Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 64: PIKIRAN MASING-MASING


__ADS_3

Pria itu meraih foto yang berukuran sedang, lalu mengusap wajah manis putrinya, "Della, Papa akan lakukan apapun demi membuatmu tersenyum dan tetap bahagia. Meski untuk itu, harus menyingkirkan banyak orang. Alasanku tetap bertahan adalah kamu. Tidak seorang pun boleh menyentuh apalagi melukaimu. Itulah janji Papa untuk putri tersayang ku."


Tuan Vincent meletakkan foto keluarga nya kembali ke tempat semula, lalu ia berjalan meninggalkan rumah. Sementara sang putri masih menikmati rendaman air hangat di dalam bathup. Gadis rambut sebahu itu sedang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan. Di saat membawa Si Bibi ke dalam toilet. Dia ingat tidak ada orang lain yang tahu kecuali satu orang yaitu Riswan.


Akan tetapi, apakah mungkin kekasih dari sahabatnya melakukan sesuatu yang tidak ia pikirkan. Pemuda itu terbiasa melakukan apa yang diperintahkan oleh Sarah. Namun, saat ini kondisi Sarah saja masih tidak sadarkan diri dan kemungkinan besar masih ditangani oleh para tim medis. Lalu, siapa yang merekam video pembunuhan itu. Sudah jelas di sini ada sesuatu yang tidak beres, tapi apa?


Della berusaha berpikir keras. Kenapa dan bagaimana semua itu bisa terjadi. Apalagi tanpa sepengetahuannya. Terlebih lagi, dirinya ingat benar situasi saat itu sangatlah sepi dan bisa dipastikan aman. Jadi kemungkinan ketahuan itu sangatlah mustahil atau mungkin sekitar satu persen. Jika demikian, lalu, siapa yang bermain di belakang layar?


Orang yang menguasai pikiran Della. Justru tersenyum lebar dan berulang kali melihat video dari dalam ponselnya. Pemuda itu berpikir. Kali ini, dia benar-benar seperti mendapatkan lotre. Satu video yang bisa dipastikan menggemparkan seluruh media massa, tapi bukan berarti dia akan langsung mempublish video itu. Setelah bersusah payah dengan bersembunyi dan mendapatkan apa yang tidak pernah terbayangkan.


Kenapa harus disia-siakan. Apalagi, satu hal bisa dipastikan. Dimana gadis yang ada di dalam video itu adalah putri dari seorang dokter terkenal. Sebenarnya ini bukan untuk dia, tapi untuk teman yang memang sengaja memanggilnya agar bisa mengawasi Dela. Tidak peduli dengan awal mula yang membuatnya memiliki bukti kejahatan seorang gadis.


Kali ini, dia bisa mendapatkan banyak sekali uang. Satu hal harus dilakukan. Jika menginginkan banyak lembaran kertas merah. Maka harus mengancam papa dari gadis itu. Tentu saja agar mau menuruti permintaannya. Yah, itu ide yang cemerlang dan tidak perlu di pikirkan berulang kali.


Pikiran anak remaja, selalu saja berpikir tentang segala sesuatunya secara satu sudut pandang. Pemuda itu tidak menyadari apa yang kini tengah ia pikirkan Mungkin saja akan menjadi akhir dari hidupnya sendiri. Sementara orang yang meminta dia untuk melakukan pekerjaan tersembunyi. Justru masih terduduk di depan ruangan ICU. Siapa lagi jika bukan Riswan.

__ADS_1


Setelah menunggu selama dua jam. Akhirnya tim medis keluar dari ruangan ICU. Sontak saja, Riswan bergegas menghampiri sang dokter, lalu pemuda itu menatap wajah tegang dari pria dewasa yang mengenakan jas putih, "Dok, bagaimana keadaan teman saya? Apa boleh, saya menjenguknya langsung?"


"Maaf adik ini siapanya pasien? Apakah tidak ada orang tua yang bisa diajak untuk berbicara secara serius?" tanya balik si dokter, membuat Riswan menggelengkan kepala.


"Saya adalah kekasih dari pasien, Dok, tapi saya sudah mencoba untuk menghubungi ayah beliau. Sayangnya nomor yang saya punya tidak aktif. Jadi, bisakah dokter katakan. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Sarah?" tanya Riswan sekali lagi dengan berbicara tanpa basa-basi karena saat ini, fokusnya juga terbagi. Dimana disisi lain, ia sedang memikirkan hal lain karena teman yang ia minta untuk mengawasi Dela. Tidak mau menjawab panggilannya.


"Sebenarnya keadaan pasien dalam keadaan depresi. Jadi, tolong lebih baik katakan pada orang tuanya untuk membawa pasien ke dokter psikologi agar bisa melakukan bimbingan kejiwaan. Saat ini, pasien masih dalam tahap awal, tapi jika tidak segera ditangani. Kemungkinan besar akan menjadi masalah yang jauh bisa memperumit masa depannya," Jelas si dokter, membuat Riswan mengangguk paham. Pemuda itu berusaha untuk tetap tenang dan memikirkan sesuatu agar bisa membantu Sarah.


"Apakah Sarah bisa kembali sehat dan tidak mengalami tekanan batin, lagi? Andai dibawa ke dokter psikologi." Riswan mencoba bertanya lagi hanya untuk memastikan apa langkah selanjutnya


"Baiklah, terima kasih, Dokter. Kalau begitu, saya akan menemui Sarah terlebih dahulu. Permisi, Dok," Riswan berpamitan setelah menerima hasil laporan Sarah, pemuda itu tidak ingin terlalu lama di luar ruangan.


Ketika pintu ruangan terbuka. Ia bisa melihat wajah cantik dari sang kekasih terlihat begitu pucat, bahkan nampak kurus. Padahal, terakhir kali saat mereka bertemu. Sarah masih memiliki tubuh yang cukup berisi sebagai gadis ideal. Akan tetapi, hari ini jelas ada cekungan di sekitar mata dan juga bibir pucat pasi. Jujur saja itu sangat aneh karena kini gadis itu terlihat seperti zombie.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu. Kenapa bisa sampai seperti ini? Apakah ini juga karena dia yang menjadi saingan pemilihan senat, atau karena masalah di keluargamu. Oh iya, aku lupa ayahmu saja terlalu sangat sadis terhadap orang lain. Bagaimana kamu hidup dengan pria seperti itu. Sayang sekali, wajah iblis papa mu masih tersimpan rapat di balik topeng."

__ADS_1


Riswan memperhatikan perubahan wajah Sarah. Yah, hanya sesaat, sebelum tangan dan matanya fokus bermain ponsel. Pemuda itu tidak fokus dengan apa yang ada di depan mata. Melainkan harap-harap cemas, hingga suara dari luar ruangan ICU menarik perhatiannya. Rasa penasaran, membawa pemuda itu berjalan meninggalkan ruangan tempat Sarah beristirahat.


Beberapa suster terlihat berbincang-bincang tentang sesuatu, tapi suaranya terlalu jauh. Di saat keluar dari ruangan, para suster yang bergosip sudah tidak nampak, "Apa terjadi sesuatu? Tunggu dulu. Kemana perginya Dela? Gadis itu izin ke toilet dua jam yang lalu. Wah, benar-benar minta di timpuk nih anak. Aku harus hubungi gadis itu."


Riswan memilih untuk duduk di kursi ruang tunggu depan ruangan ICU. Ponsel yang menyala sudah menempel di telinga bersambut suara dering ponsel dari seberang. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan berakhir tanpa ada jawaban. Sekali lagi mencoba, tapi berujung pada kekecewaan, "Panggilan ku tidak dijawab. Dela dan Max, apa terjadi sesuatu diantara keduanya? Tidak. Jangan sampai gadis itu tahu tentang Max, tapi...,"


Riswan menarik nafas dalam, ia baru menyadari sesuatu. Sudah pasti, semua yang dirinya rencanakan berakhir gagal total. Jika satu tindakan saja berakhir tidak baik. Lalu, bagaimana ia akan menyelesaikan misi yang kini menjadi ujung mautnya? Serba salah.


...----------------...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭


__ADS_1


......................


__ADS_2