Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 65: RISWAN - PRITA


__ADS_3

Riswan menarik nafas dalam, ia baru menyadari sesuatu. Sudah pasti, semua yang dirinya rencanakan berakhir gagal total. Jika satu tindakan saja berakhir tidak baik. Lalu, bagaimana ia akan menyelesaikan misi yang kini menjadi ujung mautnya? Serba salah.


"Aku harus bertemu Max, tapi gimana dengan Sarah? Pria tua itu saja susah dihubungi," Riswan berjalan mondar-mandir di depan ruangan ICU, dan disaat melihat seorang suster yang datang dari arah lorong kiri. Tiba-tiba, sebuah ide kepepet muncul, lalu melambaikan tangan pada wanita yang berusia mungkin tiga tahun di atasnya, "Suster, boleh saya minta tolong?"


Si suster berjalan menghampiri Riswan, "Mau minta tolong apa, Dek?"


"Jadi gini, Sus. Saya mau jemput papa dari pasien yang ada di ruangan ICU, tapi masalahnya. Nanti tidak ada yang jagain temen saya. Boleh titip pasien?" tanya Riswan dengan alibinya, karena ia tak mungkin berkata jujur, dan untung saja suster itu mau membantu.


Pemuda itu meninggalkan rumah sakit dan tanpa menunda waktu lebih lama. Ia langsung mengendarai motor kesayangannya menyusuri jalan raya yang cukup ramai. Semua pikirannya menjadi lebih rumit. Satu sisi ada Dela si gadis rambut sebahu yang menghilang ntah kemana bersama bibi dari kediaman Sarah, sedangkan di sisi lain Max juga tidak mau mengangkat panggilannya.


Perjalanan harus dilalui dengan kesabaran karena situasi jalanan yang macet. Riswan harus mencari jalan alternatif agar segera sampai di tempat kost Max. Dia pikir teman seperjuangannya itu bisa diandalkan. Ternyata salah besar. Akan tetapi , bukan itu yang mengganggu pikirannya. Orang-orang di dalam kehidupannya bukanlah orang sembarangan. Bisa jadi karena salah keputusan, membuat nyawa melayang.


Motor sport merah itu melewati gang sempit sebagai jalan pintas. Setelah perjalanan selama dua puluh menit. Akhirnya, Riswan mulai mengurangi kecepatan dan berhenti di depan sebuah kos yang letaknya paling pojok di sebuah deretan kos rumah mini. Pemuda itu langsung turun, lalu berlari kecil menuju pintu rumah di depan sana. Helm pun masih dipakai, tapi di saat jarak kurang dari satu meter. Langkahnya terhenti dengan tatapan mata membulat sempurna.


Di lantai putih ada jejak kaki berdarah. Ntah kenapa, perasaannya mengatakan ada hal buruk yang sudah terjadi. Sesaat, ia menoleh kesana kemari untuk memastikan keadaan disekitarnya. Sangat sepi. Di jam makan siang, berarti para penghuni kos lain masih belum ada yang kembali ke kediaman masing-masing. Tak ingin hanya berspekulasi. Pemuda itu berjalan perlahan sembari menghindari jejak di lantai.


Tangannya tidak mengenakan sarung tangan. Jadi, ia menggunakan jaket untuk membuka pintu. Tepat disaat pintu terbuka. Pemandangan yang begitu tragis terpampang jelas di depan mata. Tubuh dengan lumuran darah yang tergeletak di lantai dalam posisi telentang. Dari jarak dua meter saja, bau anyir sudah tercium. Kini, Riswan hanya bisa mengumpat di dalam hati atas kebodohan Max.

__ADS_1


Setelah melihat akhir dari seorang Max. Riswan memilih untuk pergi dari kos itu. Tentu saja setelah memeriksa beberapa barang, karena ia tahu kebiasaan temannya yang menyimpan salinan rekaman setiap kali diberikan pekerjaan. Akan tetapi, kali ini tidak ada salinan memori. Mungkin saja ada, tapi sudah diambil seseorang yang melakukan pembunuhan.


Dilema dan rasa frustasi yang dialami Riswan. Justru berbanding terbalik dengan perasaan Prita. Dimana gadis itu mulai menata hidupnya kembali dengan mengikuti kompetisi saham yang beberapa waktu lalu disiarkan dari salah satu radio. Map biru yang dipeluk erat dengan rasa tidak sabar menunggu wawancara untuk pertama kalinya. Sementara, peserta lain terlihat banyak yang sudah berpengalaman.


Pintu ruangan tempat wawancara terbuka dengan peserta keluar, dan seorang pria berjas memegang absen dari para kandidat kompetisi, "Nona Prita Amara, silahkan masuk!"


"Saya, Pak," Ucap Prita, lalu berdiri, kemudian berjalan mengikuti pria berjas masuk ke dalam ruangan interview.


Ruangan yang cukup luas dengan sebuah meja yang dikelilingi lima kursi. Ternyata ada dua wanita dan tiga pria yang menjadi juri. Akan tetapi, kedua wanita di dalam menutupi wajah dengan mengenakan topeng yang unik. Ada rasa penasaran, bagaimana wajah kedua wanita itu. Tanpa sadar, Prita justru melamun di depan para dewan juri.


"Duke, sepertinya peserta kali ini lupa cara berbicara," ucap sang juri wanita yang bergaun pink pastel bergaya belahan dada tinggi, "Nona muda, apa kamu hanya ingin diam? Ayo mulai persentase mu!"


"Ketika apa yang kamu siapkan menjadi hancur. Maka, buang saja! Relax, tarik nafas, lalu hembuskan. Mulailah persentase mu dengan kepercayaan, bukan dengan keraguan."


Prita mengikuti arahan dari wanita bertopeng yang kedua. Sejenak menarik nafas, lalu menenangkan pikiran, "Selamat siang, para dewan juri. Perkenalkan nama saya Prita Amara. Kesibukan saya adalah mahasiswi di Universitas Regal Academy. Visi saya mengikuti kompetisi untuk mengembangkan jiwa bisnis sebagai generasi muda dan misi saya adalah mengembangkan usaha kakakku. Sekian, terima kasih."


"Good job, girl's," Wanita bertopeng kedua menutup daftar yang ada di depannya, lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, "Bunda, untuk peserta kali ini. Aku serahkan penilaian pada kalian. Good luck, Prita Amara."

__ADS_1


Suara yang familiar wanita bertopeng kedua, membuat pikiran Prita berkelana. Namun, jika bertanya yang tidak seharusnya. Ia tidak mau kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup hilang begitu saja. Jadi lebih baik menahan diri dan membiarkan para dewan juri memberi penilaian. Setelah menunggu selama dua menit. Wanita bertopeng pertama menoleh ke arah peserta.


"Persentase mu kami anggap gagal, tapi setelah melihat sikap putri kami. Maka kami memberikan satu kesempatan. Silahkan urus pendaftaran dengan manager hotel. Satu lagi, untuk next. Jangan terulang lagi seperti tadi," Ujar wanita bertopeng pertama, membuat Prita tersenyum dengan rasa syukur karena bisa lolos.


Tanpa gadis itu sadari. Orang yang membuatnya bisa masuk adalah musuh di dalam kampus. Yah, para dewan juri adalah keluarga Phoenix. Kompetisi perebutan saham merupakan periode kedua dari kerjasama yang dimulai oleh Queen sendiri. Hanya saja, keluarga itu menggunakan sistem bagi tugas. Jadi, di setiap tahap penjurian akan berbeda dewan jurinya.


Prita dipersilahkan keluar dari ruangan interview, dan itu membuat Rose melepaskan topengnya, "Bunda, kenapa ada Prita? Aku tidak menyangka harus melihat sisi lain gadis itu. Setahuku, dia memiliki usaha cafe yang hits. Jadi kemungkinan kecil mengalami kekurangan uang."


"Rose, kehidupan itu selalu berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kita bisa langsung dibawah dalam waktu semalam, bahkan dalam waktu sekejap mata. Bukankah mommy selalu bilang. Jangan menilai orang dari status sosial, kasta, gender, dan usia. Jadilah pribadi yang humble untuk semua orang. Meski Queen wanita dingin, tapi mommy mu tidak jijik untuk menggendong anak jalanan. Jadi selalu jadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu."


Rose mengangguk paham, lalu memeluk Bunda Rania. Kegiatan masih berlanjut, sedangkan Prita di luar mulai mengurus pendaftaran yang harus ia lakukan saat itu juga. Gadis itu bersemangat dengan jalan kehidupan yang memberikan sinar harapan baru.


...----------------...


...****************...


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



...****************...


__ADS_2