Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 41: ANCAMAN UNTUK PRITA


__ADS_3

Nampan sengaja ia letakkan di atas meja depan sofa. Di saat itulah sang gadis menyadari ada seseorang yang tengah mengawasinya. Tatapan yang ntah berasal dari mana, tapi feeling itu benar-benar kuat. Tanpa ingin menambah ketegangan, Prita mengangkat kedua tangan tanda menyerah.


"Apa maumu?" tanya Prita berusaha tetap tenang.


Suara langkah kaki terdengar mendekati Prita, membuat gadis itu bersikap waspada. Tidak ada serangan apapun, selain sebuah tangan yang menyodorkan sebuah pisau ke depan wajah gadis itu. Pisau yang masih memiliki sedikit bekas noda merah. Bukankah itu pisau yang digunakan kakaknya?


Pisau itu mengingatkan Prita tentang kakaknya, tiba-tiba saja orang dari belakang bertanya, "Apa kamu mau menyelamatkan kakakmu?"


"Ya, Aku mau." jawab Prita tak ingin gegabah mengambil tindakan.


"Aku, mau, kamu menuruti semua perintahku. Tidak ada penolak dan aku jamin keselamatan kakakmu akan selalu ada di tanganku. Ada tugas untukmu," ujar orang itu menurunkan pisau yang ia pegang, lalu tangan satunya memberikan kertas yang memang sudah disiapkan.


Kertas itu diterima, lalu tanpa basa-basi dibuka. Isi kertas itu membuat bola matanya siap meloncat. Bagaimana cara dia melakukan tugas yang mustahil. Apalagi tugas itu menyangkut kepercayaan banyak orang. Disisi lain keselamatan sang kakak juga terancam. Sejenak memikirkan segala kemungkinan hingga akhirnya satu keputusan dibuat.

__ADS_1


"Kenapa tugas ini? Siapapun kamu, pasti tahu benar hubungan ku dengannya. Trus kenapa masih memintaku...," kata Prita berusaha mencari celah informasi.


Gadis itu benar-benar merasa gelisah. Apalagi pikirannya hanya tertuju pada sang kakak dan bagaimana cara menyelamatkan kakaknya saat ini? Padahal niat hati hanya ingin membawa sang kakak ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan. Terlebih setelah insiden tadi, sungguh tidak mungkin untuk membiarkan Amara berkeliaran dengan gangguan mental yang diderita.


"Dengarkan aku baik-baik! Apa yang harus kamu lakukan adalah...," ucap pria itu setengah berbisik, membuat Prita berpikir bagaimana melakukan tugasnya.


Prita menyimak baik-baik tanpa menyela, dan setiap detail tugas langsung tersimpan di dalam memori otaknya. Sebenarnya tugas itu sama seperti melakukan permainan petak umpet dengan memakai dua topeng. Yasudah, apapun demi sang kakak. Maka tidak perlu berpikir lagi.


"Baiklah. Aku lakukan apa perintah mu, tapi pertemukan aku dengan Ka Mara dulu." kata Prita tanpa ragu.


Jika orang itu mengetahui semua tentang yang ia rencanakan. Itu berarti ada yang menyadap rumahnya. Siapapun yang saat ini tengah melakukan negosiasi dengan cara mengancam. Jelas bukan orang biasa. Satu hal pasti. Tidak ada niat untuk melukai, karena yang orang itu mau, hanya tugas dijalankan.


"Akan ku lakukan tugasku, tapi pastikan kakakku baik-baik saja," ucap Prita mengakhiri semuanya, ia tak ingin lagi berdebat ataupun mengeluh dan sudah cukup jelas apa yang diinginkan oleh orang di belakangnya.

__ADS_1


Apapun yang terjadi pada Prita dan kakaknya. Hanya mereka berdua yang tahu. Salah. Bukan hanya mereka karena ada seseorang dibalik layar dan orang itu yang mengendalikan semuanya dari jarak jauh. Rencana yang ia buat tidak ada yang bisa menghalanginya. Keputusannya sudah pasti. Sudahlah, tak peduli berapa banyak orang akan menentang. Semua akan benar pada waktu yang tepat.


Waktu berlalu begitu cepat. Malam pun tiba. Suasana begitu sunyi tak ada orang yang berkeliaran kesana kemari, tetapi di suatu tempat ada hingar-hingar suara musik begitu keras dengan suara teriakan para orang-orang. Klub A itulah namanya. Di sana banyak pemuda-pemudi sedang menikmati alunan musik yang begitu keras dengan goyangan yang cukup menggoda.


Seseorang duduk di pojokan sembari memainkan wine. Tatapan matanya tak sengaja melihat seseorang yang tengah bermain dengan wanita penghibur.


"Apa yang harus aku lakukan dengannya? Apakah aku harus melakukan sesuatu yang buruk atau lebih baik kutinggalkan saja, tapi pasti tidak seru lagi. Lagipula ini akan lebih baik jika semua orang tahu kebenaran pria itu," pikirnya dengan senyuman simpul licik menatap pria diatas panggung disco.


Tanpa menunda waktu ia mengambil ponsel dari saku jas, lalu merekam apa yang ada di depan mata. Pemandangan yang begitu wow itu akan menjadi bukti dan mungkin bukan saat ini, tapi suatu saat nanti. Pasti itu bisa menjadi tamengnya atau setidaknya bisa lah untuk menjadi alat pemeras menghasilkan pundi-pundi rupiah tanpa harus bekerja keras.


"Sekarang aku menyimpan kartu As milikmu. Jadi jangan main-main denganku, kita lihat nanti. Kamu yang akan menurut dan bertekuk lutut di bawah kakiku atau justru aku yang mengemis meminta bantuanmu. Lagi pula bukti ini sudah sangat cukup. Apalagi, jika sampai ke tangan media massa hingga semua tahu seberapa bejatnya seorang pebisnis sepertinya," gumamnya bermonolog pada dirinya sendiri.


Orang itu mengambil langkah bersiap meninggalkan klub karena takut ketahuan. Tentu saja setelah mengambil selembar uang untuk membayar wine yang ia nikmati. Akan tetapi di saat ia ingin kembali. Justru tatapan matanya, sekali lagi melihat sesuatu yang tidak terduga. Dimana seorang wanita dengan penutup wajah berjalan masuk dari pintu club, tapi dari penampilannya ia paham benar. Siapa wanita itu.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan di sini? Apa mungkin dia sudah tahu jika suaminya seperti itu?" pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang pasti.


"Kenapa seperti ini jadinya? Aku akan lihat apa yang terjadi dan setidaknya ini bisa menjadi tambahan bukti. Apalagi jika apa yang kupikirkan benar, maka wanita itu memang harus aku ajak kerjasama." sambung orang itu mengikuti kemana arah perginya sang wanita bercadar.


__ADS_2