
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Prita terdiam di tempat dengan tubuh membeku.
Amara melemparkan pisau yang ia genggam sembarangan arah. Seketika terlihat perubahan. Wanita itu menatap ke sana kemari seperti orang yang ketakutan tengah diawasi. Sontak saja, Prita berlari memeluk kakaknya seraya memberikan usapan lembut di kepala sang kakak.
"Tenang, Ka. Aku ada disini. Ayo, kita ke kamar saja," Prita mengajak Amara meninggalkan ruang tamu dengan langkah perlahan, rasa takut kakaknya memperburuk keadaan. "Ka, tutup mata dan hitung bintang!"
Amara menurut, ia menutup mata. Kemudian membayangkan langit malam, dan mulai menghitung bintang yang muncul bersinar kelap-kelip. Sementara Prita berusaha menyeimbangkan diri agar bisa memapah kakaknya ke kamar atas.
Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya Amara bisa terlelap dengan bantuan obat tidur, lalu perlahan Prita turun dari ranjang seraya melepaskan genggaman tangan sang kakak. Sejenak ia menatap wajah cantik dengan penampilan yang acak-acakan. Ada rasa takut yang menyergap. Penyakit kakaknya kambuh lagi. Bagaimana kehidupan yang telah berlalu pasti akan kembali lagi.
"Kakak kenapa? Aku takut dengan semua ini. Ya Tuhan, tolong kirimkan malaikat agar bisa membantuku." gumamnya dengan tatapan sendu.
Prita berjalan meninggalkan kamar kakaknya, lalu kembali ke ruang tamu. Dimana di bawah sana masih ada yang harus ia bereskan. Kekacauan yang Amara buat, tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Darah berceceran, perlahan gadis itu mengamati setiap jengkal disekitar pria yang terkapar tak berdaya.
__ADS_1
Vas di sisi kiri tangga pecah, jejak tanah dari arah jendela sisi kiri. Satu pisau yang digunakan sang kakak, tubuh tengkurap dengan menghadap ke atas tangga. Bukan hanya itu saja, karena ada satu telepon genggam jatuh tak jauh dari korban. Setelah melihat semuanya serta membayangkan apa yang telah terjadi. Prita mengambil sarung tangan dari salah satu laci bufet.
Gadis itu melakukan penyelidikan seorang diri. Aroma anyir yang menguar tak membuatnya merasakan mual. Justru dengan cekatan ia membersihkan kekacauan seorang diri. Pria yang terkapar sudah tak lagi bernyawa dan itu berarti. Semua akan semakin sulit, tapi ada keuntungan yang bisa diambil.
Satu jam berlalu. Prita merebahkan tubuh lelahnya ke atas ranjang. Tatapan mata kosong menatap langit kamarnya, bahkan suara keruyuk dari perut tak mengusik keheningan gadis itu. Rasa lapar yang meronta semakin berdemo, hanya saja tetap diabaikan.
"Apakah aku harus mengirim, Ka Mara ke rumah sakit? Setidaknya bisa ditangani dokter yang ahli, tapi aku takut hidup seorang diri," Prita memejamkan mata dengan helaan nafas berat, hidupnya semakin rumit.
Amara adalah wanita dengan kepribadian ganda. Sikapnya yang bisa mengecoh banyak orang membuat tak banyak orang menyadari sisi lain wanita itu. Tentu saja selain Prita yang menjadi satu-satunya keluarga. Apapun yang terjadi hari ini, hanya kedua penghuni rumah yang tahu. Jangan bertanya tentang cctv karena rumah yang mereka tempati tidak dipasang kamera pengawas.
Waktu berlalu dengan kesibukan dunia. Ada rasa takut yang menghantui jiwa. Ada rasa gelisah akan rahasia yang tersembunyi. Ada keberanian menatap masa depan. Semua orang memiliki pilihan dalam hidup mereka. Begitu juga dengan Prita. Gadis itu memutuskan untuk melakukan pengobatan bagi kakaknya setelah berpikir selama delapan jam tanpa makan ataupun minum.
"Selamat sore, Pusat rehabilitasi...," Prita menjelaskan titik poin permasalahan, tapi bukan tentang kebenaran yang bisa menjebloskan sang kakak ke dalam penjara.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya tunggu kedatangan kalian, tapi pastikan berpakaian biasa tanpa menggunakan seragam rumah sakit. Saya sendiri akan siapkan semua formalitas yang diperlukan," kata Prita mengakhiri percakapan teleponnya.
Kepastian tak bisa lagi ditunda. Setelah menghubungi pihak rumah sakit dan mendapatkan kesepakatan, Prita memilih membersihkan diri. Kemudian menyiapkan makanan untuk sang kakak. Hanya dalam hitungan satu jam kurang. Semua pekerjaan terselesaikan.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki berjalan mendekati kamar Amara dan sebuah nampan berisi sepiring makanan menu lengkap siap diantarkan. Pintu kamar yang setengah terbuka hanya memerlukan dorongan pelan, lalu seluruh ruangan terlihat di depan mata.
"Ka, ayo makan." ajak Prita melembutkan suaranya.
__ADS_1
Nampan sengaja ia letakkan di atas meja depan sofa. Di saat itulah sang gadis menyadari ada seseorang yang tengah mengawasinya. Tatapan yang ntah berasal dari mana, tapi feeling itu benar-benar kuat. Tanpa ingin menambah ketegangan, Prita mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Apa maumu?" tanya Prita berusaha tetap tenang.