
"Rencana yang bagus, Rose bisa pergi denganku. Aku janji, akan menjaganya dengan baik."
Kedatangan seseorang yang menyela percakapan antara Justin dan Rose, membuat kedua penghuni kamar mengalihkan perhatian mereka. Dimana seorang pria berdiri ditengah pintu dengan penampilan pria pantai. Lihat saja kemeja tipis tanpa dua kancing atas yang sengaja dihilangkan. Pesonanya tak kalah dengan uncle Justin.
"Uncle Dominic? Wow, kejutan sekali uncle ada disini. Tumben, ada apa...,"
"Rose, tidak bisa kalau orang datang itu disambut pelukan atau senyuman, gitu? Lah, ini malah dikasih berondong pertanyaan."
"Hehehe, sorry uncle. I just excited because uncle suddenly come back to Indonesia."
(Hehehe, maaf paman. Saya hanya senang karena paman tiba-tiba kembali ke Indonesia.)
__ADS_1
Gadis bermata biru dengan kekehan kecil, berlari menghampiri Dominic. Pria itu langsung merentangkan kedua tangan untuk menyambut nona mudanya. Rose yang sejak kecil ia jaga. Terlihat begitu semakin cantik dan anggun. Sudah hampir tujuh tahun. Akhirnya ia kembali ke Indonesia, tentu tidak datang tanpa alasan. Semua sudah semakin rumit, dan ini harus segera dilaporkan pada Queen secara langsung.
Reuni itu, hanya dilihat dari jauh oleh Justin. Pria itu tahu, kedatangan salah satu duke dari Queen pasti akan menjadi pertemuan penting pada waktunya nanti. Sebelum semua jelas, ia memilih diam memperhatikan. Apalagi, saat ini kondisinya memang kurang baik. Asfa juga sudah menyegel beberapa pasal tentang pekerjaannya. Jadi, mau, tidak mau. Ia hanya bisa menjadi seorang pengamat.
Kebersamaan Rose, Dominic dan Justin terlihat begitu akrab. Ketiganya menjadikan waktu untuk bercerita panjang kali lebar, tapi tidak dengan percakapan di lantai atas. Dimana Asfa menghela nafas. Wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi. Tentu saja, setelah mendapatkan ceramah dari sang papa yang saat ini menatapnya dengan harapan tinggi.
Bukannya ia tak mau memberikan kebahagiaan untuk hubungan yang menjadi kehidupannya saat ini, tapi setelah apa yang terjadi dalam hidupnya. Apa yang diharapkan sang papa adalah hal yang sulit untuk diwujudkan. Jika bisa meminta dan memilih, sudah pasti ia ingin bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna. Namun, takdir berkata lain.
"Asfa, Papa harap, kamu mempertimbangkan permintaanku. Semua yang papa katakan hanya demi masa depanmu. Papa tidak ingin. Setelah Abhi kembali sadar nanti. Kamu justru sibuk mengurusnya dan mengabaikan Vans. Bukan karena papa tidak punya hati, tapi semua ini karena sekarang kamu istri dari Vans."
"Andai, Papa bisa mengambil alih perawatan Abhi. Sudah pasti, sejak awal akan papa lakukan. Kenyataannya, hanya tanganmu yang memiliki keajaiban. Kamu yang bisa memberikan kehidupan baru untuk pria itu, dan papa tahu. Jika suamimu, memberikan kebebasan demi membuat hati mu tidak merasa bersalah pada mantan suamimu."
__ADS_1
Asfa hanya menjadi pendengar setia. Saat ini, ia membiarkan sang papa mengeluarkan seluruh isi hati dan pikiran. Mungkin, selama ini, pria kekar dengan rambut putih itu selalu diam. Selama beberapa tahun hanya menikmati status sebagai orang biasa yang menjadi kakek dari dua cuci. Tentu setelah mendengar berita Abhi mulai memberikan reaksi. Ada rasa takut yang menyusup di hati seorang ayah.
Jangan sampai, kebahagiaan yang selama ini ia lihat hancur hanya karena masa lalu. Bukannya tidak percaya pada sang putri dan menantunya, tapi terkadang takdir pun berkhianat. Ketika ingatan masa lalu datang, diantara semua hati yang terluka. Asfa yang selalu jatuh dengan rasa kecewa begitu dalam. Ayah mana yang sanggup melihat putri tercintanya menjadi patung bernyawa?
"Pa, Aku tidak bisa berjanji apapun." ujar Asfa pasrah, ia tak bisa berkata jujur tentang keadaannya saat ini. Semua itu, karena Vans sudah melarangnya untuk memberitahukan pada keluarga.
Sebuah kenyataan yang bisa diterima Vans dengan lapang dada, tapi tak seorangpun tahu dibalik tangguhnya seorang Queen memiliki rahasia yang hanya dia dan suaminya ketahui. Jikalau, ia mau jujur. Pasti akan menimbulkan kegemparan. Semua yang terjadi tidak bisa diubah kembali. Ada rasa bersalah, tapi tidak bisa meminta maaf.
Sementara itu, Tuan Luxifer merasa terkejut mendapati sang putri tidak memiliki semangat dan juga begitu pasrah. Queen yang tidak suka diragukan, hari ini terlihat lemah dan tidak berdaya. Sebenarnya ada apa? Apakah firasatnya benar. Jika benar, mungkinkah sang putri masih mencintai Abhi. Tidak. Hal itu, tidak bisa dibiarkan.
Tuan Luxifer mengangkat tangan kanan Asfa ke atas kepalanya, "Katakan dengan jujur, APAKAH PUTRI KU MASIH MENCINTAI PRIA ITU?!"
__ADS_1