Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 122: Nama yang Sama


__ADS_3

Permainan tidak lagi sekedar permainan biasa. Setiap pemain akan mendapatkan kejutan. Entah harus pasrah atau menyerah? Pada akhirnya, semua akan menentukan pilihan yang sulit. Tanpa sadar, kebenaran terungkap dengan sendirinya. Tidak ada yang bisa melarikan diri.


Bagai rintik hujan yang mulai menyapu bercak noda darah hingga memudar. Permainan kembali dilakukan. Samsul meminta Tuan Atmadja untuk mengambil bola lagi, dan secara tidak langsung. Giliran pria paruh baya itu masih satu kali permainan. Lagi dan lagi, keberuntungan berpihak pada anggota lain.


Bola yang diambil hanya tercantum namanya seorang. Tidak ingin mengulang kesalahan pertama dengan melemparkan misi. Kali ini, Tuan Atmadja langsung menerima tanpa keraguan walau diliputi rasa cemas yang berlebihan. Suara instrumen musik terdengar begitu menyakitkan seperti lagu kematian.


Akan tetapi, hanya pria itu yang merasa demikian. Begitu musik berhenti, bidak juga ikut terhenti, lalu bergeser, kemudian gulungan kertas mencuat ke atas. Tak ada lagi kata menunggu, diambilnya gulungan itu. Perlahan membuka, secara sadar membaca misi dari dalam hati.


"Tuan Atmadja! Apakah Anda tidur? Silahkan bacakan misi yang membuat jiwa Anda terbang melayang." sindir Samsul membuyarkan angan sang pria paruh baya yang terlihat bengong, seperti baru mengalami serangan jantung.


Setiap kali Samsul membuka mulut. Pasti hanya menjadi dua arah, satu cercaan dan satunya lagi ketegangan. Seakan pria itu ditakdirkan untuk menjadi musibah bagi mereka yang mengikuti acara malam ini. Namun, siapa yang akan tahan mental? Ketika harus mendengarkan banyak kebenaran dari orang-orang penting.


Menghela nafas panjang, mencoba untuk bersabar. Meski hati tak bisa merasakan sedikitpun ketenangan. "Truth, kejujuran adalah kebenaran, seberapa jujur dirimu dalam hidup ini? Dare, lepaskan semua aset yang berasal dari bisnis ilegal saat ini juga."


Misi kali ini menghanyutkan Tuan Atmadja dalam dilema, tetapi menyadarkan Rose. Gadis itu sudah bisa menemukan siapa dalang di balik permainan yang cukup menegangkan. Siapa lagi jika bukan sang mommy. Alih-alih menyimak. Rose justru mengedarkan pandangannya menelusuri setiap inci atap ruangan yang menyekap semua orang.

__ADS_1


Dari pantulan sinar layar virtual. Ia memastikan sekitar delapan kamera tersembunyi, sesaat mencoba mempertimbangkan tempat duduknya. Terlalu kencang dengan berat yang ringan. Jika tidak salah praduga, pasti ada aliran listrik yang akan langsung menyengat. Jika ada yang mencoba melarikan diri.


Lalu, beberapa tombol yang ada di sisi kanan dan kiri meja. Ditambah papan catur yang memiliki bidak. Semua pasti sinkron, dan memiliki perhitungan matematika. Sesaat memejamkan mata, mengingat semua rangkaian dari saat pertama masuk ke dalam universitas Regal Academy. Namun, tetap ada yang terlewatkan.


Perlahan menghirup udara sekitar, kembali memutar memori waktu yang akan menjadi petunjuk. Tibalah pada waktu pengisian formulir yang dimana menjadi tiket emas. Lalu beralih pada hadiah valentine berupa gelang yang menyerupai jam tangan khusus hingga tiba pertemuan yang mengumpulkan banyak orang.


Meskipun bukan sembarangan orang, tapi keseluruhan merupakan orang-orang yang berkaitan erat dengan sepak terjang yang terjadi di dalam Regal Academy. Maka bisa dipastikan, semua hanya memiliki satu fokus utama yaitu kasus kematian Nara Alona. Itu hasil dari kesimpulan seorang Rose.


Sayangnya tidak sesederhana itu karena di balik satu kisah memiliki kisah lain. Asfa bukan ingin menunjukkan apa yang terjadi pada Nara. Melainkan menunjukkan pada para pelaku bahwa hidup yang mereka banggakan. Bukanlah hidup sebenarnya. Apa arti hukuman? Ketika hidup masih tentang kepalsuan.


Asfa yang mengamati semua anggota permainan menyadari bahwa Rose mulai menemukan jawaban dari seluruh rangkaian yang telah di rancang sedemikian rupa. Ia tidak gentar untuk tetap melanjutkan karena permainan ini lebih baik. Dibandingkan putrinya kesana kemari mencari kebenaran. Meski bisa berkata langsung, biarlah sang putri belajar arti kejamnya dunia yang menjadi tempat mereka bernaung.


Semua keputusannya, belum tentu akan sesuai seperti rencana, tetapi setidaknya akan memberikan hasil delapan puluh persen dari yang seharusnya. Ini bukan tentang kepercayaan, namun semua sudah diperhitungkan. Dari setiap nyawa yang mengikuti permainan. Sifat, sikap dan tindakan menjadi akumulasi insting perhitungan yang akan menjadi jawaban akhir.


Rose dan Asfa seperti sepaham dengan ikatan batin keduanya. Tidak ada yang meragukan kepintaran keduanya. Dari layar virtual. Wanita anggun yang duduk di kursi kerjanya terus menatap monitor dari ruangan sang putri. Dimana gadis itu tengah sibuk memperhatikan gelang yang terikat di tangan kirinya.

__ADS_1


"Periku, apakah Rose tahu. Jika semua ini strategi untuk meringkus semua orang?" tanya Vans yang ternyata ikut memperhatikan layar virtual.


"Right." Asfa memperbesar layar virtual yang ada Rose di dalamnya, "Lihatlah, gadis kita tengah berpikir cara mematikan sistem kerja dari mesin pengatur waktu. Setidaknya, waktu yang dibutuhkan tiga puluh menit dari sekarang."


Tiga puluh menit? Apa tidak salah, seingatnya. Sang istri bisa mematikan sistem waktu dari gelang itu hanya dalam sepuluh menit. Kenapa putrinya justru memakan banyak waktu? Bukankah itu terdengar terlalu lama. Vans lupa, jika Rose hanya memiliki ponsel, tidak ada alat yang bisa digunakan untuk membantu memecahkan permasalahannya.


"Ka Vans, coba hubungi anak buah kita. Apakah mereka sudah mengantar Nara sampai ke rumah. Aku mau kabarnya secepat mungkin." sambung Asfa mengalihkan lamunan Vans.


Meninggalkan ruangan operator. Dinginnya malam di luar sana, membuat empat pria berbadan sangar terpaksa menghentikan laju kendaran akibat ban kempes depan dan belakang. Sementara mereka tidak membawa ban cadangan. Wilayah pemberhentian tidak memiliki akses sinyal yang baik. Ingin mencoba mencari bantuan, tetapi harus mendapatkan sinyal.


"Hey, lihat ada lampu di depan sana. Sepertinya rumah. Aku akan kesana untuk mencari bantuan dan kalian jaga gadis itu." seru salah satu pria, lalu bergegas meninggalkan kawanannya begitu mendapatkan persetujuan.


Langkah kaki yang semakin menjauh, membuat tiga pria lain lebih waspada. Tugas mereka tidak boleh gagal karena apapun yang terjadi harus membawa gadis yang tak sadarkan diri kembali ke villa. Namun, mereka tidak menyadari. Jika apa yang terjadi saat ini adalah rencana seseorang.


Tatapan mata tajam di balik gelapnya pepohonan, membuat orang itu tidak nampak oleh mata yang terlalu sibuk mengedarkan pandangan kesana kemari. Menunggu beberapa saat, tetapi setelah beberapa menit. Pria pertama tak kunjung kembali. Justru lampu di depan sana berulang kali kedap kedip.

__ADS_1


"Aku rasa ada yang tidak beres." celetuk pria kedua, lalu menutup pintu mobil depan. "Kalian tetap disini, aku akan susul teman kita."


__ADS_2