
Kalian itu terlalu pemarah. Bahkan tanpa kalian sadari, setiap gerakan dan pembicaraan bisa didengarkan tanpa harus bersusah payah. Welcome to my life....,"
"Setiap tindakan harus memiliki langkah cadangan. Apa kamu lupa itu?"
Suara tegas dari arah belakang, membuat gadis yang berdiri di depan kaca pembatas berbalik. Tatapannya bertemu dengan netra tenang tetapi penuh kasih sayang. Senyuman tipis menghiasi bibir alami pemilik wajah bule yang kini menjadi idola dadakan di kampusnya.
"Disini hanya ada kita, apa kamu terlalu berat menyambut papamu?" sambung Vans dengan tangan yang masih bersembunyi di balik saku celana.
"Pa, for what? Come on....,"
Vans paham putrinya ingin menjaga jarak. "Pulanglah! Mommy mu menunggu di mansion, dan ya. Pakai saja motor punya papa di parkiran."
"WHAT'S? Pa, bagaimana....,"
Rose tak bisa membantah ketika kunci sudah diserahkan ke tangannya. Namun, mana mungkin ia akan membongkar identitasnya semudah itu? Tidak! Apapun rencananya baru saja dimulai, itu berarti tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.
"Aku akan pulang, tapi pakai taxi seperti biasa." Rose mengembalikan kunci motor ke papanya. "Next, aku akan memakai motorku sendiri. Love you, Pa."
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Rose berlalu meninggalkan Vans. Kepergian sang putri mengubah ekspresi wajah pria bule itu menjadi datar dan dingin. Sejak ia berbicara manis, perasaannya mengatakan ada seseorang yang menguping pembicaraan. Siluet bayangan dari sisi kiri menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"KELUAR!" titah Vans tegas, membuat bayangan itu semakin membesar, lalu langkah kaki dengan sepatu buluk putih berhenti di sampingnya. "Menguping bukanlah hal baik, apa kamu sadar itu?"
"Pak, saya tidak bermaksud menguping." jawab mahasiswa yang harus menahan rasa takutnya.
"Jika kamu ingin hidup tenang. Jauhi dunia Rose, dan jangan coba ikut campur. Apapun yang kamu dengar, lupakan. Pergilah!" jelas Vans tanpa basa-basi, membuat mahasiswa itu bernafas lega.
"Permisi, Pak." pamitnya dengan langkah menunduk berjalan melewati dosen barunya.
Langkahnya terasa beras, tetapi masih dipaksakan untuk berjalan meninggalkan tempat mencekam itu. Hingga suara dari belakang menghentikannya.
"Alex Han Yuan." Ucap Vans seraya menyilangkan kedua tangannya di dada, begitu mahasiswa di depannya berbalik. "Setiap orang memiliki identitas masing-masing. Sebagian penuh misteri, dan sebagian lagi sangat nyata tanpa ada rahasia. Bukan begitu, Tuan Muda?"
Pernyataan Vans membuat mahasiswa itu tegang dengan keringat dingin. Meskipun ia memakai sweater besar dan juga kepala tertutupi topi. Tetap saja perubahan reaksinya tidak bisa dipungkiri. Penampilan yang sangat kumuh, bahkan terlihat seperti mahasiswa kalangan bawah. Siapapun yang melihat pasti memilih menjauh dari pria satu itu, lebih buruk lagi adalah kehadirannya tidak dianggap ada di kampus regal academy.
Bisikan intimidasi Vans, membuat mahasiswa itu tertegun dengan kepalan tangan menahan rasa yang bergejolak di dada. Untung saja semua terjadi hanya dalam hitungan detik. Kepergian dosennya memberikan oksigen yang segar. Tetapi tidak dengan degup jantung yang kini berpacu terlalu cepat. Terlebih satu kenyataan yang selama ini ia sembunyikan tiba-tiba saja ada yang tahu. Bagaimana mungkin? Setelah semua penelitian, hanya kampus Regal Academy yang bisa menjadi tempat persembunyiannya.
"Apa sudah waktunya aku kembali ke penjara rumah?" Alex berargumen pada dirinya sendiri dengan kaki kanan terhentak pelan. "Tidak! Aku lebih baik hidup tanpa makanan, daripada kembali menjadi tawanan istana emas."
Pikirannya seketika terbagi. Memikirkan setiap kemungkinan masa depan yang akan terjadi. Setiap ucapan dan ancaman dosennya menjadi pemicu kesadarannya. Perjuangan yang ia lakukan sedikit lagi akan berakhir. Menjauh dari masalah menjadi solusi terakhir. Setelah hati dan pikirannya berperang, Alex meninggalkan tempat intimidasi dan kembali melakukan kegiatan belajar.
__ADS_1
Suara langkah kaki mengendap-endap menapaki setiap anak tangga dengan sorot mata kesana kemari seperti pencuri saja. Helaan nafas lega terdengar cukup jelas hingga langkahnya terhenti ketika mencapai kamar. Satu putaran knop pintu yang langsung didorong ke depan menampilkan pemandangan kamar indah dengan kesejukan beraroma buah-buahan.
Ceklek!
"Huft, aman." Ucapnya, hingga tatapannya terhenti pada kibaran tirai pintu balkon di depan sana.
Kibaran tirai putih pintu balkon yang terbuka menyita perhatiannya. Sontak ia menelusuri seluruh sudut kamarnya. Semua masih rapi di tempat tanpa ada yang bergeser sedikitpun. Lalu, siapa yang membuka pintu balkon. Niat hati ingin berjalan mencari tahu. Namun suara langkah kaki terdengar mendekat dari balkon.
"Mari kita bicara."
...----------------...
Setiap manusia memiliki dua sisi.
Sisi baik dan sisi jahat.
Pada dasarnya, siapapun bisa menjadi pribadi yang sangat baik ataupun sangat jahat.
Jangan berpikir terlalu sederhana ataupun terlalu dalam ilusi. Kenyataan di depan mata, masih memiliki kebenaran tersembunyi.
__ADS_1
Penampilan cukup memberikan penipuan nyata.
...----------------...