
"Rose, apa kamu tidak setuju, jika kami membawa pulang Papamu untuk dirawat intensif?" tanya Asfa lembut tanpa menatap putrinya yang masih mengunyah es potong lembut dengan potongan buah segar.
Satu pertanyaan yang mungkin tidak pernah melintas di dalam pikiran, tetapi tetap saja ia dengar dari wanita yang selalu menjadi panutannya. Helaan nafas panjang seraya menelan dinginnya es yang lembut. "Aku akan jujur pada Mommy. Saat ini, Rose belajar untuk menerima kenyataan, tetapi itu seperti hujan petir yang terus menyadarkan diri ini. Jika aku bukan putri Papa Vans."
"Mommy lebih mengenal diriku. Rose masih berproses untuk menerima semuanya. Tidak seharusnya, aku egois dengan memikirkan diri sendiri." Rose meletakkan cup es yang tersisa setengah ke meja yang ada di depannya meski harus menggeser posisi, lalu menoleh menatap wanita yang melahirkannya. "Keputusan orang tua, pasti demi kebaikan seluruh keluarga."
Rose terus menatap Asfa, semakin lama tatapan keduanya semakin dalam, "Mommy mungkin Queen bagi semua orang, tapi bagiku. Mommy adalah jiwaku. Mommy alasan Rose tetap bernafas. Apapun yang menjadi keputusan kalian. Itu juga keputusan ku."
Asfa tersenyum. Benar yang Papa Luxifer katakan. Didikan orang tua akan selalu mempengaruhi karakteristik dari anak itu sendiri. Selama ini hidupnya dipenuhi suara bising peluru dan ceceran darah, sedangkan Rose dipenuhi cinta dan kehangatan. Kehidupan yang bertolak belakang. Namun bukan berarti menjadi sebuah alasan.
Kini Rose telah tumbuh dewasa dan itu terbukti dengan kasus perundungan yang dialaminya. Gadis itu tetap terus berjuang dengan kekuatannya sendiri. Hanya saja, kini akan banyak orang baru yang datang untuk memporakporandakan. Ntah bagaimana caranya untuk melindungi kehidupan yang menjadi pelangi di kegelapan malam.
"Mom, Rose bisa telat kalau lama-lama disini. Bisa antar ke kampus sekarang?" pinta Rose ketika menyadari jarum jam hampir mendekati pukul delapan pagi kurang sepuluh menit. Asfa mengangguk, lalu menoleh ke arah bapak yang menjadi pemilik kedai es potong.
Namun, sesuatu luput dari pengawasannya. Sejak kepergian pria tua itu, ternyata waktu sudah berlalu selama sepuluh menit, tapi kenapa si bapak tidak kembali? Bukankah tadi memberikan pesanan pelanggan yang suaranya terdengar dari balik pohon di depan sana. Asfa mencoba untuk tenang dan memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
"Rose, pergilah ke kampus. Mommy akan menunggu Justin. Ingat belajar yang rajin, dan buat kakekmu bisa mengangkat piala juara umum." Asfa memberikan semangat, tetapi Rose bersedih. Tatapan mata memelas selalu menjadi alasannya, "Princess. Hentikan tatapan itu, pergilah. Mommy akan pulang setelah semua pekerjaan selesai."
Ketika puppy eyes tidak mampu meluluhkan hati sang mommy. Maka, wanita itu dalam mode serius dan tidak ingin dibantah. Tidak Paman, Kakek, Mommynya juga memiliki satu sifat yang seperti sudah turun temurun. Rose berpikir seperti itu, padahal itu hanya sebuah pemikiran. Kenyataanya Alvaro bukan anak kandung dari Tuan Luxifer.
Rose tidak tahu, jika keluarganya bukan hanya tentang ikatan darah. Melainkan ikatan hati yang jauh lebih kuat dan akan saling melindungi serta siap berkorban demi kebahagiaan keluarga mereka. Asfa mengantarkan gadis itu kembali masuk ke dalam mobil, lalu menunggu kendaraan itu menghilang di balik tikungan.
Setelah melihat semua aman, Asfa merogoh saku jaketnya. Wanita itu tidak pernah meninggalkan apa yang menjadi kebiasaannya. Kini tangannya tidak lagi polos karena sebuah sarung tangan khusus telah ia kenalan. Langkah yang perlahan menyusuri setapak, melewati gerobak penjualan, hingga rerumputan hijau menjadi tempatnya berpijak.
Pohon besar yang bisa menyembunyikan tubuh dia orang begitu mengganggu spekulasi yang menjadi kesimpulan awal. Ketika langkahnya semakin mendekat, ada aroma yang menusuk. Hembusan angin mengatakan aroma anyir itu adalah kabar buruk. Tak ingin semakin penasaran. Asfa melihat semakin berjalan mendekati pohon.
Seorang wanita dengan nafas ngos-ngosan langsung saja duduk berselonjor, ketika sampai di depan Asfa. Jelas, wanita itu tidak pernah olahraga. Suara deru nafas yang tersenggal dengan wajah yang memerah seperti tomat. Melihat itu, Asfa hanya menatap, lalu mengulurkan tangannya.
"Mama, kenapa disini sendirian? Dimana adikku, Rose? Apa dia disini juga?" tanya wanita itu tanpa mengindahkan iluran tangan Asfa yang masih mengenakan sarung tangan. "Ma? Kenapa diem. Aku ....,"
Asfa mengangkat tangannya agar wanita itu berhenti mengajukan banyak pertanyaan. Bau darah yang semakin menusuk mengusik ketenangannya. Tak ingin membuat kesalahan, Asfa meninggalkan tempat itu, membuat wanita yang masih mengatur nafas kembali berlari membuntuti dari belakang.
__ADS_1
Sebaiknya aku minta Justin untuk memeriksa. Terlambat tidak apa, setidaknya aku bisa mencari informasi.~batin Asfa menuju tempat parkiran, tetapi tatapan matanya terpengaruh sesaat.
Jejak merah di depannya. Kenapa terlihat baru? Ia merunduk berjongkok hanya untuk memeriksa jejak apa yang ada diatas setapak itu, dicolek, lalu dihirup. Aroma darah segar, tapi jejak itu seperti berpola menuju ke sebuah mobil. Apa disekitarnya terjadi pembunuhan? Ntah kenapa, satu wajah melintas dalam benaknya.
"El, apa itu mobilmu?" tanya Asfa membuat Elisa menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Mama angkatnya. Dimana mobil mini Cooper menempati parkiran tak jauh dari keduanya berdiri.
"Iya, Ma. Itu hadiah dari Kakek. Kenapa, Ma?" tanya balik Elisa mencoba untuk memahami pertanyaan dari mamanya.
Asfa memperhatikan jejak berdarah itu sekali lagi, tetapi benar. Jejak itu dimulai dari arah taman menuju bagasi mobil milik Elisa. "Kunci!" Ia mengulurkan tangan kanannya yang memiliki noda darah, meski darah itu ada di sarung tangan. Setelah merasakan ada benda lancip digenggaman tangan, Asfa berjalan selangkah. "Diam disini!"
"Ma?"
Tidak ada jawaban. Asfa berjalan perlahan mengikuti jejak darah itu hingga berhenti tepat di depan bagasi mobil. Dimana jejak itu berhenti. Apapun yang akan dia lihat. Sudah pasti bukan hal menyenangkan, tapi waktu terus berputar. Kunci itu hanya dia gunakan untuk satu kepastian. Dimasukkan ke lubang dan ternyata bagasi itu tidak terkunci.
Perlahan pintu bagasi dibuka. Benar saja, pemandangan di depan mata seperti yang menjadi isi kepalanya. Bapak penjual es potong telah menjadi korban pembantaian. Tubuh paruh baya itu penuh luka sayatan, tanpa menunggu lama. Asfa mengabari Justin untuk segera datang, sedangkan Elisa diminta untuk tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Rupanya, musuh mulai mendekat, atau hanya kebetulan saja? Aku harus bertemu dengannya. Jika tidak, bisa saja banyak korban yang berjatuhan.~batin Asfa memejamkan mata membayangkan sebuah wajah di dalam kegelapan yang selalu berteriak disepanjang malamnya.