
Gadis itu merasa harus menyudahi apa yang telah ia mulai. Keraguan yang semakin menyudutkan hati. Janji dan ikatan seakan tak berarti lagi. Rose mencoba mengumpulkan keberanian untuk berjuang lagi. Entah apa yang akan ia hadapi setelah ini.
Kegalauan yang mendera, terus menjadi penempa semangat baru bagi Rose. Sementara di tempat lain, Sarah tengah murka. Gadis itu menikmati melihat hukuman yang diterima Della, darinya. Dimana sang gadis rambut sebahu harus berdiam diri di tengah kolam renang. Padahal sekarang waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
"Loe, itu gak ada bedanya ama Prita. Gak guna." Sarah mondar-mandir seraya menunjukkan jari ke arah Della, tatapan mata merah dengan tatapan tajam menusuk. "Gue kan udah bilang, buat eksekusi semua sebelum pemilihan senat di mulai. Eh, loe malah bikin drama tambahan. See, apa hasilnya."
"Sar, gak gini juga." Protes Della menghentakkan tangan hingga air menciprat, "Jangan gila deh, gue masih punya banyak rencana. Udahan ya, dingin nih."
Tidak ingin mendengarkan, Sarah menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Lalu bersenandung kecil. Gadis itu semakin membuat Della kesal dan geram. Bagaimana bisa, sahabat sendiri diperlakukan sedemikian rupa. Apa selama ini, dia kurang mengabdi? Andai saja Papanya tidak bergantung akan suplay keuangan untuk pembangunan klinik terbaru.
Perilaku Sarah yang tidak memikirkan orang lain. Meski itu sahabat yang selalu memberi dukungan. Hanya membuka seorang pria dari lantai atas tersenyum penuh arti. Sebagai seorang ayah, dia bisa melihat putrinya memiliki darah siapa. Namun, pria itu lupa diri. Jika kebodohan sang putri bisa menyeretnya ke dalam masalah yang besar.
Alih-alih memberikan nasehat agar Sarah bisa menjadi pribadi yang baik dan bertanggungjawab. Tuan Atmadja justru sibuk melakukan panggilan video bersama salah satu teman wanitanya. Tentu wanita bayaran, bukan wanita yang akan menggantikan posisi mendiang istrinya.
Ketidakwarasan ternyata menyebar di dalam rumah itu, begitu juga yang terjadi di sebuah rumqh sakit. Dimana Tuan Vincent berada. Papa Della yang berdiri di depan meja operasi. Tangan berlapis sarung tangan khusus berubah warna menjadi merah dengan aroma anyir yang menguar.
"Dok, pasien tidak bisa diselamatkan. Bagaimana dengan keluarga pasien?" tanya Suster nampak panik dengan kegagalan operasi yang sudah terjadi ke tiga kalinya dalam sehari.
Dokter Vincent menyunggingkan senyuman iblisnya di balik masker, "Laporan dari hasil operasi. Pasien mengalami gagal jantung. Operasi tidak bisa di lanjutkan. Waktu kematian pukul sembilan lebih delapan menit."
Suster pasrah, lalu mencatat seperti yang Dokter inginkan. Tangannya gemetar, bukan karena mayat di atas meja operasi. Melainkan mengingat semua tindakan sang dokter yang begitu tidak memiliki hati. Ingin sekali melaporkan, tetapi setelah semua yang ia dengar akan berita dirumah sakit. Nyalinya menciut.
Bagaimana tidak merinding disko. Jika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dokter Vincent tanpa hati membedah tubuh pasien yang masih memiliki setengah kesadaran. Sebagai suster sudah berusaha untuk mengingatkan, tetapi yang di dapat hanya umpatan.
__ADS_1
Siapa dia? Hanya seorang suster baru yang harus menggantikan tugas suster pendamping dari Dokter Vincent. Satu hari saja, rasanya berabad-abad. Rasa mual yang ditahan, bercampur aduk dengan emosi prihatin akan nasib pasien-pasien yang harus dioperasi.
Dunia ini memang indah, bahkan sangat indah. Semua akan indah, ketika menatap langit dipenuhi bintang. Namun, manusia melupakan untuk menundukkan pandangan. Sesekali melihat di bawah hanya ada tanah, dengan rerumputan yang terkadang begitu kering kerontang.
Seperti hembusan angin yang menerpa. Waktu berlalu tanpa kata. Apa yang terjadi di hari pemilihan senat periode kedua mengubah pandangan para mahasiswa. Selama beberapa hari, begitu banyak hal baru dalam kehidupan Rose.
Bukan hanya teman, tetapi beberapa dosen ikut menganggap dirinya ada. Alam berkata, musim kemarau telah berlalu berganti musim penghujan. Suasana dengan perubahan yang drastis.
Sayangnya, semua itu tak mengubah tujuannya. Selama para pendosa masih berkeliaran, ia tak akan berhenti mencari keadilan. Bagaimanapun, setiap pelaku harus mendapatkan hukuman setimpal. Meski untuk itu harus berjuang lebih keras lagi.
Kantin kampus. Disaat jam istirahat. Tiba-tiba seorang mahasiswa datang menghampiri Rose yang tengah menunggu pesanannya. Wajah dipenuhi lebam biru dengan bibir bengkak. Seperti baru mendapatkan kekerasan, tapi siapa dia?
"Boleh duduk?" Tanya mahasiswa itu, tetapi tatapan matanya terus kesana kemari takut akan sesuatu.
Setelah semua yang terjadi, ada rasa waspada dan tidak ingin gegabah. Apalagi, beberapa korban bully justru menolak keberadaannya. Maka, menjaga diri diharuskan. Sayangnya, pemuda itu mengabaikan air minum yang ia sodorkan.
"Aku Vino, salah satu dari geng motor Riswan. Apapun yang akan aku sampaikan, cuma kamu yang bisa membantu kami." Vino kembali menoleh kesana kemari, setelah memastikan aman. Dikeluarkannya secarik kertas, kemudian secepat yang ia bisa menaruhnya ke bawah tempat sendok.
"Datanglah ke tempat itu, di malam dan waktu yang sama. Kamu akan tahu, siapa saja yang menjadi dalang pelecehan Sahabat mu." Vino beranjak dari tempatnya, jangan sampai ada orang yang melihatnya menemui Rose, "Aku pergi dulu."
Rose menghela nafas panjang, ia tak percaya dengan sikap amnigu Vino. Bagaimana pemuda yang biasanya sibuk bermain mesin motor sport, tiba-tiba bernyali seperti tikus kecepit. Ada yang aneh, tapi apa? Sudut hati terdalam merasa iba dengan wajah babak belur pemuda itu. Namun, akal sehat mencegahnya untuk percaya.
Tak ingin mengambil kesimpulan begitu dini. Diambilnya kertas yang bersembunyi di bawah tempat sendok, lalu membuka lipatan kertas tersebut. "Bukankah alamat ini berdiri sebuah gedung pusat olahraga? Yah, seingatku salah satu anak pak Satpam menjadi guru di yoga disana."
__ADS_1
"Tunggu dulu." Rose mencoba mencari celah akan keraguan hatinya, "Apa sebaiknya aku tanya saja ya? Tapi waktu yang ditentukan besok malam. Apakah di gedung olahraga bisa melakukan pertemuan di malam hari, ya?"
Tak ingin gegabah. Rose mencari semua informasi tentang gedung tersebut. Dari mulai waktu buka, kegiatan, anggota dan lain sebagainya. Tidak ada yang tertinggal. Semua didapatkan dengan mudah hingga beberapa nama dari deretan keanggotaan menarik perhatiannya.
'Baiklah. I want see," Rose tersenyum simpul, lalu kembali memasukkan ponselnya.
Sang waktu tak meminta janji. Melainkan sebait harapan para manusia. Ketika takdir mempertemukan kebenaran di dalam kepalsuan. Maka dunia berselimut kabut keegoisan. Terlalu dangkal untuk memahami, tetapi terlalu sederhana untuk menjabarkan.
Apa arti perjuangan dan pertolongan? Ketika alam tak merestui. Rose merelakan masa lalu, tetapi tak ingin melepaskan para pelaku. Ini bukan sekedar perjuangan, tetapi pencarian jari diri akan kehidupan.
"Aku mau, kampus kita damai. Semua mahasiswa bisa saling berbagi seperti sahabat atau bisa menjadi saudara. Rose, apakah harapan itu bisa terwujud?" tanya Nara dengan wajah sendu menatap lapangan basket di saat menikmati hukuman dari salah satu dosen.
.
.
.
.
Jangan lupa sebarkan semangat ya, ke karya temen othoor.
__ADS_1