
Kini tubuh Rose dibaringkan perlahan ke atas brankar dengan sangat hati-hati. Terutama saat meletakkan kepala gadis itu, Asfa menyambar jas putih yang tersampir di kursi kerjanya. Kemudian berdiri di depan papan virtual dengan ukuran tiga meter kali satu setengah meter. Layar yang membentang di dinding itu siap menampilkan apapun yang ingin ia lihat. Sementara Vans memasang tabung kaca untuk menutupi brankar Rose.
"Done." lapor Vans.
Laporan Vans, membuat Asfa memulai melakukan pemindaian scan tubuh Rose. Tabung kaca yang menutupi tubuh putrinya mengeluarkan sinar terang setengah lingkaran yang bergerak dari kepala menuju ke kaki. Seketika logaritma deteksi masalah penyakit tubuh sang putri bisa terdeteksi secara keseluruhan. Namun, setelah beberapa detik. Tidak ada hasil yang perlu dicemaskan. Helaan nafas lega jelas terdengar.
"Ka, catat semua laporan kesehatan Rose! Aku akan ambilkan obat untuk putriku." Ucap Asfa berpindah tempat menuju brankas besi yang ada di sudut ruangan.
Keduanya sibuk bekerja sama untuk memberikan perawatan terbaik bagi putri mereka. Sebuah serum disuntikkan ke selang infus sang putri. Malam berlalu begitu cepat. Sinar mentari baru memberikan harapan baru. Vans terbangun ketika sebuah usapan tangan terasa menyentuh kepalanya.
"Morning, Papa." sapa Rose dengan senyuman hangat.
"Morning too, Princess. How your feeling now?" Vans membalas senyuman putrinya dengan sapaan manis, lalu memberikan kecupan di kening Rose.
"Fine, Papa. But, what happen to me?" tanya balik Rose dengan tatapan ke arah selang di tangannya.
__ADS_1
Jujur saja seingatnya. Semalem hanya menangis, kemudian tidur karena rasa lelah yang mendera. Ada sesuatu yang ingin dirinya ingat, tetapi apa? Seperti beberapa potong memori di dalam kepala hilang begitu saja. Jika berusaha mengingat. Justru bintang mulai berputar di atas kepala.
"Morning, Rose, Honey." Asfa masuk tanpa mengetuk pintu dengan membawa nampan berisi sarapan pagi, "Ayo, kita sarapan bersama."
"Periku, kamu bangun jam berapa?" tanya Vans baru sadar wanitanya tidak ada disisinya.
Asfa tersenyum tipis, "Sejak satu jam lalu. Princess sarapan mu, mau mommy suapi?"
"Pa, boleh suapi kami bersama?" Rose meminta dengan puppy eyes-nya, membuat Vans terkekeh kecil.
Kebersamaan ketiganya sangatlah harmonis. Suapan demi suapan diiringi canda tawa dengan pembahasan random. Siapapun yang melihat keluarga itu, pasti bisa melihat kebahagiaan sederhana yang ketiganya ciptakan. Siapa yang akan berkata jika gadis bermata biru bukan anak dari pria yang tengah memberikan sesuap makanan? Tidak ada. Kedekatan dan cinta kasih mereka adalah hubungan hati.
Hubungan hati terbentuk tanpa ada syarat. Ketika dua orang bertemu berbagi cinta kasih dengan ketulusan tanpa berharap pamrihnya. Hubungan itu mengalir seperti air melewati setiap rintangan dan hingga akhirnya menuju samudra luas. Begitulah hubungan antara Rose dan Vans. Asfa tersenyum bahagia dengan rasa syukur karena sang putri mendapatkan seorang papa yang luar biasa.
"Okay sarapan sudah habis. Rose hari ini kamu libur kuliah. No complain!" Ucap Vans meletakkan nampan di atas nakas.
__ADS_1
Rose menatap sang mommy berharap bisa mendapatkan bantuan agar diizinkan tetap berangkat kuliah. Sayang sekali mommynya justru menggedik kan bahu. Jika seperti itu, pupus sudah harapan meminta persetujuan.
"Kenapa kalian berdua diam?" tanya Vans menatap kedua wanitanya secara bergantian.
"Pa, please izinkan....,"
"Rose!" panggil Asfa untuk mengingatkan sang putri.
"Princess, Papa tidak masalah dengan semua keinginanmu, tapi tidak dengan hari ini." Vans menghampiri Rose, lalu menangkup wajah cantik nan manis gadisnya dengan tatapan sayang. "Mommy, dan Papa tidak mau orang lain melihat sisi lemahmu. Lihat wajahmu sangat pucat, jangan berpikir masalah apapun untuk hari ini."
Perkataan Vans hanya bisa didengarkan. Anggukan kepala Rose, membuat pria itu menghadiahkan sebuah kecupan hangat di puncak kepalanya. Begitu juga dengan sang mommy yang memberikan pelukan hangat untuk menyalurkan rasa cinta seorang ibu. Ketiganya menikmati pelukan teletubbies. Kebahagiaan dan kedamaian di dalam ruangan perawatan. Berbanding terbalik dengan raut wajah angkuh dan bosan beberapa orang.
Tatapan mata tertuju pada kardus yang berisi beberapa botol cairan kimia. Rasa bosan menunggu, membuat mereka berjalan mondar-mandir di sebuah gang kecil yang kumuh.
"Haish, sampe kapan kita nunggu? Bisa jamuran ini."
__ADS_1