Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 85: SERUM KEBENARAN


__ADS_3

Della menyingkirkan tangan pria yang menatapnya penuh ketegasan, tetapi saat ini. Dia masih enggan untuk menyebut deretan nama yang masih tersimpan rapat dari para orang tua. Bukannya tidak ingin jujur, tapi diantara dia dan Sarah ada perjanjian hitam diatas putih.


"Della!" Papa Vincent memanggil putrinya, tetapi gadis itu malah memilih memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Ok, jika kamu tidak mau jujur. Maka, Papa akan menemui Sarah dan bertanya hal sama pada gadis itu."


Mendengar hal itu, Della kembali menatap papanya dengan tatapan memelas. Sebenarnya dia bisa saja berkata jujur, tapi ada hal yang tidak bisa ia ceritakan. Jika Sarah tahu, sudah pasti akan menjadi masalah besar. Gadis itu berpikir, jika sang papa masih membutuhkan bantuan dari papa temannya.


Namun, Della tidak tahu. Diantara papanya dan papa Sarah, sama sekali tidak saling ketergantungan. Meskipun begitu, dia tidak bertanya bagaimana hubungan antara keluarganya dan keluarga Sarah. Sejak awal, yang dia tahu adalah pria paruh baya di depannya itu bisa masuk ke rumah sakit tempat bekerja yang sekarang hanya karena rekomendasi dari Tuan Atmaja.


Papa Vincent memegang dagu gadisnya, "Della, apa kamu mau main-main dengan Papa mu? Apa ini yang Papa ajarkan padamu."

__ADS_1


Tekanan yang diberikan Papa Vincent cukup menyakiti dirinya, tetapi sebisa mungkin ditahan agar bisa terlepas dari intimidasi sang Papa. Seketika tangan kekar yang mulai memiliki keriputan itu meregang, "Sepertinya, putriku tidak mau buka mulut. Jadi, apa harus mendapatkan hukuman?"


Apapun yang akan dilakukan oleh Vincent. Sebagai anak, Della hanya bisa menerima karena rahasia yang tersimpan di lubuk hatinya masih harus tersimpan rapat. Namun, sebagai seorang dokter. Pria itu tidak kehabisan akal. Ditinggalkannya sang putri selama beberapa menit untuk kembali ke kamarnya sendiri.


Setelah mengambil sesuatu yang selama beberapa hari disimpan sebagai cadangan emergency. Hari ini, dia akan gunakan serum kebenaran pada putri semata wayangnya. Della yang duduk di atas ranjang. Tiba-tiba dipaksa untuk meminum sebotol kaca mini cairan putih.


Meski mencoba menolak. Kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan papa nya di saat dalam pengaruh amarah. Akhirnya cairan serum kebenaran terteguk hingga tandas. Kini, tubuh Della merasa terbang melayang ke udara. Begitu banyak bayang-bayang yang memenuhi kepalanya.


"Hehehe, kenapa tanya nama? Lihatlah, aku cantik." Della menunjukkan pada dirinya sendiri, tetapi ketika ditatap tajam meringkuk seakan merasakan takut. "Nama ku .... Della Vincent."

__ADS_1


"Serum nya memang efektif. Okay, lanjut pertanyaan kedua. Katakan padaku. Siapa saja yang bersamamu di malam pesta saat acara kampus berlangsung?" tanya Papa Vincent sekali lagi.


Akan tetapi, sepertinya ia terlalu terburu-buru hingga melupakan serum itu memiliki kelebihan dan efek sampingnya juga. Della yang diambang sadar dan tidak sadar masih berusaha untuk tetap menjaga rahasianya. Meski bibirnya ingin sekali meloloskan beberapa nama yang siap diledakkan.


Ditengah usahanya, Della berusaha untuk melarikan diri. Namun, papanya tidak membiarkan dia untuk beranjak dari tempatnya hingga ia menyampar bantal yang bisa dijadikan sebagai perlawanan. Tidak sampai situ saja, gadis itu juga merangkak berusaha untuk menuju kamar mandi.


Serum kebenaran yang semakin menggeliat menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Semakin begitu menyiksanya. Della berusaha, tetapi usahanya sia-sia. Di sisa kesadaran yang bisa ia rasakan. Gadis itu menarik penutup meja yang bergelantungan di bawah. Sontak saja vas bunga dan gelas kaca yang ada di atas meja terjatuh menjadi pecahan.


Meskipun ia tega, tapi tidak sekejam itu untuk memberikan hukuman pada putri tunggalnya. Direngkuhnya tubuh sang putri, lalu tanpa banyak kaya. Tubuh itu ia pindahkan ke atas ranjang. "Diam! Papa akan bereskan kekacauan yang kamu buat."

__ADS_1


Setelah memastikan Della akan tetap aman. Vincent keluar dari kamar hanya untuk mengambil sapu, setidaknya apapun yang akan dikatakan putrinya nanti. Tetap hanya dia yang tahu. Kepergian pria itu, membuat Della berusaha mengambil ponselnya. Kemudian ia mencari alat perekam dengan susah payah.


"Akhirnya, Aku bisa menemukan yang kubutuhkan." Pandangan mata yang samar, tak membuatnya hilang arah. Ditekannya perekam suara itu, "Malam itu, kami berenam ...,"


__ADS_2