Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 120: Misi yang Direbut


__ADS_3

Semua orang terdiam, bukan karena mereka setuju dan sepaham dengan pernyataan gadis itu. Melainkan merasa tak penting untuk mendengarkan, kecuali bagi beberapa orang yang memiliki kewarasan. Selaput tipis antara pemahaman dan kebodohan dalam diri manusia.


Terkadang orang bersikap tahu segalanya, lalu mengumbar ini dan itu tanpa dasar dari ilmu pengetahuan. Sejatinya kehidupan hanya tentang pembelajaran. Ketika melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, orang cenderung gemetar takut ketahuan. Perlahan, tapi pasti waktu akan mengubah sebuah kenangan menjadi hal yang tak terlupakan.


Namun belum tentu, setiap orang akan memperbaiki kesalahan pertama mereka. Belum tentu juga, ada seseorang menasehati dan menunjukkan jalan yang benar. Kesadaran akan satu ketetapan yang tidak bisa terbantahkan. Selalu menjadi awal dari perbedaan sudut pandang.


Samsul kembali memulai permainan, tetapi begitu bola yang di dapat atas nama Rose Qiara Salsabila kembali. Pria itu hanya bisa garuk kepala yang tidak gatal karena was-was akan pilihan si gadis bermata biru. Mungkin pilihan justru akan menjebaknya dalam teka-teki yang tidak bisa memiliki jawaban.


Akan tetapi, sepertinya si gadis bermata biru masih tenang dengan seulas senyuman tipis menunggu bidaknya berhenti. Suara musik terhenti, membuat bidak milik Rose ikut bergeser dari posisinya. Kemudian sebuah gulungan keluar dari lubang.


''Tunggu!'' Samsul menghentikan pergerakan tangan Rose yang hampir saja menyentuh gulungan kertas, ''Apa kamu tidak ingin melemparkan bagian keduamu pada anggota lain? Misalnya Sarah, musuh utama mu dalam kehidupan ....,''


Belum usai ucapannya, gulungan kertas sudah berpindah ke tangan si gadis bermata biru. Tidak ada kata melarikan diri, apalagi menjadi pecundang. Dibukanya dengan hati yang tenang, ''Truth, mana yang lebih baik menjadi pelaku atau korban perundungan? Dare, cobalah balas rasa sakit hati pada musuh yang menghancurkanmu.''

__ADS_1


Seketika rasa sesak menyapa. Bagaimana akan menjelaskan antara kebenaran yang menyiksa hati? Akan tetapi, jika memilih dare. Tangannya terlalu berharga untuk melakukan dosa yang sama. Selama ini, hanya satu harapan yang menjadi impiannya yaitu meringkus semua pelaku pelecehan dan penyebab sahabat satu-satunya meninggal dunia.


Dari lubuk hati terdalam, jujur tidak ada niat untuk menumpahkan darah. Lalu, sekarang? Apa yang akan dilakukan? Tidak sanggup dengan apa yang akan terjadi, walau ia mampu mengatasi Sarah dan geng musuh dengan kekuatan tangan sendiri.


Diamnya Rose menjadi jawaban pasti. Sudah pasti gadis itu akan menolak misi kali ini. Samsul sudah mulai menghitung mundur, tapi si gadis mata biru masih termenung menggenggam gulungan kertas dalam api kegelisahan. Tiba-tiba, teman seruangan merebut kertas itu. Sontak saja mengejutkan. Ingin merebutnya kembali, tetapi gulungan kertas langsung disobek menjadi beberapa bagian.


''Hey, apa yang kamu lakukan? Itu misi untukku.'' cetus Rose, sayangnya tidak digubris oleh teman di ruangannya, membuat Samsul geleng-geleng kepala dan lainnya sibuk menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.


Wajah yang tertutup topeng dengan tudung yang melindungi kepala. Tidak ada aura yang menakutkan dari orang itu. Selain perasaan seakan mengenal begitu dekat. Namun, tidak ada jawaban yang bisa menjelaskan siapa teman seruangannya. Tatapan mata lugu dengan suara yang jelas bukan suara asli. Rose cukup tahu, bagaimana membedakan orang yang menggunakan identitas asli atau berpura-pura menjadi orang lain.


Nada suara yang sama, tetapi ada yang berbeda. Di dalam hati telah menyebutkan satu nama, tapi apakah mungkin? Tidak. Rose menggelengkan kepala. Sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan. Misi yang telah diambil, tidak bisa dikembalikan. Maka, kali ini tantangan kedua menjadi teman seruangannya.


"Kamu tahu, Aku senang bisa melihatmu lagi, Rose. Perjuanganmu tidak akan bisa kulupakan. Siapapun yang menjadi sahabatmu akan sangat beruntung. Hidupmu terlalu berharga untuk masuk ke dalam lingkaran gelap. Thank's for everything."

__ADS_1


Sungguh tidak paham, apa ia tidak salah dengar? Kenapa teman seruangannya berbicara mirip seperti mendiang sahabatnya? Dunia masih waras, kenapa logika menolak, tetapi hati menerima. Sebenarnya siapa orang itu? Ingin sekali melihat wajah yang tertutup itu, tapi bagaimana caranya?


Samsul melakukan seperti yang diinginkan oleh anggota yang mendapat misi. Dimana tiga ruangan dibuka, dan hanya kursi terpilih dengan bunyi bip yang bisa meninggalkan ruangan. Sarah, Della, dan seorang pemuda dengan topeng aneh menuju ruangan khusus. Ruangan yang hanya diselimuti oleh kabut putih nan tebal. Ketiga orang tidak mendapatkan apapun, sedangkan sang pemilik misi menerima kacamata khusus.


Melalui kacamata tersebut, pandangan matanya tidak terganggu. Ia bisa melihat seluruh isi ruangan, termasuk keberadaan dari ketiga musuh utamanya. Seluruh pintu ruangan terkunci, lalu semua mode silence kecuali ruangan khusus yang akan menjadi tempat dare dilakukan. Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi, tetapi suara degup jantung terdengar bertalu-talu.


Langkah kaki yang pasti, di antara kabut. Terdapat sebuah meja dengan banyaknya peralatan tajam dan beberapa alat medis. Bukan hanya racun, tapi penawarnya juga ada. Namun, di antara semua alat yang bisa digunakan tertera satu peringatan. Satu pilihan untuk satu nyawa. Tidak ada kesempatan kedua. Pilihlah yang terbaik untuk melepaskan emosimu.


Apakah itu clue? Sepertinya bukan. Suara bisik-bisik dari ketiga anak terdengar cukup jelas hingga beberapa saat hanya ada keheningan. Beberapa detik yang berlalu terasa semakin menegangkan. Tidak ada hembusan angin, anehnya kabut yang begitu pekat. Tidak menghalangi pernapasan siapapun yang ada diruangan itu.


"Satu di antara kalian adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas penderitaan seorang gadis. Satu hukuman cukup menjadi pembelajaran," Suara sendu dengan bibir bergetar tak kuasa menahan diri, tangannya sudah bersiap, terangkat ke atas, lalu diayunkan menyapa kulit mulus yang langsung terbalaskan lengkingan suara jeritan.


Tidak ada yang bisa melihat, kecuali ia yang menjadi sang pemilik misi. Jeritan pertama terus terdengar. Selama beberapa saat kehebohan bercampur ketegangan, hingga suara jeritan kedua terdengar memekakkan telinga. Namun, setelah beberapa waktu. Hanya ada keheningan. Apa yang terjadi? Beberapa kali Samsul mencoba untuk melakukan pengecekan suara. Akan tetapi, hasilnya nihil.

__ADS_1


Di tengah kegelisahan dan rasa takut. Kabut mulai memudar, meninggalkan ruangan yang hanya menyisakan Sarah, Della dan orang ketika, tetapi orang ke empat pergi kemana? Bagaimana mungkin menghilang begitu saja? Di sela rasa penasaran. Mereka dikejutkan dengan keadaan ketiga anak yang terlihat baik-baik saja, jadi apa yang terjadi ditengah kabut? Tidak seorangpun tahu.


Suara tamparan keras terdengar di ruangan lain. Geram akan sikap tak bertanggung jawab yang telah melewati batasan. "Apa kamu masih waras?"


__ADS_2