
Perlahan pintu bagasi dibuka. Benar saja, pemandangan di depan mata seperti yang menjadi isi kepalanya. Bapak penjual es potong telah menjadi korban pembantaian. Tubuh paruh baya itu penuh luka sayatan, tanpa menunggu lama. Asfa mengabari Justin untuk segera datang, sedangkan Elisa diminta untuk tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Rupanya, musuh mulai mendekat, atau hanya kebetulan saja? Aku harus bertemu dengannya. Jika tidak, bisa saja banyak korban yang berjatuhan.~batin Asfa memejamkan mata membayangkan sebuah wajah di dalam kegelapan yang selalu berteriak di sepanjang malamnya.
Sosok makhluk hidup tanpa hati. Dia ditempa hanya untuk melakukan tugas penting. Satu perintah akan menyelesaikan segalanya. Namun, ada sisi lemah dari makhluk itu. Dimana raga kuat, tapi jiwa tidak mengenal kasih sayang. Apalagi cinta kasih. Dialah sang pemburu bayangan.
Seorang pemuda yang ditempa untuk menjadi alat pengendali keadaan. Ketika disandingkan dengan Asfa. Maka dia akan menjadi sisi buruk dari seorang Queen. Meski begitu, hidupnya tidak memiliki identitas sendiri. Selain sebagai sang pemburu bayangan.
Dua puluh menit berlalu. Justin datang bersama anak buahnya. Pria itu tengah berbincang dengan Asfa. Keduanya nampak begitu serius dan karena kasus dadakan. Pekerjaan yang harus dilakukan akhirnya ditunda, sedangkan Elisa diminta untuk duduk di dalam mobil.
"Queen, apa kamu tidak mau mengurung anak itu saja? Kamu tahu, jika ini semakin serius." saran Justin berusaha untuk memberikan peringatan pada Asfa, tetapi wanita itu masih mempertimbangkan langkah selanjutnya. "Queen!"
Senyuman tipis nan dingin tersungging di bibir Asfa seraya menatap mayat yang dimasukkan ke dalam mobil khusus. "Aku akan kesana. Antar Elisa pulang ke mansion. Ingat, meski anak itu sudah dewasa, tapi dia masih berjiwa anak kecil."
__ADS_1
Semobil dengan Elisa? Justin menepuk keningnya sendiri. Jujur saja mendingan disuruh memberantas para pengkhianat. Daripada mengurus wanita dewasa dengan dunia istananya. Asfa menatap tangan kanannya serius, membuat pria itu tidak bisa menolak.
"Seperti perintahmu, Queen. Ambillah!" Justin memberikan kunci mobilnya pada Asfa, sedangkan ia bisa menggunakan taksi. Mana mungkin membiarkan seorang queen berdiri di pinggir jalan hanya untuk menjadi kendaraan. "Aku tidak akan meninggalkan Elisa. Jadi, jangan khawatir."
Asfa mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil yang ada Elisa. Ditatapnya sang putri angkat yang sibuk bermain ponsel. "El, turunlah! Uncle Justin akan mengantarmu ke mansion. Mama akan ke kantor untuk bekerja dulu."
"Elisa, jangan merajuk. Turunlah!" Titah Asfa dibarengi Justin yang membukakan pintu kursi belakang, "Ka, aku titip putriku. Ka Vans akan langsung ku kabari."
"Ok, Queen. Ayo turun Elisa. Aku akan mengajakmu mampir ke tempat kesukaanmu." Ajak Justin seraya mengulurkan tangan kanannya, tetapi wanita yang diajak, justru turun dari pintu satunya lagi. Tidak lupa bibir manyun sepuluh senti itu yang tengah merajuk. "Queen, kabari aku secepatnya, jika terjadi sesuatu."
__ADS_1
Tidak jawaban. Asfa langsung menyalakan mesin mobil begitu Elisa sudah berdiri di sebelah Justin. Kini, ia fokus menyetir menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri sibuk menekan tuts untuk melakukan panggilan video. Beberapa orang tersambung masuk ke panggilan group itu.
"Salam, Queen. Apa tugas kami?"
"Periksa semua wilayah yang menjadi kekuasaan Mafia Phoenix. Pastikan semua aman terkendali, khususnya wilayah bebas yang menjadi area fighting."
"Siap laksanakan."
Panggilan singkat dengan perintah yang jelas. Asfa tak mau ada lagi yang namanya kecolongan. Apalagi setelah melihat musuh sudah mulai mendekat. Dia diam sebentar saja, banyak yang siap menhunuskan peperangan. Tidak peduli dari kalangan bisnis atau Mafia. Kekuasaan tidak untuk orang yang ambisius.
Perjalanan selama satu jam setengah hingga mobil itu memasuki sebuah wilayah perhutanan. Deretan pohon besar menjulang tinggi dengan dedauanan yang lebat, membuat hutan itu sedikit gelap. Namun, Asfa terus menyetir berkelok-kelok menuju markas hutan. Sebuah markas yang tidak di jaga dengan ketat.
Dari jalan utama menuju markas hutan membutuhkan setidaknya lima belas menit. Ketika telinga bisa mendengar suara gemericik air. Maka disanalah, sang pemburu bayangan tinggal. Asfa memarkirkan mobil di tempat biasanya, lalu turun. Kemudian berjalan menyusuri beberapa tumbuhan liar.
Jalan yang licin dengan medan berlumpur, setidaknya wanita itu memakai sepatu khusus untuk segala situasi. Langkahnya terhenti di depan sebuah gubuk jerami dengan pintu terbuka lebar. Sementara di sekeliling hanya terdengar suara kicauan burung dan sesekali suara hewan yang lain.
Ntah apa yang akan dilakukan Asfa. Wanita itu masuk ke dalam gubuk, lalu menutup pintunya, tapi tiba-tiba satu menit kemudian. Pintu itu kembali terbuka dan tidak ada Asfa. Sementara di kampus. Para mahasiswa mulai meninggalkan ruangan kelas untuk istirahat. Namun, tidak dengan Rose. Gadis itu sibuk memeriksa ponsel karena pesan sang bunda. Dimana dia harus memilih peserta perekrutan pebisnis muda.
"Semua berbakat, tapi aku punya ide yang lebih baik. Apakah aku harus bicara dengan Bunda dan Mommy?" tanya Rose pada dirinya sendiri sambil terus menatap layar ponselnya, hingga salah satu teman kelasnya masuk ke kelas dengan nafas ngos-ngosan berlari menghampiri meja dengan wajah pucat. "Ada apa?"
__ADS_1