
"Apa ini artinya, Kamu tahu siapa dia?" tanya Justin dan Dominic serempak.
Queen bangun dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruang meja makan. Dominic, dan Justin saling pandang, tapi Vans masih menahan diri untuk melihat permainan sang istri. Lagipula, terkadang lebih baik bersikap tidak tahu apapun. Polos itu sangat baik agar terhindar dari hujan pertanyaan.
"Kalian lakukan saja seperti yang Queen perintahkan, dan soal HP. Ambil saja ditempat biasa, pasti istriku sudah memesankan khusus untukmu. Justin, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Jika di saat menjalankan misi, kamu merasa membutuhkan pencerahan. Jangan sungkan hubungi aku, ok. Selamat malam, dan jangan lupa bereskan kekacauan ini."
Kedua duke menghela nafas panjang. Siapa sangka, kini harus mendengarkan dua orang sekaligus. Jangan berharap Vans akan menyelamatkan mereka. Selama bertahun-tahun, pria itu hanya akan mengingatkan untuk setiap perintah Asfa ditaati. Jika tidak, ia sendiri yang akan memberikan hukuman. Satu hal yang mereka syukuri, suami queen bisa mampu melindungi seorang pemimpin mafia dingin.
Malam masih belum berlalu, beberapa saat setelah memberikan perintahnya. Asfa memasuki ruangan rahasia yang tersembunyi di dalam kamarnya sendiri. Wanita itu menatap beberapa foto yang sengaja ia simpan sebagai kenang-kenangan. Di saat menikmati sisa kenangan yang tersedia, tiba-tiba ada tangan melingkar ke perutnya.
"Maaf, Periku. Papa harus jatuh terluka karena rahasia kita. Aku tidak bermaksud...,"
"Calm down, takdir tidak bisa dirubah. Apa yang kita sembunyikan pasti akan terbongkar. Hanya saja, waktunya bisa cepat atau lambat. Aku tidak akan menyalahkanmu. Semua ini hanya tentang garis takdir dan waktu. Terima kasih telah menjadi suami, teman, sahabat, kakak, dan sekaligus musuhku."
__ADS_1
Asfa menyandarkan tubuhnya ke tubuh Vans, posisi keduanya begitu dekat tanpa jarak. Kebersamaan yang tidak pernah terlihat di luar sana. Hubungan pernikahan yang mengajarkan arti ikatan hati. Keduanya saling melengkapi dan tidak bisa diragukan lagi. Di sini ada kebahagiaan sederhana, sedangkan di tempat lain hanya ada kekacauan.
Banyak barang yang sudah tidak berbentuk berserakan di lantai. Namun, bukan pecahan barang yang menarik perhatian. Justru seseorang terkapar di lantai dengan warna merah yang berceceran dan tidak sadarkan diri. Sementara di atas ranjang, seorang pria dengan pakaian basah terlelap terdengar mendengkur begitu keras. Pria yang baru saja tenang setelah meluapkan seluruh amarahnya.
Suasana terlalu senyap, jangankan berteriak meminta bantuan. Hatinya saja tidak sanggup lagi untuk bertahan. Apakah ia akan terselamatkan atau harus menarik nafas terakhir tanpa melakukan perlawanan. Semua yang ia terima sudah cukup menghanguskan kesabaran sebagai seorang istri. Luka fisik yang ia Terima, tak sesakit luka di hatinya.
Tuhan, jika esok aku masih bernafas. Aku berjanji, bahwa hidupku hanya untuk membalaskan rasa sakit di setiap bekas luka fisik ku dan penghinaan yang aku terima malam ini.~batinnya tak mampu lagi menahan rasa sakit di kepalanya.
Harapan orang di sisa kesadarannya itu menyayat hati sang pemilik raga. Selama ini, kehidupan tidak adil padanya. Hanya karena satu pilihan salah dalam hidup, seorang wanita harus menerima kekerasan dalam rumah tangga. Jangankan dianggap sebagai istri. Ia hanya dianggap sebagai selembar kertas pencetak uang. Para pelayan saja masih memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.
Tubuh pucat yang dipenuhi warna darah ada di pangkuan seorang gadis dengan lelehan air mata, tapi di saat tatapan mata teralihkan. Terlihat seorang pria baru saja sadar dengan memegang kepalanya, "Kenapa brisik sekali, hah! Aku masih ngantuk...,"
"PAPA!" bentak gadis itu menahan tubuh mamanya yang sudah tidak bernyawa.
__ADS_1
Kesadarannya hanya setengah, pria itu tidak bisa mencerna situasi yang terjadi saat ini. Namun, disaat melihat tubuh sang istri sudah lemah tak berdaya. Pria itu langsung menghamburkan diri mengambil alih tubuh wanitanya. Para pelayan melongo melihat tingkah majikannya yang terlalu banyak drama. Jujur saja mereka tahu pasti, jika nyonya sampai meninggalkan. Maka semua itu, pasti ulah pria bangka di depan mereka.
Drama berlangsung cukup lama, mereka lupa untuk membawa wanita berdarah itu ke rumah sakit dan justru sibuk tenggelam dalam tipu daya pengalihan fakta. Permohonan maaf dan mengatakan semua hanya kecelakaan yang tidak disengaja. Sungguh, pria bangka yang licik tak berperikemanusiaan. Pada akhirnya, nyawa nyonya besar tidak bisa diselamatkan.
"Non, minumlah."
Seorang pelayan mengulurkan segelas air putih, tapi langsung ditepis dan untung saja gelas itu dipegang erat. Jika tidak, sudah pasti menjadi kepingan kaca di lantai. Suasana masih mencekam, kehidupan yang berat akan mulai menghantui. Tatapan mata gadis itu menghitam dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.
Hari naas itu, mengubah hati seorang gadis menjadi lebih keras. Kini tidak ada lagi tempat untuk berbagi keluh kesah, hidupnya hanya ada dirinya seorang. Tiba-tiba saja banyak sekali pikiran yang nenyiksa batinnya. Pikiran buruk melintas. Selama beberapa hari hanya mengurung di dalam kamar, tapi tidak mengubah apapun. Garis takdir mengatakan, ia harus kehilangan sang mama tercinta.
"Jika di dunia ini tidak ada yang menyayangiku lagi, maka lebih baik aku mati saja."
Tanpa pikir panjang, gadis itu menyambar obat tidur yang ada di laci. Kemudian menuangkan semua sisa obat, tanpa menunda ia menelan semuanya. Segelas air menjadi akhir dari jalan pintas yang membisikkan untuk mengakhiri segalanya dengan bunuh dir!. Tindakannya begitu nekat, hingga seseorang datang membuka pintu kamar. Hal terakhir yang ia ingat, hanya satu suara memanggil namanya.
__ADS_1
"SAARAAAH!"