
Tanpa keduanya sadari. Semua perbincangan di dalam toilet itu. Sudah terekam karena ada perekam yang tersembunyi. Siapapun yang memulai memberikan efek jera. Pasti orang itu memiliki rencana untuk mengumpulkan bukti secara perlahan.
"Sarah, sebenarnya ada yang gue tahu, tapi mungkin ini belum pasti. Jadi tunggu satu atau dua hari lagi, ya. Pasti nanti, gue kasih tahu." ucap Della terdengar ambigu membuat Sarah menatap temannya tak paham dan bingung.
"Lo, kok nggak jelas, sih. Lo itu, sebenarnya mau ngomong apa? Mau jujur soal apa? Tinggal ngomong aja, kok, ribet." ujar Sarah benar-benar tak bisa menahan lagi amarahnya.
Della tersenyum tipis. Gadis itu ingin semua jelas terlebih dahulu. Apa yang ada di dalam pikirannya hanya bukan sekedar sebuah pemikiran tanpa bukti yang nyata. "Sar, percaya deh ke gue. Gue, nggak akan bohong sama, Lo. Apalagi berkhianat. Jadi, lo tenang aja karena gue bakalan kasih tahu. Setelah semua udah clear."
"Oke, tapi ingat. Kalau lo macam-macam sama gue. Lo juga tahu apa akibatnya karena gue nggak akan biarin. Siapapun bermain di belakang termasuk temen gue sendiri.Ya, udah kita cabut dari sini," Ajak Sarah ingin menggandeng tangan Della, sayangnya tangannya ditepis oleh sang gadis rambut sebahu.
"Lo, keluar dulu. Gue mau beresin ini tulisan yang di kaca. Nggak mungkin 'kan, gue biarin semua orang lihat hal yang sama. Lagian, gue masih free. Sementara lo harus ikut pemilihan senat. Jadi, lo aja dulu yang keluar dan gue habis ini keluar. Setelah semua beres, oke." jawab Della membiarkan Sarah untuk meninggalkan dirinya sendiri di dalam toilet.
Sarah tak menjawab apapun yang Dela katakan. Ia hanya meninggalkan temannya dari dalam toilet, lalu kembali ke lapangan. Dimana para mahasiswa berkumpul. Terlihat banyak sekali orang-orang yang masih sibuk menatap para kandidat senat di depan.
__ADS_1
Akhirnya pidato para calon senat berakhir dan kini para mahasiswa tengah berkumpul melakukan voting dengan memberikan centang pada kertas yang dibagikan anggota senat resmi. Bisik-bisik para mahasiswa untuk memilih siapa yang akan menjadi senat baru terdengar begitu rame membuat mahasiswa ikut bertegur sapa.
Sementara para calon senat memilih untuk tetap duduk di tempat masing-masing. Termasuk Rose, tapi Sarah baru saja kembali dengan wajah yang begitu tegang. Lirikan mata gadis itu, tertuju pada musuh utamanya. Siapa lagi jika bukan Rose sedangkan yang ditatap sibuk bermain ponsel.
Sarah merasa saat ini, dirinya ada yang mengawasi. Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas. Mungkinkah, Rose yang memberikan ancaman? Rasa penasaran itu semakin menggebu-gebu dan dia tak segan untuk menyenggol teman disampingnya dan bertanya sesuatu yang terdengar aneh.
"Hei, apa selama acara, Rose ada ditempat pidato?" tanya Sarah menatap teman beda kelas yang duduk di sebelah kursinya.
"Rose, gadis itu? Dia ada di sini, bahkan tidak kemana-mana. Kamu sendiri dari mana? Bukankah kamu juga mewakili kelas yang sama dengan gadis itu." tanya balik dari calon senat lain kelas itu.
Disaat tatapan matanya tajam. Ada wajah yang sangat familiar di antara semua orang. Akan tetapi dua orang itu orang terdekatnya. Orang pertama adalah Prita dan yang kedua adalah kekasihnya Rizwan.
Diantara keduanya, siapa yang ingin melihatku terluka? Jika tentang Riswan sepertinya tidak mungkin. Pria itu masih mendukung dan juga setia padaku. Itu artinya cuma satu yang tersisa yaitu Prita. Tidak mungkin orang lain lagi.~ batin Sarah masih berpikir untuk menemukan musuh utama yang bermain di balik layar.
__ADS_1
Rektor Wisnu bangun dari tempatnya. Kemudian berjalan menghampiri ke tempat podium berada. Pria itu terlihat begitu tegas dan juga berwibawa. Para mahasiswa hanya melihat dan menunggu. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Selamat siang, Anak-anak. Semua kandidat senat telah berpidato memberitahukan visi misi masing-masing. Mari, kita lanjutkan ke sesi selanjutnya. Kita akan memberikan kertas pemilihan pada setiap mahasiswa dan silahkan kalian pilih. Seperti yang kalian harapkan dan kalian percaya. Ingat satu hal, siapapun yang terpilih nanti. Dialah yang akan mewakili semua mahasiswa untuk membuat Regal Academy kembali berjaya. Sukses untuk kita semua."
Pidato Pak rektor Wisnu terdengar begitu baik dan bertanggung jawab, tapi tidak dengan isi hati dan pikirannya. Pria itu sudah menyiapkan sesuatu untuk kejutan yang harus ia lakukan. Senyuman di bibirnya terlihat tulus tapi tidak dengan apa yang tersembunyi dinding hati sang kepala rektor.
Berapapun jumlah yang akan keluar nanti. Semua akan tergantung pada penilaianku
Baik itu dari segi demo pidato ataupun untuk pemilihan. Kursi senat pada akhirnya nanti hanya aku yang menentukan. Aku sudah memilih senat itu sendiri dan tak seorangpun bisa mengubahnya. Meskipun mereka menggunakan cara apapun.~batin Rektor Wisnu masih mengembangkan senyuman manis yang bisa kita sebut sebagai senyuman palsu.
Diantara para mahasiswa dan dosen terlihat seseorang tengah mengamati segala sesuatunya dengan teropong dari arah jauh. Orang itu terlihat begitu tenang dan tak ingin melakukan apapun. Kini yang dilakukannya hanyalah menyimak. Tiba-tiba saja ada tangan yang menepuk bahu sang pengawas.
"Gimana, apa semua aman?" tanya orang yang baru datang.
__ADS_1
"Sip. Aman, Bos." jawab sang pengamat sembari mengacungkan jempolnya, tanda mengiyakan semua memang baik-baik saja.
"Oke, lanjutkan! Aku harus kembali ke tempat selanjutnya dan kamu pastikan semua berjalan lancar. Ingat pekerjaan kita adalah untuk menjaga segalanya tetap baik. Orang yang baru datang itu, meninggalkan si pengawas, sedangkan si pengawas masih stay di tempat persembunyian. Meskipun, ia harus menikmati panasnya terik matahari saat ini.