
"Apa maumu?" tanya Rose to the point setelah Naira selesai bercerita, membuat gadis bermata coklat tersenyum penuh arti.
Nai kembali mengambil sesuatu dari saku jaketnya, tapi bukan ponsel. Melainkan sebuah kertas berwarna merah muda, lalu disodorkan ke Rose, "Pesan cinta dari Riswan untuk Nara. Aku ingin membalasnya, jauh lebih sakit dari yang saudariku rasakan. Apa kamu bisa membantuku?"
Rose membuka kertas itu, lalu membaca catatan yang hanya terdiri dari satu paragraf dengan tiga baris kata cinta penuh rasa manis yang bisa melambungkan harapan tinggi. Apalagi di ujung kertas terdapat tulisan peluk kasih pujaan hati mu. Ntah kenapa, ada rasa yang menusuk di hati gadis bermata biru.
Surat itu seakan memberikan kebenaran di balik kepalsuan. Apakah selama ini, ada yang disembunyikan Nara darinya? Jika iya, kenapa? Sahabatnya itu, tidak sekalipun mengatakan hubungan diantara dia dan Riswan. Jadi, sejak kapan hubungan cinta itu terjalin.
Selama ini, yang dia tahu adalah Riswan berusaha menggodanya, tetapi tidak sekalipun di respon. Hanya saja, memang pemuda satu itu memberikan panggilan khusus dengan memberi julukan Salsa. Meski begitu, tidak sekalipun memberikan respon. Setiap godaan akan selalu diabaikan.
"Bagaimana aku akan percaya. Jika surat ini milik Nara?" Rose bertanya dengan tatapan serius, kertas itu dikembalikan ke tangan Naira. "Jika memang kisah cinta ini nyata. Haruskah aku tetap menegakkan keadilan? Aku bisa berjuang untuk mengungkapkan kasus bunuh diri yang dilakukan Nara sahabat ku."
"Lalu, jika kisah ini nyata. Apa arti perjuangan ku? Nara tahu benar, jika Riswan selalu mengejarku disetiap ada kesempatan. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung, tetapi jalan yang kamu perlihatkan. Terlihat samar," tegas Rose membuat Naira tertegun, ternyata sahabat dari saudaranya tahu benar seperti apa seorang Riswan.
Ntah kenapa, tiba-tiba sikap Naira berubah cemas dengan wajah memucat. Bukan hanya itu saja, peluh yang keluar membasahi kening gadis itu, melihat itu. Rose tersenyum sinis, lalu berjalan mendekati Naira. Kemudian mengangkat tangan kanannya untuk menangkup dagu si gadis bermata coklat.
"Aku tidak peduli dengan niat mu, tapi jangan pernah mempermainkan diriku. Rasa takut, cemas, ragu, dan keringat dingin. Apa kamu pikir, aku bodoh? Topengmu boleh memiliki wajah Nara, tapi isi hati dan pikiranmu terlalu licik."
__ADS_1
Rose menghempaskan dagu Naira. Langkahnya berjalan meninggalkan ruangan itu, sedangkan gadis bermata coklat meremas kertas yang tergenggam di tangannya. Gadis itu tidak percaya. Jika sikap tenangnya akan berubah menjadi kepanikan dan itu membongkar kebusukannya sebelum memulai perang.
Setelah terdengar suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Suara jeritan memekakkan telinga menggema di seluruh ruangan itu. Kegagalan yang didapatkan, membuat si gadis bermata coklat melepaskan topeng wajahnya. Dia pikir, rencananya menyamar menjadi Naira saudara Nara adalah yang terbaik.
Setidaknya, setelah mempengaruhi Rose. Maka, Riswan akan mengalami masalah besar. Ternyata prediksi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Wajah palsu yang dibuat dengan biaya mahal. Tetap saja tidak mengubah apapun, sedangkan Rose sendiri memilih untuk kembali ke kelas menahan emosi yang bergejolak di dalam hatinya.
Bagaimana bisa, tiba-tiba ada yang mengaku sebagai saudara Nara. Padahal sahabatnya itu anak tunggal. Terlebih, dia sering kali bermain dirumah Nara sekedar untuk mengerjakan tugas bersama. Memang benar, ada beberapa pakaian dan barang yang ganda. Tetapi, semua itu karena si sahabat sering kali membawa cadangan saat bepergian.
Disaat seluruh kenangan melintas. Langkah Rose terhenti. Di depan sana ada Riswan yang sedang berbincang dengan beberapa anak motornya. Ntah kenapa, hatinya berkata harus menghampiri si pemuda pembuat onar.
Tanpa berpikir panjang lagi, Rose melangkah kaki berjalan menuju keberadaan Riswan. Jarak yang semakin terkikis menambah rasa tidak sabar gadis bermata biru. Namun, disaat yang bersamaan. Ada langkah kaki yang menghadang berhenti tepat di depannya.
"What's?" tanya balik Rose tak paham, bukannya mendapatkan jawaban. Justru pemuda itu meraih tangannya, lalu menggandeng untuk meninggalkan lorong itu. Di saat semua terjadi begitu cepat. Riswan hanya melihat surai rambut panjang yang pergi berbelok ke arah lain lorong.
Sementara Rose masih tidak paham, kenapa pemuda yang selalu pendiam tiba-tiba saja peduli. Bukankah selama ini, pemuda itu sibuk tenggelam dalam dunianya sendiri? Kenapa menjadi aneh. Keduanya berhenti di taman kampus, sontak saja si gadis bermata biru mengibaskan tangan pemuda itu.
"Lex, ngapain kamu bawa aku ke sini? Aku perlu bicara dengan Riswan." kata Rose dengan suara tidak begitu keras, tetapi cukup terdengar jelas untuk Alex.
__ADS_1
Alex melepaskan tudung kepalanya, lalu membalas tatapan mata Rose yang memiliki amarah, "Loe itu terlalu baik. Waktu dibully masih diem. Waktu di tantang juga diem. Waktu di rusak semua barang, Loe juga masih diem. Rose, amarah itu cuma bisa berarti dua hal. Amarah dan dendam. Kalau loe, mau keadilan. Stay cool."
Pernyataan Alex, membuat Rose tak paham. Memang, dimana letak kekeliruannya? Apakah selama ini, pemuda itu menjadi pengamat? Jika iya, kenapa baru sekarang bertindak, bahkan memberikan teguran? Kenapa harus ada korban dulu.
Meski, dia pun salah. Selama ini, harusnya tidak menjadi cupu dan menunjukkan jati dirinya. Namun, siapa yang akan berpikir. Jika tragedi satu malam menjadi penyebab kepergian sahabat tercintanya. Tidak ada yang bisa membayangkan itu.
"Gue tau, Loe pasti penasaran kenapa baru kali ini, gue bertindak. Sebelum ada salah paham. Gue bakal perkenalkan diri sebagaimana identitas asli." Alex mengulurkan tangan kanannya, tapi Rose hanya menatap tangan itu tanpa mau menjabat, "Nama gue, Alex Han Yuan. Tuan muda dari keluarga Yuan."
Rose mengerjapkan mata. Apa pendengarannya baik? Mana mungkin, pemuda dengan penampilan lusuh, bahkan pelayan rumahnya saja berpakaian lebih baik. Tatapan mata tak percaya gadis itu, membuat Alex mengambil dompetnya. Kemudian menyerahkan sebuah kartu identitas.
"KTP asli dengan identitas asli." tukas Alex, Rose menerima dan membaca dengan teliti. Jika dari KTP, memang benar identitas itu asli.
Rose mengembalikan KTP milik Alex, "Jadi, apa tujuanmu membawa ku kesini dan menghalangi jalanku? Apa kamu mau menjadi partner atau justru menjadi musuh baruku?"
Pertanyaan Rose diabaikan karena tangannya sibuk memasukkan KTP ke dalam dompet kembali. Setelah memastikan aman, barulah tatapan matanya fokus menatap Rose. Gadis yang akhir-akhir ini menjadi objek pengamatannya.
"Gue bisa bantu untuk mencari bukti, tapi untuk itu. Gue mau, loe bantu sesuatu buat diri gue. Bagaimana? Tenang saja, permintaan dari gue, tidak sulit dan bisa dipastikan. Loe bisa ngabulin." Alex kembali mengulurkan tangan kanannya dengan harapan, Rose mau menerima tawarannya.
__ADS_1
Namun, sayangnya. Gadis bermata biru, justru berbalik, lalu berjalan meninggalkan taman. Akan tetapi, sebelum mencapai ujung taman. Rose menghentikan langkahnya, "Loe yang butuh bantuan gue. Bukan sebaliknya. Jadi, buktikan apa loe bisa kasih bukti malam pesta itu."