
"Mommy, siapa dia?"
Rasa penasaran Rose memang wajar. Apalagi setelah melihat tubuh penuh darah yang ada di dalam bagasi mobilnya. Bukan hanya shock, tetapi ada tanda tanya besar yang mengusik pikirannya. Bukan hanya itu, sesaat setelah memperhatikan. Aroma anyir juga tercium dari pakaian sang mommy.
"Mom, apa maksud semua ini?" Rose bertanya lagi, tetapi kali ini lebih memaksakan ingin mendapatkan jawaban pasti.
Kecemasan yang berlebihan di mata putrinya. Hanya menarik seulas senyum tipis yang nampak samar dalam kegelapan malam. Bagaimana menjelaskan hal yang selama ini dijauhi sang putri? Jika dia tidak tepat waktu. Sudah pasti yang berlumuran darah adalah Rose. Bukan pemuda yang ada di dalam bagasi.
"Dia masih hidup, meski keadaannya tidak akan sama lagi. Siapa dia? Kamu akan tahu, setelah sampai Villa. Jadi, ayo masuk dan jangan berdebat lagi dengan mommy." Tegas Asfa, lalu membukakan pintu untuk putrinya yang mau, tak mau menurut.
Keduanya kembali ke dalam mobil. Asfa yang fokus menyetir dan Rose mengalihkan pandangan mata keluar sana. Gadis itu, tidak tahu. Jika saat ini, sang mommy harus menahan luka yang disembunyikan dari balik jaket hitamnya. Aroma anyir bukan berasal dari darah orang lain. Melainkan darah wanita itu sendiri.
Kecepatan yang maksimal, mempersingkat perjalanan mereka. Namun, bukan untuk ke Villa melainkan ke rumah sakit utama yang arah dan tempatnya lebih dekat. Setelah lima belas menit perjalanan. Akhirnya kedua wanita itu turun dari mobil, lalu memanggil dokter untuk mengambil pasien yang entah siapa.
Wajah setengah hancur, lutut yang berlubang dan tidak bisa lebih menjabarkan lagi. Selain tubuh yang bermandikan warna merah yang pekat dengan aroma amis yang menyengat. Melihat kesibukan para dokter mengurus pasien baru.
Perhatian Rose teralihkan, membuat Asfa melipir ke arah lorong lain. Langkah kaki yang tegas dengan wajah tetap tenang. Semua staff yang melihat queen lewat hanya membungkukkan badan menyapa serta memberikan penghormatan.
__ADS_1
Apakah saking kuatnya, hingga tidak nampak ekspresi kesakitan akibat luka tusuk yang cukup dalam di balik jaket hitamnya itu. Tanpa sepatah kata. Asfa masuk ke dalam ruangannya. Lalu melepaskan jaket yang dilemparkan begitu saja. Blouse warna biru langit sudah berubah menjadi warna merah darah.
Semua dilepas, tak lupa mengambil kotak obat yang pasti tersedia di setiap ruangan. Melihat luka yang cukup dalam. Wanita itu tidak ambil pusing, bahkan tidak mengambil bantal untuk menahan suara jeritan yang mungkin akan terdengar menggema.
Seorang queen yang terbiasa luka. Tidak mungkin mengeluarkan suara hanya karena pengobatan yang tidak seberapa. Justru kedua tangan wanita itu dengan cekatan menuangkan obat antiseptik ke kapas, lalu membersihkan darah di perutnya. Kemudian melanjutkan memberikan obat tetes dan tak lupa membalutkan perban agar luka bisa aman.
Lima menit berlalu. Akhirnya selesai sudah pengobatan. Ketika berniat mengembalikan kotak obat. Tatapan matanya bersitegang dengan tatapan mata sang putri. "Kenapa berdiri di depan pintu? Masuklah! Ini juga ruanganmu, Rose."
Apa yang sebenarnya terjadi? Di luar sana, seorang pemuda harus mendapatkan perawatan intensif dan di ruangan sang mommy. Justru mommynya sendiri yang mengobati luka tanpa meminta bantuannya atau orang lain. Padahal ini rumah sakit, bukan pasar. Keseluruhan staff bisa melakukan metode perawatan yang diajarkan di sekolah.
"Mommy, bagaimana bisa terluka?" tanya Rose menghampiri Asfa, raut cemas tak bisa dihindari.
"Rose, calm down." Asfa mengusap lelehan air mata yang jatuh membasahi kedua pipi putih putrinya, "Resiko menjadi seorang pemimpin adalah harus terlihat kuat walau dalam keadaan lemah tak berdaya."
"Mommy, ini tidak adil. Setiap kali, Rose seperti anak kemarin sore yang tidak tahu apapun. Jangankan tentang mafia. Kehidupan, rasa sakit, beban tanggung jawab mommy saja. Aku tidak memahami semua itu, meski hanya seujung kuku. Apakah aku pantas menjadi putrimu?"
Terkadang, ketika seorang manusia yang masih berproses untuk mencari jati diri. Ada titik, dimana merasa tidak pantas bahkan menganggap dirinya hanya beban saja. Namun, selama ini, lingkungan dan cara asuh akan menjadi perbandingan pola pikir setiap anak dalam masa tumbuh kembangnya.
Asfa mengangkat kedua tangannya, lalu merengkuh wajah sang putri. Menatapnya penuh cinta agar gadis itu tenang, "Rose Qiara Salsabila. Tidak seorangpun akan mempertanyakan identitasmu karena kamu putriku. Mommy bersyukur, hidupmu lebih baik dan akan selalu aman."
__ADS_1
"Luka ini, bukan masalah besar. Hmm. Sekarang duduklah, akan ku buatkan minuman hangat untuk kita. Setidaknya itu mengubah mood kita. Iya 'kan?" lanjut Asfa tak ingin lagi mempermasalahkan hal yang tidak bisa diperdebatkan.
Apa yang sudah terjadi. Tidak akan bisa dirubah. Semakin kesini, ia melihat Rose semakin tertekan. Semua itu karena masalah di kampus. Ketegaran dengan kepercayaan diri yang masih belum stabil. Bukan hanya dari sudut pandang seorang ibu. Dari sudut pandang seorang pemimpin. Perubahan secara signifikan mulai menampakan hasilnya.
Alih-alih memberi jawaban agar putrinya puas. Asfa justru mengalihkan fokus gadis itu pada hal lain. Sayangnya, Rose diam tak bergeming seraya menahan kedua tangan mommynya agar tetap diam di depannya. Tatapan gadis itu begitu serius, namun berbalas senyuman manis yang langsung melumerkan seluruh pertahanan.
"Mommy curang." protesnya dengan menghela nafas panjang, seluruh emosi hilang sudah berlari tanpa permisi.
Padahal hanya satu senyuman dari wanita yang melahirkannya. Heran, kenapa hati menurut walau akal menolak. Apakah ada semacam hipotesis untuk mengendalikan perasaan? Tidak semacam itu. Kenyataan hanya tentang pembuktian cinta kasih yang tidak mungkin mendapatkan penolakan.
"Okay, Rose nyerah, tapi Mommy duduk saja dan biarkan putri raja ini melayani ratunya." ujar Rose, lalu membimbing mommynya untuk duduk di kursi kebesaran yang selama ini menjadi dunia kerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Kebersamaan ibu dan anak yang semakin menyatukan ikatan batin. Keduanya pasrah dalam. cinta, berjuang demi raja dan bertindak sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menonjol karena saking melengkapi. Asfa yang memiliki jiwa pemimpin dan Rose yang memiliki hati yang lembut.
Malam berlalu begitu cepat. Berganti sinar mentari bersambut kicauan burung yang terbang menari di angkasa raya. Hari ini, sebuah berita menggemparkan seluruh kampus. Berita atas menghilangnya salah satu mahasiswa jurusan sastra Inggris yang merupakan finalis dari pemilihan senar kemarin.
Seperti kobaran api. Berita itu menyebar, bahkan banyak alibi yang membuat simpang siur ketidakbenaran. Termasuk pengaduan salah satu mahasiswa yang menyatakan melihat Pangestu Mahardika terakhir di hari pemilihan senat yang gagal.
"Rose, apa menurutmu, pemuda itu menghilang begitu saja?" tanya seorang mahasiswi yang duduk di sebalah Rose.
Si gadis bernetra biru hanya menggedikkan bahu. Mau bilang apa? Dia saja tidak begitu up to date akan semua peristiwa yang terjadi di Regal Academy. Namun, satu yang di yakini. Pasti ada yang tidak beres.
.
.
.
Jangan lupa mampir ke karya temen ya 🍃
__ADS_1