
Pasien itu kembali memegang kepalanya, "Namaku Abhi. Kenapa sakit sekali kepalaku? Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Ada apa denganku? Kenapa begitu banyak peralatan medis yang menempel di tubuhku?"
Sesi tanya jawab itu terhenti karena kondisi pasien yang tidak bisa dipaksakan. Di saat bersamaan, pintu ruangan itu terbuka. Tatapan mata tenang seorang wanita menelusuri seluruh wajah yang tegang. Ia bisa melihat, bagaimana Abhi sedang berusaha untuk mengingat masa lalunya. Wanita itu adalah Asfa dan salah satu dokter dengan wajah tampan berjalan mendekati sang queen.
Sebuah kecupan yang mendarat di kening diiringi senyuman manis. Pemandangan itu, tak luput dari perhatian Abhi. Pria itu hanya merasa tak asing dengan wajah Asfa, tapi tidak bisa mengingat siapa wanita itu, sedangkan Asfa sendiri masih belum tahu keadaan sang mantan suaminya. Yah, karena kini perawatan ditangani Vans, bukan dirinya lagi.
"Bagaimana keadaannya? Apa semua berjalan baik," Asfa menatap Vans yang kini memeluk tubuhnya, "Kenapa wajahmu begitu murung? Tidak baik tegang seperti ini. Calm down, Sayang."
Vans menghela nafas, lalu menggelengkan kepala, "Dia mengalami gangguan ingatan. Dimana beberapa ingatan terlihat jelas, tapi tidak bisa mengingat dengan baik. Setelah melakukan sesi tanya jawab beberapa kali. Tetap saja, Abhi menyebutkan dirinya masih berada di tahun beberapa waktu yang sudah berlalu. Dimana kalian belum mengenal satu sama lain."
Saat ini, Vans berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya tanpa menutupi apapun pada sang istri. Kenyataan itu bisa dianggap sebuah kebaikan atau keberuntungan atau mungkin juga sebuah masalah baru. Pada kenyataannya. Saat ini, Abhi tidak bisa mengingat semua peristiwa di dalam kehidupannya. Termasuk mengingat orang-orang yang dulu pernah hadir di dalam hidup pria itu.
Meski begitu, suatu saat nanti. Ketika memori di dalam otak mengalami keterkejutan. Tidak menutup kemungkinan, ingatan Abhi akan kembali. Ntah seberapa banyak waktu yang dibutuhkan. Kebenaran ini, membuat Asfa berpikir ulang tentang putrinya.
Sungguh rasanya sangat berat. Ketika ia ingin berkata jujur kepada sang putri, tapi kondisi Abhi juga tidak memungkinkan untuk mengingat putrinya sendiri. Meski selama ini, baik Rose dan Abhi, belum pernah saling bertemu. Namun, bukan berarti, keduanya tidak akan bertemu. Bagaimanapun, darah akan selalu sama. Takdir pun tidak bisa berubah. Meskipun seribu kali doa meminta untuk tidak terjadi.
__ADS_1
Setiap berita baru pasti memiliki sisi dampak baik dan tidak baik. Yah, bukan berarti harus menghindari. Apalagi membiarkan semua itu berlarut-larut. Kondisi Abhi tidak memungkinkan untuk mengingat masa kini ataupun masa lalu. Setelah berpikir sejenak. Akhirnya Asfa memberikan keputusan final. Dimana mantan suaminya akan dipindah ke rumah sakit utama.
Vans mencoba menerima keputusan sang istri karena ia tahu tanggung jawab Abhi ada di pundak sang istri dan keluarganya sendiri. Mengingat masa lalu, dimana pria itu rela membiarkan dirinya menikah dengan Asfa dan menjadi ayah dari Rose. Maka, ia siap memberikan sedikit pengorbanan untuk ketenangan hati istrinya. Satu yang patut di contoh. Dimana pasutri itu selalu bekerja sama dan selalu saling terbuka dengan menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Keputusan Asfa memindahkan Abhi ke rumah sakit utama karena para dokter akan lebih mudah untuk melakukan perawatan dan berusaha untuk memulihkan ingatan pria itu.Hal itu ia lakukan agar semua kembali membaik. Meski dengan itu, berarti mengambil resiko besar untuk masa depan. Satu kepercayaan, dimana ia tidak ingin merenggut kebahagiaan seorang ayah untuk merasakan kasih sayang dari putri kandungnya sendiri.
Keesokan harinya.
Seluruh anggota keluarga Phoenix sudah berkumpul di ruang keluarga dengan penampilan santai, casual dan sederhana. Yah, hari ini, mereka akan melakukan perjalanan menggunakan helikopter masing-masing untuk menuju sebuah dermaga yang memang sudah disiapkan sebuah kapal pesiar.
Banyak sekali kebahagiaan yang terpancar di wajah keluarga itu. Hanya saja, ada satu wajah yang terlihat murung yaitu gadis bermata biru. Selama ini, ia tidak pernah merasa sedih. Apalagi merasa tertekan. **** itu di saat mendapatkan perlakuan bully dari gengs Cantika. Namun, hari ini. Ntah kenapa, seperti sebuah hembusan angin badai yang siap menerjang dalam kebisuan.
Dibalik senyuman setiap anggota keluarga memiliki rasa takut masing-masing. Tidak ada yang merasa bahagia dengan situasi yang saat ini tengah bergulir. Meski terlihat baik diselimuti ketegangan. Asfa berusaha tetap tenang dan tidak ingin membuat tekanan apapun untuk hari ini. Semua rencana untuk party Rose menjadi tujuan utamanya.
"Baiklah. Kita semua akan berangkat sekarang. Pa, bisa ajak Rose dan Prince Chubby serta Justin satu heli, sedangkan Ka Varo dan Rania akan pergi bersama Dominic. Sementara aku dan Ka Vans akan menaiki heli ketiga. Perjalanan kali ini cukup berbeda. Jadi kalian bisa berangkat menuju dermaga dulu," Asfa melirik ke arah Justin, membuat sang duke mengedipkan mata sebagai isyarat semua aman, "Enjoy the day."
__ADS_1
"Nak, apa kamu juga akan berangkat sekarang?" tanya Papa Luxifer beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Asfa.
Vans tahu apa yang akan dilakukan istrinya, karena dia tak ingin ayah mertua curiga. Maka lebih baik mengambil sikap sebagai pasangan yang romantis, "Pa, kita ingin menyelesaikan sesuatu dulu. Jadi, kalian bisa berangkat dulu. Justin sudah menyiapkan semuanya dan tahu jadwal acara kita selama liburan."
"Rose, bawa Prince Chubby ke heli! Kakek akan menyusul," Tuan Luxifer melirik ke arah cucu pertamanya dan gadis bermata biru itu, menurut tanpa ingin melakukan argumen. Kepergian beberapa anggota keluarga, membuat pria paruh baya itu mengusap kepala Asfa, "Papa tahu, ini sulit untukmu. Ingat selalu, dewa langit tidak akan disebut dewa ketika bintang yang menyinari nya jatuh ke bumi."
"I know, Pa. Hati ini masih tetap sama. Don't worry, disini ada Ka Vans yang selalu menjadi tempat ku bersandar. Bukan begitu, suami ku?" Asfa menoleh dengan tatapan mata tenang yang langsung dibalas senyuman cinta oleh suaminya.
Tuan Luxifer ikut bersyukur karena kini putrinya mendapatkan pria yang bisa menyeimbangkan dari segala aspek, "Take care. Papa minta malam nanti, kejujuran kalian menjadi awal yang baru untuk keluarga kita. Selalu ingat, kalian tidak sendirian."
Tuan Luxifer menyusul anggota keluarga yang lain, dan meninggalkan putri serta menantunya. Dimana Asfa bergegas meninggalkan ruang keluarga, lalu pergi menuju ruangan kerja ditemani Vans. Kedua insan itu ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Ntah hasil akhir akan baik atau buruk. Apapun itu, demi kehidupan yang memang harus berdasarkan kepercayaan dan kejujuran.
"Periku, bukankah ini yang kamu cari?" tanya Vans memegang sebuah flashdisk putih, membuat Asfa menoleh ke arah suaminya.
"Coba periksa di laptop," Asfa berjalan menghampiri meja kerja, lalu mengulurkan tangan dimana Vans langsung memberikan flashdisk putih, kemudian keduanya memeriksa bersama-sama apa isinya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Asfa menutup laptop. Apa yang ia butuhkan sudah ada di genggaman tangan, "Ayo, kita berangkat. Tunggu dulu, bukankah Ka Vans semalam saat perjalanan pulang, ingin menceritakan sesuatu tentang seseorang?"
"Kita akan bicarakan itu di heli. Jangan sampai Rose manyun karena kita terlambat," Vans merengkuh pinggang Asfa, lalu keduanya berjalan meninggalkan ruangan kerja.