiket emas bisa diaktifkan.


Data terakhir sudah terinput masuk menjadi rombongan para pengejar kebenaran. Tiket emas yang bertuliskan Truth or Dare akan dikirim dalam sepuluh hari kerja. Selama periode menunggu. Semua orang mendapatkan kehidupan yang bebas tanpa hambatan.


Kehidupan terus berjalan. Ditengah hiruk-pikuk gemerlapnya dunia. Nafas mereka dalam pengujian. Sepuluh hari menjelang pertunjukan, membuat rasa penasaran semakin tidak sabaran. Persiapan tengah dilakukan, tapi tidak dengan Asfa. Wanita itu justru sibuk dengan hal lain di suatu tempat.


Tak peduli dengan rengekan remaja tersebut. Asfa terus melakukan pemeriksaan hingga menyuntikkan obat pereda rasa nyeri pada pasiennya. "Apa kamu sudah cukup kuat? Jika ya, pergilah dan serahkan dirimu pada para pelaku yang pasti akan membunuhmu untuk kedua kalinya."


"Nyonya, apa gunanya kehidupan? Jika aku saja tidak berguna. Bukankah nyonya tahu, bagaimana keadaanku saat ini? Apakah aku masih pantas hidup dan mendapatkan kebahagiaan." Tatapan mata kosong dengan lelehan air mata, sesenggukan menikmati rasa sakit yang tak bisa dilupakannya.

__ADS_1


Rasanya memang sakit. Ketika kenyataan jauh lebih pahit dari rasa jamu, tetapi apa gunanya keluhan? Ketika takdir masih memberikan nafas untungnya. Kehidupan yang tidak tahu untuk apa. Lalu, sang dewi penyelamat justru bersikeras ingin dirinya tetap hidup.


"Nyonya, saya lebih baik mati." Tegas remaja itu, lalu menarik selang infus yang entah sudah berapa kali diganti oleh suster.


Tetesan warna merah menyebar hingga mengenai pakaian pasien yang nekat. Remaja itu bukannya bersyukur masih diberikan waktu untuk memperbaiki keadaan, tapi justru merusak masa depan tanpa alasan yang tepat. Sontak Asfa melayangkan tangan hingga suara gema tamparan terdengar memekakkan telinga semua orang.


"Di luar sana, ada yang mati-matian mencari keadilan untuk kesalahan mu. Apa kamu pikir, seorang ibu rela membiarkan anaknya tenggelam dalam badai penyesalan?" Direngkuhnya dagu remaja itu, tatapan mata saling beradu. "Jangan menguji kesabaran seorang ibu. Nara."


.


.


.


Man-teman, sembari menunggu up karya ini.

__ADS_1


Mampir yuk, ke karya temen othoor 🍃



__ADS_2