Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 34: AYUNAN RUSAK


__ADS_3

"Bunga mawar tadi untuk siapa?" tanya Sarah tak mau mengalihkan tatapannya dari mata sang kekasih.


"Oh, bunga yang tadi. Itu hanya untuk mengenang masa kecilku saja. Bukan hal penting." Jawab Riswan benar-benar santai tanpa ada menimbulkan kecurigaan sedikitpun.


"Eh, bentar lagi mall dibuka. Yuk, buruan abisin sarapan. Trus, kita kesana!" ajak Dela mengalihkan perhatian sepasang kekasih yang masih saling menatap satu sama lain.


Sarah menarik tangannya, lalu menghabiskan teh hijaunya. Sementara Riswan memeriksa ponsel, tapi wajah pria itu terlihat gusar. Ntah apa yang terjadi, tiba-tiba saja berdiri dan tanpa permisi berlari meninggalkan Sarah dan Dela.


"Sayang!" panggil Sarah, sayangnya diabaikan.


Dela yang bereaksi lebih cepat. Langsung menarik tangan Sarah mengikuti Riswan. Untung saja semua makanan sudah di bayar. Disaat langkah kaki sudah keluar dari cafe. Tatapan mata menelusuri seluruh sudut mencari keberadaan pacar sang teman sudah hilang ntah kemana.


"Shiit! Kemana pacar lo pergi, Sar? Lagian ngapain dia lari kaya dikejar hantu gitu?" cecar Dela dengan wajah kesal, sedangkan Sarah masih terdiam mengamati sekelilingnya.


Sekali lagi pemandangan di taman menyita perhatiannya, lalu tanpa kata. Ia berjalan kembali menuju taman. Dimana sesuatu benar-benar mengusik pikirannya.


"Sar, lo mau kemana?" tanya Dela sedikit berseru.

__ADS_1


Sarah hanya melambaikan tangan agar temannya ikut tanpa harus memberitahu akan kemana. Langkah kaki yang mengekor, membuat Dela bergegas menyusul agar langkah kakinya seimbang dengan langkah Sarah. Kedua gadis itu berjalan dan berhenti tepat di depan ayunan rusak. Dimana di bawah ayunan bunga mawar sudah tidak ada lagi.


Sarah memeriksa ayunan itu, berharap menemukan sesuatu. Tetapi selain rusak, ayunan juga berdebu. Sontak saja Dela menarik tangan temannya.


"Sar, lo kenapa, sih?" tanya Dela dengan tatapan tak paham.


Sarah membalas tatapan mata Dela, "Bunga mawarnya hilang, Del. Apa Riswan yang ambil?"


"Bunga mawar? Apa maksud lo, yang tadi kamu ceritain?" tanya Dela memastikan, anggukan kepala Sarah membuat gadis rambut sebahu mengamati ayunan rusak, tapi memang tidak ada satu bunga pun.


"Sar, mungkin saja ada anak yang ambil. Lihat aja banyak anak-anak disini," Dela memberikan argumen akurat yang pasti akan diterima begitu saja oleh temannya.


Sarah menghela nafas, "Benar juga, ya sudahlah. Ayo! Kita ke mall saja. Kepalaku rasanya sakit terlalu serius....,"


Belum juga selesai berkata-kata. Nada dering ponsel terdengar dari saku jaketnya. Sarah bergegas mengambil benda pipih yang jarang sekali digunakan. Sebuah nama tertera di layar. Siapa lagi jika bukan nama pacarnya. Sebuah panggilan suara yang dengan enggan, tetap saja di jawab.


"Ada apa....," tanya Sarah cemberut tak terselesaikan karena jawaban dari seberang langsung mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Dela hanya menatap Sarah dengan diam-diam mengamati perubahan ekspresi sang teman yang terlihat semakin dongkol. Pasti sesuatu telah terjadi, tapi apa? Kenapa juga setelah peristiwa beberapa minggu lalu. Justru hubungan setiap orang disekitarnya menjadi semrawut.


"Del!" panggil Sarah dengan menggoyangkan lengan Dela, membuat gadis rambut sebahu terkejut.


"Lo, kenapa, Del? Oh, ya. Riswan bilang ibunya baru jatuh dari tempat tidur. Jadi dia buru-buru pulang," Jelas Sarah tanpa beban.


"Owh, ya udah. Kita jadi ke mall, atau mau pulang saja?" tanya Dela tanpa basa basi.


Sarah mengedikkan bahu tanda tak tahu. Melihat itu Dela langsung merangkul untuk menjemput kesenangan di depan sana.


"Hari ini kita puaskan bersenang-senang. Bukankah besok pemilihan periode pertama diadakan? Jadi come on have fun, girl's!" ajak Dela mengembalikan semangat mencari hiburan anak muda, tapi tidak dengan isi hatinya.


*Seorang Dela, tidak bisa ter*tipu begitu saja. Pasti terjadi sesuatu, dan ada yang Riswan sembunyikan. Lihat saja nanti, gue bakalan bongkar semuanya. ~batin Dela begitu angkuh.


Kedua gadis yang berjalan menjauhi cafe tanpa harus membawa mobil karena cukup menyebrang jalan raya. Maka sudah bisa memasuki mall. Dari arah lain, sorot mata mengawasi kepergian Saran dan Dela, hingga suara deheman dari belakang mengalihkan perhatiannya.


"Permainan tidak mungkin berhenti dengan satu kematian. Ingatlah, satu pengkhianatan tidak akan mengubah masa lalu."

__ADS_1


__ADS_2