Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 119: Identitas?


__ADS_3

"Aku pilih dare." Putus Prita tanpa rasa gentar, membuat Samsul bersiul terpesona.


Seperti yang dikatakan oleh gadis blasteran itu. Prita bangit dari tempat duduknya, lalu berjalan memutari dua kursi sahabatnya. Dimana Della dan Sarah duduk bersebelah. tubuhnya masih diam tak bergeming berdiri ditengah diantara sang sahabat. Namun, apakah mereka bertiga bisa disebut sebagai sahabat? Nyatanya tidak. Ia tahu, jika penyebab kakaknya gila adalah kedua gadisyang mengaku menjadi sahabat.


Semua orang tegang menanti apa yang akan dilakukan oleh Prita. Tak terkecuali para penonton yang hanya bisa menunggu hasil akhir dari setiap permainan. Bukan hanya hubungan keluarga yang dipertaruhkan. Malam ini setiap hubungan akan dipertanyaan, baik persahabatan ataupun ppermusuhan. Bisa jadi sahabat rasa musuh dan musuh rasa sahabat. Tidak ada yang tahu dengan hasil dari tindakan selama ini.


''Tolong biarkan kedua sahabatku beranjak dari tempat duduk meraka,'' pinta Prita, membuat Samsul menurut. Seetelah terdengar bunyi bip, baarulah ia membimbing kedua gadis itu untuk berdiri dihadapannya. Tatapan mata saling beradu, ''Sejak aku mengenal kalian, tidak sekalipun aku mengeluh. Apalagi bertindak sesuka hati. Kalian membuat banyak kerusuhan. Aku diam.''


''Kalian membuat masalah lebih besar, aku msih diam. Satu kesalahan kalian yaitu melibatkan kakak tersayangku. Apa kalian tahu rasanya mati berkali-kali? Kalian bernafas, tapi jiwa kalian hanyut dalam kehampaan. Rasa ini, tidak akan mengubah kondisi ka Amara yang harus dirawat di rumah sakit jiwa. Jika membunuh bukanlah aib dan dosa. Tanganku dengan senang hati mencicipi darah kalian. Musuhku bukan satu, tapi dua yaitu kalian berdua. Sarah Atmadja dan Della Vincent.''


''Loe berani ama ....,''


Ucapannya terhenti menikmati sentuhan panas yang menyengat, bukan main. Satu tamparan hingga topeng yang menutupi wajah Sarah terhemmpas jatuh terlempar cukup jauh. Della berniat membantu, tapi wajahnya tak luput dari sasaran Prita. Gelenyar panas dengan mata berkedut, sedangkan diruangan lain. Papa dari kedua gadis itu merasa tidak terima hingga berteriak sekencang mungkin. Sayangnya hanya mereka yang dengar karena semua ruangan akan menjadi mode layangan putus.Sementara ruang yang mendapatkan misi menjadi mode on fire.


Seulas senyum puas tersungging di wajah cantik Prita. Puas? Tidak. Ia hanya memberikan apa yang pantas untuk kedua sahabat rasa musuh. Kini dengan tenangnya, ia kembali duduk tanpa rasa bersalah. Ini hanya secumil karma dari salah satu korban karena yang memiliki hak untuk menghukum bukan hanya dia seorang. Diluar sana, banyak yag ingin bisa merasakan untuk memberikan hukuman atas setiap dari perbuatan buruk mereka.


''Next.'' Samsul tak mampu lagi berkata, untuk pertama kalinya ia juga larut dalam kepuasan dalam sekali gerakan. ''Aku trauma meminta kalian untuk mengajukan diri. So, kita undi saja.''

__ADS_1


Samsul membuka sebuah panel.Dimana itu terhubung langsung ke semua ruangan. Sebuah tabung kaca dengan bola awarna warni. Bola tersebut berjumlah sesuai dengan anggota dan dikali dua. Jadi, sudah terbuang dua bola pemain pertama. Tidak ada kecurangan, atau diskriminasi. Setiap misi akan menjadi takdir masing-masing. Seperti keberuntungan tergenggam dalam tangan mereka.


''Prita, ambillah satu bola, lalu putar agar bisa terbelah menjadi dua bagian,kemudian sebutkan nama yang ada di dalam bola tersebut. Ingat, apapun yang terjadi, tidak ada penipuan.'' jelas Saamsul dengan begitu nyata tegas tanpa ada keraguan.


Tanpa menunda apa yang harus terjadi, gadis melakukan persis seperti yang di jelaskan oleh Samsul. Sebuah bola warna putih dengan garis hitam menjadi pilihannya. diputarnya bola tersebut hingga terbelah menjadi dua, kemudian menampakkan sebuah nama. Nama yang selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Entah kenapa, tapi ia merasa semua yang terjadi pasti ada kaitannya dengan gadis itu. Jika tidak, bagaimana mungkin permainan sebesar malam ini bisa dilangsungkan.


''Rose Qiara Salsabila.'' ucap Prita mengangkat tangannya hinga membuat camera tersembunyi melihat dengan jelas nama yang ada di dalam bola.


Satu nama yang langsung menyulut hati banyak orang.Tidak ada kedamaian karena yang tersisa hanya ada amarah dalam ego. Sarah, Della dan lainnya merasa muak ketika nama gadis bermata biru terdengar menusuk gendang telinga mereka. Jika dipikirkan lagi, bukan salah gadis itu. Mereka saja yang tidak sadar diri.


''Rose, are you ready?'' tanya Samsul memulai permainan lagi, setelah melihat Prita kembali duduk ke bangkunya sendiri. Namun, yang ditanya hanya mengacungkan jempol tanda kata. ''Silence girl's, i like it. Let's start!''


''Truth, sebutkan para pendosa yang kamu kenal dengan jumlah ganjil. Dare, tunjukkan identitas aslimu.'' ucap Rose membaca misinya.


Seperti hujan jatuh membasahi api unggun. Hawa panas berubah menjadi dingin. Bukan pilihan yang sulit, tetapi kebenaran tanpa bukti hanya berarti fitnah. Saat ini, ia masih belum mendapatkan bukti yang konkrit. Tidak tahu memilih yang mana. Kecuali satu yaitu dare.


Sesaat menghela nafas. Apa arti identitas? Identitas adalah karakteristik dari hasil pemikiran, emosi dan tindakan. Bukan tentang harta, apalagi marga. Jika identitas menyangkut dari nama besar milik orang tua. Sudah pasti, kemanapun langahnya berjalan. Disana akan ada rasa hormat tanpa perjuangan.

__ADS_1


Tidak. Identitasnya akan tetap sama menjadi Rose Qiara Salsabila. Bukan Luxifer atau putri seorang Queen karena sejak awal hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Meski dunia meragukannya, ia tau siapa dirinya.


''Aku hanya Rose putri seorang ibu yang luar biasa bagi kehidupan banyak orang. Aku hanya mentari yang selalu bernaung di bawah bayangan sang rembulan. Tidak ada tahta, hanya ada cinta.'' jawab Rose memilih dare tanpa memberikan kesempatan pada samsul untuk menyela, apalagi memberikan peringatan.


''Dare yang jelas, tapi ada satu masalah. Kenapa tidak menyebutkan seperti orang pada umumnya? Nama orang tua, tempat tinggal dan lain sebagainya. Bukankah itu yang disebut identitas, tapi kamu justru mengungkapkan teka-teki.'' bantah Samsul tidak habis pikir dengan pernyataan dari Rose.


Rose tersenyum tipis, lalu mengambil ponselnya dari saku jaket, kemudian meletakkannya ke atas meja. ''Jika kamu menyapakan identitas sama seperti benda mati ini, itu bukan salahku. Setiap manusia di lahirnya ke dunia dari keluarga yang berbeda. Bagi mereka yang terlahir dari keluarga berada. It's ok, jika merebut marga dari leluhur.''


''Lalu, bagaimana dengan para anak yang terlahir dari keluarga kekurangan? Masyarakat selalu memandang rendah. Identitas bisa berubah, tapi tidak dengan personality. Dunia semakin maju, bukalah sudut pandang yang terjebak atas nama marga, agama dan budaya.''


Perfect answer. Samsul bertepuk tangan merasa tidak sanggup lagi untuk berdebat dengan Rose. Gadis itu benar sekali, bahkan itu menjadi pencerahan dari pikiran yang selama ini tidak memahami arti dari nilai dirinya sendiri.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2