Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 92: Desa Himalaya


__ADS_3

Tatapan mata tajam menusuk mengintimidasi pemuda yang dengan lancang menemui putrinya. Meski tidak memiliki jiwa, pemuda itu tidak bisa melawan orang yang telah memberikan kasih sayang tanpa diminta. Siapa lagi jika bukan Asfa.


"Queen."


Satu nama yang keluar dari bibirnya terdengar bergetar. Tatapan mata yang langsung menunduk dengan nafas yang memburu pelan. Perubahan emosi pemuda itu sangat drastis, membuat Asfa melepaskan kedua tangannya. Ia tak berniat untuk menakuti sang pemburu bayangan.


Melihat situasi tidak aman. Asfa membawa pemuda itu pergi meninggalkan kampus. Wanita itu berjalan waspada, di setiap lorong berusaha menghindari para mahasiswa yang lewat, bahkan tak seorangpun boleh melihat sang pemburu bayangan. Untung saja, Vans datang tepat waktu dan mengantarkan keluar kampus melalui jalur khusus.


Dimana di sisi utara berbatasan dengan taman kampus. Ada setapak tersembunyi yang jarang orang tahu, kecuali orang-orang pilihan. Jalan itu baru dibangun beberapa bulan yang lalu, maka dari itu istrinya masih tidak tahu. Setelah keluar dari wilayah kampus, ternyata sebuah mobil van sudah menunggu mereka.



Perjalanan kali ini, membawa Asfa ke daerah terpencil dengan penduduk yang minim. Namun, desa itu akan selalu mendukungnya. Apapun yang menjadi masalahnya, semua warga pasti siap membantu dan mengorbankan diri.



Dua jam kemudian. Mobil Van itu memasuki halaman luas dengan kebun semangka kanan dan kiri yang ada di depan rumah tingkat dua. Beberapa warga yang melihat kedatangan Queen bersiul saling sahut-menyahut. Terdengar merdu penuh irama.



"Ka, bawa dia masuk! Aku akan menemui warga dulu." Tegas Asfa, lalu turun dari mobil.



Setiap perintah akan menjadi final decision. Yah, keputusan mutlak tanpa ada yang berani menggugat. Queen Asfa Luxifer. Seorang wanita yang menyebarkan perlindungan dan belas kasih. Tempat yang mereka pijak saat ini dikenal dengan nama Desa Himalaya.

__ADS_1



Kalian tahu, apa itu Himalaya? Himalaya adalah sebuah barisan pegunungan di Asia, yang memisahkan anak Benua India dari Dataran tinggi Tibet. Sama seperti itu, warga dari desa ini merupakan kumpulan dari orang-orang yang tidak sengaja, dan sengaja diselamatkan oleh kelompok Mafia Phoenix.



Secara garis besar. Asfa membangun sebuah desa lengkap dengan infrastruktur layaknya desa lain. Akan tetapi, desa itu menjadi tempat larangan untuk warga asing. Siapapun yang masuk dan keluar dari wilayah teritorial yang memiliki garis biru dari pusat pemantauan.



Mereka semua sudah terdeteksi. Di desa ini, setiap orang mendapatkan pelajaran dari dua aspek kehidupan. Pendidikan dan juga bela diri. Demi mencapai tujuan, Asfa rela mengeluarkan biaya dua puluh persen dari keuntungan perusahaannya sendiri.



Para musuh mengenal Asfa sebagai Queen berdarah dingin. Namun, para pendukung menganggap Asfa sebagai penyelamat. Lihat saja, dalam hitungan lima menit. Semua warga sudah berkumpul memenuhi halaman rumah pemimpin mereka.




"Selamat datang, semua warga tercinta." Ucap Asfa menyambut semua orang tanpa terkecuali, "Hari ini, kita akan menambahkan satu anggota keluarga. Saya harap, kalian mau membantunya untuk berubah menjadi lebih baik lagi."



Hening. Tidak ada kasak kusuk penolakan. Warga hanya saling pandang, ada yang ingin bertanya, tetapi merasa tak pantas. Ada juga yang merasa tidak berani. Asfa tahu, warga masih menghormatinya tanpa diminta. Perubahan akan terjadi secara perlahan, bukan dalam satu kedipan mata.

__ADS_1



"Gerakannya secepat tebasan pedang. Tatapan matanya tembus mematikan. Ucapannya pahit seperti racun berbisa. Wajah rupawan, otak cemerlang. Dialah Sang Pemburu Bayangan."



Deskripsi karakter warga baru yang diutarakan Asfa membekukan suasana. Semua wajah mendadak pucat pasi. Jangan ditanya kenapa. Mereka kenal siapa pemuda itu, tapi kenapa harus dikembalikan lagi? Selama beberapa waktu dipenuhi ketenangan.



Sekarang tidak lagi. Aneh, ketika sorot mata mulai menyorotkan penolakan. Kenapa bibir mereka semua masih tetap terbungkam. "Relax. Dominic akan tinggal bersama kalian. Pulanglah!"


Para warga membubarkan diri dengan langkah kaki lunglai. Rasa takut, tidak aman jelas menjadi masalah mereka saat ini. Meski begitu, mereka tidak mungkin untuk membantah. Apalagi menolak permintaan sang pemimpin. Lagipula, kehidupan kedua yang dipenuhi kebahagiaan, merupakan wujud dari tanggung jawab Queen.


Kepergian warga, membuat Asfa memejamkan mata. Sesaat menikmati hembusan angin yang menyebarkan aroma manis buah. Aroma yang selalu menjadi refresing mind. Sungguh melegakan pikirannya. Perlahan ia mengingat beberapa rangkaian peristiwa masa lalu yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.


Semua seperti rollingan film hitam putih. Satu persatu dijabarkan, hingga target ditemukan. Tiba-tiba ia merasakan ada tangan mungil menarik tangan kanannya. Perlahan membuka kelopak mata menyambut tatapan polos dari seorang gadis kecil yang menggenggam tangannya erat.


"Bibi cantik, boleh minta semangka?" tanya gadis kecil berusia enam tahun terus memandangi Asfa dengan tatapan penuh harap.


Seingatnya, di desa Himalaya tidak ada kecil dengan umur di bawah sepuluh tahun. Lalu, gadis itu datang dari mana? Bagaimana bisa melewati sensor pendeteksi yang tersebar mengelilingi wilayahnya. Namun, untuk curiga dengan gadis seumur itu. Sungguh tidak masuk akal.


"Nak, kamu mau semangka?" tanya Asfa memastikan, membuat gadis itu langsung menunjuk salah satu buah semangka yang letaknya ditengah dan terlihat menonjol.


Biasanya buah semangka berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran beragam, tetapi semangka satu itu, kenapa tidak memiliki garis yang besar. Seperti semangka buatan. Rasanya aneh, melihat hal tidak beres. Asfa menjentikkan jari, membuat beberapa anak buah yang berjaga di depan rumah berlari menghampirinya.

__ADS_1


"Periksa semangka itu!" titahnya menunjuk semangka di depan sana, namun ketika berbalik menoleh ke bawah. Si anak kecil sudah menghilang. "What's?!"


__ADS_2