
Rose menerima gitar yang menjadi salah satu alat musik favoritnya. Siapa lagi yang memberikan, jika bukan sang mommy. Wanita itu, selalu tahu apa yang dia butuhkan. Sekarang, biarlah irama menjadi penyejuk hati. Walau terhalang kabut kebencian.
Rose memangku gitar, lalu mulai memetiknya dengan jemari yang lincah. Alunan nada lagu dari penyanyi Tulus – Manusia Kuat. Suaranya begitu merdu, bahkan Justin ikut bernyanyi bersama. Lagu yang memberikan semangat kepada hati yang dipenuhi rasa takut dan belenggu keputusasaan.
Lagu yang sangat tepat menyudutkan para mahasiswa. Mereka mendapat sindiran dengan cara sederhana. Dimana Rose menunjukkan jalan kebenaran tanpa menggunakan kekerasan. Siapa sangka, lagu yang sangat menginspirasi mengubah wajah para mahasiswa kembali sadar diri.
Sementara Sarah menghentakkan kaki, bahkan gadis itu tak sungkan melayangkan tamparan keras yang menyentuh pipi kiri Della. Kemudian pergi meninggalkan halaman kampus. Entah kemana langkah kaki membawanya pergi.
Suasana kampus semakin kondusif, pemilihan senat bukan lagi tentang tantangan atau perebutan kursi jabatan. Rose memenangkan hati para mahasiswa yang masih stay mendengarkan lagunya, sedangkan Della sibuk memikirkan cara untuk menghentikan semua itu.
Namun, hingga lagu berakhir. Tetap saja, tidak bisa melakukan apapun selain menjadi penonton serta pendengar setia. Rose tak mengubah tujuannya, tetapi para mahasiswa berganti harian arah. Tidak ada yang peduli dengan kepergian Sarah. Jadi untuk apa tetap berada ditempat yang sama dengan gadis cupu?
"Della!" panggil Rose, sontak menghentikan langkah gadis rambut sebahu yang sudah berbalik bersiap meninggalkan halaman. "Bawa Sarah kembali ke ruangan aula dan ya, katakan pemilihan masih berlangsung. Setiap mahasiswa memiliki hak untuk memilih ketua senat yang akan menjadi wakil mereka."
Pengumuman terbuka yang dilakukan Rose terdengar begitu meyakinkan, tetapi Della mengabaikannya. Lalu kembali berjalan meninggalkan lapangan. Sementara para mahasiswa mengikuti instruksi seorang dosen yang membawa mereka kembali ke ruang Aula untuk melanjutkan pemilihan senat.
Satu jam berlalu. Namun Sarah tidak menampakkan batang hidungnya, begitu juga dengan Dellaa. Ketidakpastian membuat para mahasiswa mulai sibuk berbisik. Banyak yang menyayangkan pemilihan berakhir begitu saja. Apakah semuanya benar-benar berakhir?
Melihat situasi yang sudah tidak kondusif lagi. Akhirnya Rektor Wisnu berusaha untuk meyakinkan Queen dan para juri lainnya menyudahi pemilihan senat atau menundanya saja. Namun, Queen menolak dengan keras karena tidak ingin semua berakhir begitu saja. Kenyataan sudah ada di depan mata.
Sarah bukan calon pemimpin yang akan bertanggung jawab. Maka, Queen telah menetapkan keputusannya. Dimana mereka akan melakukan pemilihan ulang dengan cara adil. Tentu setelah direncanakan. Kini pihak kampus harus selalu memberi laporan dan semua kebijaksanaan baru harus melewati seleksinya.
Begitu juga dengan pemilihan senat yang akan dibatalkan. Ini bukan keputusan dari satu pihak saja. Queen telah memikirkan semuanya. Lagi pula, apa gunanya sistem memiliki struktur kepemimpinan bahkan staf juga? Jika masih terjadi ketidakadilan di dalam kampus. Apalagi sistem pendidikan yang juga perlu dibenahi.
Singkat cerita, hari ini berakhir tanpa ada pemimpin baru. Queen meninggalkan kampus setelah memberikan ultimatum pada seluruh jajaran dan juga para mahasiswa. Untuk pemilihan senat akan diulang serta ditetapkan syarat dan ketentuan yang bisa menjamin segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
Pada malam harinya, Rose hanya terdiam termenung di depan jendela kamarnya. Tatapan mata keluar menembus awan cakrawala. Sesuatu yang mencoba menerobos pikiran, berusaha menguasi emosinya. Dulu ia mengira dengan pemilihan senat akan mendapatkan setengah dari kemenangan.
Lihatlah, semua berakhir tanpa ada pemenang. Andai dirinya menjadi pemenang, maka ia bisa memperbaiki sistem ketidakadilan yang ada di kampusnya. Akan tetapi, tak menyangka semua itu hanya angan belaka.
__ADS_1
Ternyata niatnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Perasaan, pikiran yang selalu meminta pertanggungjawaban, tetapi ia menyadari satu hal lain. Dimana kekuasaan sangat penting untuk meningkatkan kehidupan di dunia ini.
Apalagi ketika melihat pengaruh dari Sang Mommy sendiri yang sangat begitu dihormati dan juga ditakuti. Terkadang ia ingin mencoba mengikuti jejak mommy nya, tapi apakah itu langkah yang benar dan tepat? Satu fakta tak bisa diubah. Dia dan mommy, bukan orang yang sama.
Bukan hanya serba salah menjadi putri seorang mafia, tetapi ini juga mukjizat atau bisa disebut keajaiban atau bisa juga orang mengatakan anugrah. Namun, tidak ada yang tahu arti kehidupan seorang Rose. Selain keluarganya sendiri.
Ketika orang berlomba-lomba untuk mendapatkan fasilitas yang baik dengan bekerja keras. Dia tak perlu repot berusaha sekeras itu. Apapun yang diinginkan, bisa dia dapatkan. Tentu dalam arti yang baik saja. Maka, satu keharusan untuk menjadi diri sendiri menikmati kebebasan.
Apakah ini yang disebut dengan hukum alam? Rose menikmati apa yang sudah keluarganya usahakan. Entahlah, kenapa semuanya menjadi kacau balau, bahkan ia tak bisa memahami apa yang harus dilakukan dan kenapa melakukan semua itu.
Bintang di langit malam tak selalu menghiasi malam, tetapi sinar harapan akan selalu tinggal di dalam hatinya. Ia tahu, saat ini di atas sana sang sahabat tengah menanti keadilan untuk tetap diperjuangkan.
Apakah semua yang diharapkan akan terjadi? Sungguh dia tidak tahu. Saat ini semua tak berjalan baik. Dari satu bukti ke bukti yang lain, sudah ia kumpulkan. Hanya saja, tak kunjung menemukan titik terang. Semua seperti kabut yang terus menutupi kebenaran.
"Rose, are you okay? Buka pintu, Mommy ingin masuk." kata Asfa mencoba membujuk sang putri yang sudah hampir dua jam terus saja berdiam diri di dalam kamar.
Mendengar suara Sang Mommy memanggilnya. Rose mengambil remote dari atas nakas yang berada di belakangnya, lalu membuka pintu dengan remote control, kemudian membiarkan wanita itu masuk ke dalam. Entah apa yang akan dibicarakan, tapi akan didengarkan.
"Mommy, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rose tak ingin membuat asumsi sendiri karena wanita di depannya akan bisa menebak seluruh isi hati dan pikirannya.
Tangannya terangkat mengusap lembut pipi sang putri, "Senyumlah!" Senyuman tersungging menghiasi bibirnya, "Rose, apa yang membuatmu begitu sedih? Apakah ini karena kematian Nara atau karena kamu gagal melakukan semua yang telah kamu rencanakan."
"Entahlah, Mom. Aku merasa semua yang terjadi selama beberapa bulan ini, seperti sia-sia. Semua orang tak menganggap aku ada. Mom, jika aku pergi begitu saja. Apakah mereka masih bisa mengingatku?" Rose memberikan pernyataan yang sebenarnya itu memang untuk dirinya sendiri, di sertai pertanyaan bukan untuk mendapatkan jawaban karena jawaban itu ada padanya.
"Rose, orang jatuh sudah biasa. Orang tertatih juga biasa, tetapi orang yang mau bangkit lagi. Baru luar biasa. Percayalah ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain terbuka. Apa kamu paham?"
"Apakah benar begitu, Mom?" sahut Rose mencoba merajut harapan lagi.
Gadis itu merasa harus menyudahi apa yang telah ia mulai. Keraguan yang semakin menyudutkan hati. Janji dan ikatan seakan tak berarti lagi. Rose mencoba mengumpulkan keberanian untuk berjuang lagi. Entah apa yang akan ia hadapi setelah ini.
__ADS_1
.
.
.
.
Sembari menunggu update karya ini, yuk sebarkan semangat, mampir dikarya temen othoor.
.
.
.
Tubuh Lily membeku saat melihat Ibu tiri bersama dengan seorang pria yang tak ia kenal.
'Apa ibu selingkuh dari Ayah?' batin Lily mengikuti ibu tirinya itu yang pergi bersama dengan seorang pria dengan mobil mewahnya.
Lily terus mengikuti mereka hingga keduanya masuk di sebuah hotel mewah. Lily mengikuti mereka hingga masuk salah satu kamar.
"Aku harus beritahu ayah," gumamnya mengambil ponselnya. Namun, tiba-tiba ibu tirinya merampas ponselnya.
"Lupakan apa yang kamu lihat hari ini, jika kamu sampai melaporkan pada ayahmu, kamu akan menyesal." Ancaman Delisa, ibu tiri Lily.
Akankah Lily melaporkan semua itu?
Apakah Lily hanya diam melihat perselingkuhan ibu tirinya?
__ADS_1