Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 81: Kubus Pemicu Balapan


__ADS_3

Awas saja kalian. Malam ini, aku pindahin ke kota lain. Jangan sampai pundi-pundi uang ku melayang hanya karena wajah bahagia anak-anak. Wajah kalian harus selalu memelas, bukan ceria seperti itu." gumamnya seraya menghantamkan tangannya ke pohon yang menjadi tempat persembunyiannya.


Siang berlalu berganti malam. Ditengah ketenangan dunia. Beberapa muda mudi sudah standby di tempat khusus yang biasanya digunakan untuk balapan liar. Kali ini, mereka menunggu jagoan baru yang bisa bertanding dengan ketegaran hati merelakan motor kesayangan untuk menjadi bahan taruhan.


Suara rumpi para anak muda tak mengubah suasana menjadi lebih dingin. Beberapa motor sport dari arah utara menampakkan diri. Terdengar riuh para kaum hawa yang mengira, pasti dua motor yang baru datang itu pemuda tampan.


Niko sebagai pengurus agenda balapan menghampiri tamu tak diundang yang jelas asing bagi para anak jalanan di daerah itu, langkah pemuda dengan ikat kepala terhenti tepat di depan kedua motor sport hitam yang hanya memiliki plat motor berbeda.


"Apa tujuan kalian ke sini?" tanya Niko seraya menghisap rokok mild kesukaannya, membuat asap putih mengepul.


Untung saja dua orang yang memakai helm fullface tetap terbebas dari asap itu. Bukannya menjawab, satu orang yang ada di sisi kiri Niko menunjuk ke depan. Dimana seorang pemuda tengah berbaring di atas motornya dengan tangan sebagai bantalan.


Niko mengikuti arah sang tamu tak diundang. Ketika arah jemari tepat menunjuk Alex sang anak jalanan. Sontak saja, Niko bersiul tiga kali. "Sitsuit.. Sitsuit.. Sitsuit... Bro, ada penantang baru!"


Alex membuka kelopak matanya, tetapi masih enggan untuk beranjak dari posisi ternyamannya. Pemuda itu hanya melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata. Sepertinya si anak jalanan tidak tertarik dengan pertandingan malam ini. Melihat itu, Niko menggelengkan kepala.


"Sebaiknya lain kali. Malam ini, kalian kurang beruntung." cetus Niko yang paham seperti apa sifat Alex.


Sayangnya, ucapan Niko dianggap angin lalu. Ketika orang pertama mengambil sesuatu dari balik saku jaketnya, lalu melemparkan sesuatu pada pemuda itu, "Berikan padanya. Time only five minutes."


"Ini apa?" Niko bertanya seraya membolak balik sebuah benda kubus seperti rubrik yang tidak menarik baginya. Tetapi dia sadar, saat ini mendapatkan tatapan tajam dari balik helm fullface itu, "Ok, tunggu sebentar."


Niko seperti anak kecil yang menurut. Pemuda itu berjalan menghampiri Alex. Tidak peduli dengan rasa penasaran teman-teman yang lain. Tujuannya hanyalah Alex yang selalu menjadi pemenang di setiap balapan. Tanpa mengatakan apapun. Niko memindahkan kubus itu ke tangan kiri si anak jalanan.


Sontak saja, Alex mengerjapkan mata. Tatapan matanya sinis, tetapi tidak mau berdebat hingga tatapan matanya tertuju pada kubus yang ada di tangan kirinya. Kubus itu adalah simbol dari perusahaan sang kakek. Otak yang selalu enggan berpikir berat. Seketika tersentak untuk kembali sadar.


Wajah dingin tanpa senyuman mengubah suasana menjadi tegang. Anak-anak terlihat menjaga jarak dari Alex, sedangkan pemuda itu mengambil helmnya, lalu menyalakan mesin motornya. Ntah apa yang merasuki. Niko saja tertegun dengan sikap tak biasa dari si anak jalanan.

__ADS_1


Kini ketiga motor berdiri sejajar di garis star. Tidak ada pertanyaan ataupun penjelasan akan syarat dari taruhan balapan malam ini. Apapun yang dipikirkan ketiga orang itu, para anak muda lainnya hanya bersorak gembira karena akan ada pertunjukan malam ini.


Niko sudah berdiri di depan ketiga motor dengan membawa selembar kain putih, "Okay, semua Ready?"


Apakah ketiganya memiliki telepati? Kenapa semua serempak hanya mengacungkan jempol tanda ready? Benar-benar, misterius dan mendebarkan. Apalagi suara anak lain yang menyemangati Alex agar memenangkan balapan malam ini seperti malam biasanya.


"Satu ....,"


"Dua ....,"


"Tiga ....,"


Niko melemparkan kain putihnya hingga melambung ke angkasa seraya berteriak, "Go!"


Suara deru motor terdengar langsung melesat, tetapi aneh. Ketika pembalap pertama dan Alex sudah melaju dengan kecepatan yang sama. Justru motor terakhir mematikan mesin motornya, lalu bersedekap menatap kedepan.


"Apa dia itu masih waras? Alex selalu menang balapan. Kenapa masih diem aja. Apa gak sayang motor mewahnya itu, ya? Kalau aku sih sayang."


"Yeay, itu kan, Loe. Dia mah gak, noh lihat aja motornya aja kinclong kaya baru keluar dari pabrik."


Pertanyaan yang menjadi perbincangan sesuka hati terbengkalai, hingga lima menit berlalu. Pembalap ketiga menyalakan mesin motornya kembali, lalu tanpa menunggu menginjak gas hingga motor itu melesat lebih cepat dari kecepatan yang dilakukan Alex tadi.


Suara detakan jantung bersahut-sahutan. Tidak ada mulut yang bisa bergosip lagi. Semua shock dengan apa yang baru saja mereka lihat. Siapapun pembalap itu. Sudah pasti memiliki nyawa tambahan. Sesuai prediksinya. Dimana pembalap pertama dan Alex masih berlomba dengan saling salip menyalip.


Titik yang tergambar jelas dari kecanggihan virtual di dalam kacamata khusus, membuat pembalap ketiga tersenyum evil. Melihat kecepatan yang masih standar. Dia menambah daya agar bisa menyusul kedua pembalap yang sudah mencapai persimpangan pertama.


Balapan malam itu seperti hembusan angin yang saling berlomba-lomba menyentuh peraduan. Alex yang berusaha menyeimbangkan bahkan ingin mengungguli pembalap pertama. Setelah berusaha beberapa waktu. Akhirnya bisa selangkah lebih maju dan meninggalkan lawannya di belakang.

__ADS_1


Pemuda itu berpikir sudah menang, tapi berselang dua menit. Sebuah cahaya motor datang dari arah belakang. Dari kaca spion terlihat jelas, pembalap yang bersiap menyalipnya itu memiliki teknik yang berbeda. Cara mengendalikan angin yang berhembus seperti teman masa kecil.


Benar saja. Meski berusaha mempertahankan posisinya. Pembalap yang dengan mudah menerobos teknik blocking area, nyatanya lolos dalam satu gerakan saja. Sontak saja, umpatan di dalam hati tak tertahan.


Garis start yang digunakan sebagai garis finish juga terdengar suara riuh menyambut pemenang balapan. Awalnya begitu meriah suara teriakan, tetapi ketika yang menampakkan diri motor terakhir dari ketiga motor pembalap. Semua anak tercengang tak mampu percaya.


Motor hitam dengan si pembalap terakhir yang masih sempat membuat blokade area berputar beberapa kali sebelum berhenti di garis finish. Tepat disaat motornya berhenti, motor Alex disusul motor pembalap pertama mencapai tempat perkumpulan.


Alex melepaskan helmnya, lalu turun dari motor. Tatapan matanya terus tertuju pada pembalap terakhir. Jelas sekali ada rasa penasaran, namun tiba-tiba Niko menghentikan langkahnya. "Bro, tenang. Menang dan kalah sudah biasa."


"Minggir!" Usir Alex menatap Niko serius, sayangnya pemuda itu malah merentangkan kedua tangannya.


Di saat Niko sibuk menghentikan Alex. Pembalap ketika kembali menyalakan motornya, lalu melaju meninggalkan tempat balapan bersama pembalap pertama. Melihat itu, Alex berlari dan tanpa peduli apapun lagi. Motornya melaju untuk menyusul penantang malam ini.


Balapan kembali terjadi, tetapi sayang. Saat ini posisinya terlalu jauh karena kedua motor sport hitam bekerjasama untuk melakukan pisah jalan. Sontak saja Alex menghentikan motornya di tengah jalan, pemuda itu berteriak sekuat tenaga.


Dua puluh menit kemudian. Suara nada dering terdengar dari saku jaketnya. Rasa enggan untuk melihat siapa yang mengirimkan kabar. Apalagi jika ada balapan. Pasti mood kembali hancur. Akan tetapi, ketika pesan masuk itu terbuka. Matanya langsung terbelalak.


Buru-buru diambilnya kubus yang masih disimpan. Setelah memeriksa, ada sesuatu yang menonjol. Alex menekan satu sisi kubus, membuat kubus itu terbuka seperti lapisan yang terpisahkan. Ternyata di dalam kubus ada sebuah card memori.


"Apa maksud dari pesan dan memori card, ini?" tanyanya pada diri sendiri kebingungan. Boleh saja pintar dalam pelajaran, tapi bukan berarti petunjuk yang didapat setengah-setengah. "Pesan masuk lagi. Coba ku baca."


[Your time is only 24 hours. Give back to me this card memory with your job's. Good Luck. Alex Han Yuan.]


(Waktumu hanya 24 jam. Kembalikan padaku kartu memori ini dengan pekerjaanmu. Semoga beruntung. Alex Hanyuan]


"Hah! Apa ini, ada kaitannya dengan kasus di kampus? Jika iya, pasti gadis itu ikut bertanggung jawab. Rupanya mau main-main denganku, ya."

__ADS_1


__ADS_2